Peristiwa di ujung jembatan Kota Porsea itu adalah bukti kekesalan publik terhadap pers yang tidak independen. Kala itu siang bolong, enam tahun lalu, saya dan seorang rekan dari Radar Medan nyaris digebuki ratusan massa yang sebagian memegang batu dan balok kayu. Mereka meneriaki kami sebagai “penjilat Indorayon” sembari menyebut-nyebut nama sebuah koran harian terbitan Medan.
Jarar Siahaan; Balige; Blog Berita
Beberapa menit sebelumnya Hermanto Sitorus, seorang siswa STM, tewas mengenaskan setelah kepalanya tertembus “benda logam” — istilah yang dipakai seorang profesor forensik saat mengotopsi mayatnya kemudian — ketika warga Porsea bentrok dengan polisi. Hanya kami berdualah jurnalis yang meliputnya dari dekat saat jurnalis lain tengah meliput aksi demo di depan markas polsek — sekarang markas polres. Ketika mendekati tubuh Hermanto yang tergeletak di aspal itulah kami mulai “diserang” massa. Kerah baju dan lengan kami ditarik-tarik. Saya dipaksa untuk terus memotret korban. “Cepat! Foto lagi!” kata beberapa orang. “Harus terbit ya! Awas kalau tak ada di koran besok!” ancam yang lain. “Foto lagi dari sini!” tukas lainnya.
Tiba-tiba dari bagian belakang kerumunan massa terdengar teriakan, “Ambil …! Itu wartawan *** (sebuah koran harian terbitan Medan). Itu wartawan Indorayon!” Koran yang mereka sebut-sebut memang dikenal hanya menulis berita-berita baik soal PT Inti Indorayon Utama — kini PT Toba Pulp Lestari (TPL). Sebaliknya, beberapa kali aksi demo warga menolak perusahaan itu tidak ditulis. Dan massa mengira kami berdua bekerja di koran tersebut.
Begitu tubuh Hermanto dilarikan ke rumah sakit, kami pun mulai digiring massa ke arah jembatan. Kami tak tahu apa yang bakal terjadi. Kami menunjukkan kartu pers tapi tak dihiraukan. Massa sedang emosional. Untunglah seorang pria berusia 50-an muncul dari tengah massa, saat kami berada di atas jembatan. “Jangan! Lepaskan! Itu Radar. Mereka independen,” teriaknya, mendekat. Kami pun selamat. Beberapa dari massa meminta maaf dan mentraktir kami minum di kedai kopi sembari wawancara.
Independen: sebuah sikap jurnalisme yang dianut koran tempat saya bekerja. Ia berarti bebas untuk menulis apa saja dan siapa saja.
“Wartawan tidak boleh berpihak kepada sumber-sumber yang ia tulis. Tidak sinis. Tidak pula terikat. Wartawan harus berdedikasi untuk bisa memberi informasi kepada publik dan tidak boleh memainkan peran langsung sebagai aktivis,” kata Bill Kovach, wartawan senior Amerika Serikat dan dosen jurnalistik Universitas Harvard, dalam bukunya The Elements of Journalism. Sebuah contoh nyata ketidak-independenan yang dimaksud Kovach ialah tatkala sejumlah wartawan di Balige berdemo dan meneken pernyataan menolak hasil pilkada Tobasa tahun lalu.
Contoh sebaliknya: Dalam pemberitaan isu-isu TPL, sampai kini saya memegang teguh prinsip independensi. Jika misalnya hari ini muncul berita warga demo tolak TPL karena dituding merusak lingkungan, berikutnya berita dari kubu TPL yang menyebut pabrik mereka ramah lingkungan juga pasti diterbitkan. Menulis hanya satu pihak tertentu, selain tidak adil, juga hanya akan membodohi pembaca. Pikiran pembaca tidak boleh dipaksakan menerima “kebenaran” menurut versi redaksi koran.
Makin banyak pihak yang dikutip media, makin banyak pula kemungkinan bagi pembaca untuk mengetahui peristiwa sebenarnya. Pers yang baik tidak memosisikan diri sebagai nabi yang mendoktrinkan kebenaran. Dalam istilah Goenawan Mohamad, sastrawan yang juga wartawan pendiri Tempo: “Pers harus mengetuk-ngetuk sebanyak mungkin pintu untuk mencari kebenaran.”
Maka jika media hanya menghujat TPL, pembaca jangan langsung memercayainya bulat-bulat. Sebaliknya, jika media hanya mengutip pejabat dan aktivis yang membela TPL, tak salah mewanti-wantinya sebagai “ada udang di balik batu”. Berita yang ditulis wartawan dan media yang tidak independen seharusnya dijauhi. Jangan jamah, jangan baca. Anggap saja itu limbah berbahaya — yang lambat-laun bisa merusak pikiran jernih anda. [blogberita.net]
Artikel ini pertama kali kutulis di harian Metro Tapanuli pada 2006.

Artikel ini boleh dikutip HANYA JIKA disebutkan sumbernya www.blogberita.net DAN dibuat tautan-balik. Supaya tidak ketinggalan artikel terbaru, langgani RSS Feed, gratis!


















