Komentar ini ditulis oleh Budiman S Hartoyo, 68 tahun. Ia adalah mantan wartawan senior majalah Tempo, salah satu deklarator AJI, penyair, tinggal di Bekasi, dan sampai kini masih aktif menulis. Berikut tanggapan Budiman atas kritikku terhadap AJI yang selalu mendesak wartawan agar tidak menerima amplop dari narasumber.
Simpatiku yang sangat dalam pada “nasib” kamu. Saya setuju dan mendukung gagasan kau: desak para majikan media untuk menggaji wartawan secara layak (tentu wartawan yang bener). Kalau tidak, mogok saja!
Setelah itu gencarkan anti amplop. Tapi di lain pihak, carikan pekerjaan sampingan (yang halal) bagi wartawan idealis seperti Jarar, misalnya menulis buku. Salam dan simpatiku, BSH.
Aku juga menerima komentar dari Dominggus Elcid Li, seorang wartawan daerah di NTT yang tengah kuliah di Inggris.
Ia menulis: “Suratmu yang dikirimkan ke AJI memang perlu untuk menampar orang pusat, supaya tidak asal ngomong dan pintar bikin slogan. Ada seorang kawan yang kerja di koran ternama Jakarta, bingung luar biasa karena tidak ada uang untuk sekolahkan anaknya Juli nanti. Bagaimana bisa begini, idealis dalam kelaparan?” — www.blogberita.net

Artikel ini boleh dikutip HANYA JIKA disebutkan sumbernya www.blogberita.net DAN dibuat tautan-balik. Supaya tidak ketinggalan artikel terbaru, langgani RSS Feed, gratis!


















