“Hebat anakmu, Kak. Sehat, hidungnya mancung lagi. Wah, pokoknya ganteng,” ujar seorang gadis kepada — nama samaran — Bunga (33). “Iya, suaranya kuat, nangis terus sambil isap jari. Benar-benar mujizat Tuhan,” tambah seorang gadis lainnya. Keduanya duduk di kursi menemani Bunga yang terbaring di Rumah Sakit HKBP Balige, Kamis (15/6) pukul 10 malam, saat wartawan tiba.
Jarar Siahaan; Balige; Blog Berita
Bunga, guru di salah satu SMK di Balige, Tobasa, dengan raut wajah senang mendengarkan kedua teman kosnya itu. Ia tak bisa menyembunyikan rasa takjubnya. “Masak sih? Aku nggak nyangka lho. Aku pikir tadi kami berdua sudah mati.”
Beberapa saat sebelumnya, sekitar pukul 9 malam itu juga, wanita yang sudah menjanda ini melahirkan bayi pertamanya dengan cara tidak wajar: dalam parit di pinggir jalan raya, tidak jauh dari kantor PLN Balige. “Aku keluar rumah sendiri, berjalan kaki, mau cari bidan atau dokter. Perutku agak sakit,” katanya bercerita.
Tapi belum sampai di tempat bidan, tiba-tiba ia merasakan perutnya semakin mules. Tubuhnya mulai berkeringat.
Ia lemas, lalu duduk di tepi jalan. Entah bagaimana ia sudah berada dalam parit. Hanya beberapa menit keluarlah seorang bayi laki-laki dari rahimnya. Si mungil itu sempat terjatuh ke parit — yang airnya mengering. “Talinya (plasenta-Red) kuputus pakai tangan. Ia jatuh ke parit. Tangisnya kuat sekali.”
Tidak ada orang yang melihat proses partus ganjil ini, sebab tempat itu tidak terlalu ramai pada malam hari. “Lagipula perasaanku cuma sebentar saja.” Dalam kondisi sadar ia segera menggendong bayinya. Ia spontan berpikir untuk ke rumah sakit. Becak pertama yang disetopnya tak mau membawanya karena takut berurusan dengan polisi. Ada juga dua-tiga pejalan kaki yang mengiranya orang gila. Seorang pengemudi becak yang masih lajang kemudian bersedia mengantarnya.
Dalam perjalanan ia terus menutupi si bayi yang berlumuran darah di balik jaketnya. Setiba di gerbang rumah sakit, ia turun dan berjalan normal menuju unit gawat darurat. “Biasa saja, seperti tidak ada apa-apa. Setelah terlihat ada darah menetes, barulah kami tahu dia sedang memegang bayi. Bah, naung luar biasa do itoani puang. Boi ibana gogo mardalan maniop pese-pese nai (Sungguh luar biasa wanita ini. Dia sanggup berjalan membawa bayinya-Red),” kata seorang pegawai RS HKBP Balige.
Petugas medis memeriksa si ibu dan bayinya. Ternyata keduanya sehat. Bunga hanya diberi vitamin berupa cairan infus. Sedangkan Si Ucok — sebutan untuk bayi laki-laki — sama sekali tidak diberi infus karena memang fisiknya sehat. Ia diberi minuman susu bubuk. Mereka tidak sekamar. Ucok ditempatkan dalam sebuah kotak kaca khusus.
Wartawan melihat langsung bayi bernasib mujur itu. Hidungnya mancung, bibirnya sangat merah, kulitnya putih, tangisnya kuat. Kata perawat, beratnya 2,5 kg dan panjang 47 cm. Ucok sudah cukup umur untuk dilahirkan. Rambutnya memang sudah tumbuh, dan hitam. Kaki dan tangannya bergerak-gerak ketika menangis. Matanya juga sesekali terbuka. Para perawat senang dan gemas melihatnya.
Meskipun bahagia sudah punya anak, Bunga tetap merasa malu. Tak lain karena statusnya sebagai janda. Ia pernah menikah secara resmi di gereja, diikuti acara adat, pada tahun 2000. Tapi belum sempat punya anak, 10 bulan kemudian suaminya meninggal karena kecelakaan lalu-lintas. Sejak itulah ia tinggal di sebuah rumah kos di Balige dan mengajar di sebuah sekolah.
Bunga sangat senang anaknya lahir dengan selamat. Apalagi mendengar cerita kedua teman kosnya yang mengagumi bayinya. Bibirnya beberapa kali melebar membentuk senyum. Matanya berbinar-binar. “Benar juga kalian bilang, ini mujizat dari Tuhan. Ternyata kami berdua masih hidup,” kata janda berparas ayu ini, sambil mengusap-usap perutnya sendiri dengan tangan kanan.
“Wajarlah anakku ganteng,” sebut Bunga lagi, “meniru bapaknya.”
Siapakah gerangan ayah bayi cakep ini?
Ayah Bayi Cakep itu Seorang Petani
“Wajarlah anakku ganteng, meniru bapaknya.” Itu yang dikatakan Bunga (33) — nama samaran — guru sebuah SMK di Balige, Tobasa, yang spontan melahirkan bayinya di parit jalan pada Kamis malam. Ucapan janda yang ditinggal suami karena kecelakaan pada 2001 ini memang tidak berlebihan. Ayah dari bayi laki-laki berhidung mancung itu ternyata memang ganteng.
Dia seorang petani di Desa Sianipar Sihailhail, Kecamatan Balige. Usianya sebaya dengan Bunga. Pria bujangan itu — sebut saja namanya Poltak — tinggal sendiri dalam sebuah rumah papan. Ibunya tinggal di Jakarta bersama saudaranya, sedangkan ayahnya sudah tiada. Selain bertani, dia juga membuka warung rokok tidak jauh dari rumahnya. Menurut orang di kampung itu, Poltak seorang pemuda yang baik dan rajin bekerja. Dia juga bukan seorang perokok.
Meskipun tidak berkulit putih, Poltak memang ganteng. Hidungnya mancung seperti bayinya. Tinggi dan postur tubuhnya ideal. Sorot matanya ramah. Cara berbicaranya sangat santun. Pilihan tutur-katanya membuat lawan bicara cepat akrab. Terkesan dia seorang berhati polos. Sementara sang kekasih, Bunga, juga cantik. Dia berkulit putih dan berhidung mancung.
Kini keduanya sudah tinggal bersama di rumah Poltak di Sihailhail. Bunga cuma satu hari berada di rumah sakit. Pada Jumat siang dia dan bayinya sudah diperbolehkan dokter pulang. Tujuannya tidak lagi ke tempat kosnya, tapi langsung menuju rumah Poltak. Wartawan menjumpai mereka Sabtu (17/6) sore.
Baik Poltak maupun Bunga sama-sama mengaku sudah berteman hampir dua tahun lamanya. Perkenalan pertama mereka di gereja. Kebetulan keduanya selalu mengikuti kebaktian Minggu di gereja yang sama. Poltak-lah yang sering mengunjungi Bunga di tempat kosnya di Kota Balige. “Dia sering datang pakai Vespa,” ujar Bunga.
Percintaan keduanya membuahkan janin yang tidak pernah diketahui Poltak. “Makanya saya sangat terkejut waktu malam itu ada pihak keluarganya yang datang ke sini memberitahukan kalau bayinya lahir di pinggir jalan. Sedikit pun saya tidak pernah tahu kalau dia hamil,” kata Poltak. Bahkan sehari sebelum peristiwa itu mereka masih bertemu, tapi Bunga tidak juga bercerita soal kandungannya.
Menurut janda ini, dia memang sengaja tidak memberitahu siapa pun. Rekan-rekannya guru, kepala sekolah, dan teman kosnya, yang sudah mengunjungi mereka kemarin, juga tidak menyangka sama sekali. Itu karena perut Bunga tidak terlalu membesar. “Tidak ada seorang pun yang tahu saya hamil.”
Bunga, yang pada Kamis (15/6) malam berjalan kaki hendak mencari bidan, tiba-tiba melahirkan bayi laki-lakinya dalam parit, tidak jauh dari kantor PLN Balige. Dia memutus tali plasenta si bayi dengan tangannya sendiri. Dengan menumpang becak dia membawa bayi itu ke RS HKBP Balige. Menurut pihak rumah sakit, Bunga dan bayinya sehat.
“Tapi kok mahal sekali ya. Padahal cuma satu hari,” protes mereka. Biaya yang mereka bayarkan ke rumah sakit Rp 779 ribu. Bunga masuk ke rumah sakit sekitar pukul 9 malam dan keluar besok siangnya. Dia diberi tiga botol infus dan sejumlah vitamin berbentuk pil. “Cuma sempat makan dua kali.”
Kini, di rumah sederhana di Desa Sianipar Sihailhail yang sejuk, Bunga dan Poltak bersama-sama akan membesarkan bayi mereka. Poltak tampak sangat penyayang, baik kepada calon istri maupun bayinya. Beberapa kali anak itu menangis di kamar, Poltak langsung berdiri menghampiri.
“Doakan ya Lae, semoga dia sehat-sehat dan panjang umur,” ujar Poltak, mengaku belum mempersiapkan nama untuk anak mereka. Karena sudah tinggal serumah, akankah pasangan ini segera menikah? Bagaimana reaksi orangtua mereka?
Orangtua Bayi Yang Lahir di Parit Segera Menikah
Kedua orangtua bayi yang lahir di parit jalan, Poltak (34) dan Bunga (33) — keduanya nama samaran — akan menikah dalam waktu dekat. Mereka sudah berbicara dengan pihak pengetua gereja. “Kira-kira dalam dua minggu inilah,” ucap Poltak saat ditemui wartawan di rumahnya di Desa Sianipar Sihailhail, Kecamatan Balige, Kabupaten Tobasa, Sabtu (17/6) sore.
Mereka tidak bisa langsung menikah secara resmi di gereja karena si calon istri terlanjur melahirkan lebih dulu. Menurut kebiasaan gereja mereka, untuk bisa dinikahkan, keduanya harus terlebih dahulu melewati tahap yang disebut sebagai manopoti. Ini semacam pengakuan dosa. “Ikkon jolo manopoti ma hami (Harus lebih dulu manopoti-Red).”
Poltak menceritakan, dirinya sempat merasa kurang enak karena ada orang yang terkesan memaksanya untuk segera menikahi Bunga, janda yang sehari-hari bekerja sebagai guru salah satu SMK di Balige. Pada malam beberapa jam setelah Bunga melahirkan bayi laki-laki, Kamis (15/6), sejumlah keluarga dekat Bunga datang ke rumah Poltak. Saat itu dia sudah tidur. Mereka sempat marah-marah kenapa pemuda petani itu membiarkan Bunga hamil dan sampai melahirkan secara tak wajar di jalan.
Mendengar kabar tersebut dia sangat terkejut. Jangankan partus di jalan, kabar bahwa pacarnya itu hamil pun tidak pernah diketahuinya. Poltak berkata kepada mereka, “Kuakui kami memang berteman. Tapi saya tidak pernah tahu kalau dia sudah hamil. Bisa kalian tanya dia. Dan sebelum kejadian inipun kami sudah berencana menikah. Tapi sebagai laki-laki, yang juga punya saudara perempuan, saya akan bertanggungjawab.” Seandainya saja dia tahu, dia mengaku pasti mempercepat rencana pernikahan mereka.
Keterangan itu dibenarkan Bunga. Tidak ada satu orang pun yang tahu dia hamil, termasuk rekan kerjanya di sekolah. “Karena kandungan saya tidak besar.” Sejumlah guru dan teman kos Bunga mengakuinya. Wanita berparas cantik ini mengatakan, sebelum bayi mereka lahir, Poltak sudah pernah mengutarakan niatnya untuk menikah Agustus mendatang. “Sebenarnya rencana pertama bulan Mei kemarin. Tapi kami undurkan Agustus, menunggu dia habis panen di sawah,” jelas Bunga.
Ayah kandung Bunga sendiri sudah melihat cucunya itu dan dengan bijak menerima kenyataan.
“Anggo amang i nungnga ro. Denggan do hami makkatai (Ayah Bunga sudah ke sini. Kami bicara baik-baik — Red),” kata Poltak.
Seperti ditulis koran ini dalam dua edisi terakhir, Bunga secara spontan melahirkan bayinya di parit jalan, dekat kantor PLN Balige. Malam itu dia tengah berjalan kaki mencari bidan. Tapi keburu bayinya keluar. Tali plasenta si bayi diputusnya sendiri dengan tangan. Dengan menumpang becak, dia membawa bayinya yang penuh darah ke RS HKBP Balige. Aneh bin ajaib, dokter mengatakan keduanya dalam kondisi sehat. Bayi berhidung mancung itu lahir dengan berat 2,5 kg dan panjang 47 cm.
Bunga adalah seorang janda. Dia pernah menikah pada tahun 2000, tapi 10 bulan kemudian suaminya meninggal karena kecelakaan lalu-lintas. Mereka belum sempat memiliki anak. Sedangkan hubungan asmaranya dengan Poltak, seorang bujangan desa, sudah berlangsung hampir dua tahun. [www.blogberita.com]
Ketiga berita ini pertama kali kutulis ketika masih bekerja di koran harian Metro Tapanuli, 2006.

