Tanpa Nommensen, mungkin orang Batak masih pakai cawat

Posted by Jarar Siahaan on Apr 5th, 2007 and filed under Berita Toba Samosir. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. Both comments and pings are currently closed.

Siang tadi sekitar pukul 13.00 di depan kantor Bupati Tobasa di Balige, Letjen TNI [Purn] TB Silalahi melepas seratusan orang peserta napak tilas memperingati perjalanan sekaligus penyebaran agama nasrani yang dilakukan DR Ingwer Ludwig Nommensen di Tanah Batak.

Jarar Siahaan; Balige; Blog Berita

Tokoh berkebangsaan Jerman yang lebih dikenal dengan gelar Apostel Nommensen ini hidup pada era 1834-1918. Ia menjadi Ephorus HKBP pertama, gereja terbesar di Asia Pasifik. “Kalau dulu Apostel Nommensen tidak datang ke sini, mungkin kita orang Batak masih memakai cawat sampai sekarang,” kata TB Silalahi yang juga penasihat Presiden SBY itu, didampingi Bupati Tobasa Monang Sitorus dan wakilnya Mindo Siagian.

“Saya sampai dua minggu membaca buku-buku tentang sejarah Nommensen. Saya betul-betul mengaguminya. Bayangkan, 17 tahun dia di Tapanuli Utara, lalu dengan berjalan kaki, melalui hutan yang penuh binatang buas, datang ke daerah Toba. Kemudian dengan solu [sampan] dia menyeberang ke Pulau Samosir. Luar biasa.”

TB berpesan kepada para peserta napak tilas agar tidak sekadar berkeliling dengan bus ke sejumlah tempat bersejarah di mana Nommensen dulu menyebarkan ajaran agama. “Tapi kalian harus bisa meresapi dan mengambil hikmahnya.”

Bagi orang Batak, Nommensen bukan cuma tokoh pembawa agama. Ia juga dikenal sebagai pembaharu yang membangun sektor pendidikan, ekonomi, dan kesehatan. Selama berada di Tanah Batak, Nommensen telah mendirikan 510 sekolah dengan murid 32.700 orang, antara lain di Balige, Tarutung, Siantar, Sidikalang, Samosir, dan Ambarita. Setiap mengunjungi desa-desa dia selalu membawa kotak obatnya, dan berusaha menyembuhkan penyakit warga.

Ia jugalah yang menciptakan hari pekan sekali seminggu di setiap pasar tradisional di kecamatan-kecamatan. Inilah yang sekarang kita kenal; Senin hari pekan di Laguboti, Selasa di Siborongborong, Rabu di Porsea, Jumat di Balige, dan Sabtu di Tarutung. Pada hari Kamis memang tidak ada pekan; hari ini dipakai oleh para pedagang [yang dijuluki inang parrengge-rengge] untuk belajar koor dan Alkitab; yang kemudian memunculkan istilah “parari Kamis.”

Peserta napak tilas dari Balige akan bergabung dengan peserta lain di Kabupaten Taput, Humbang Hasundutan, Tapanuli Tengah, dan Tapanuli Selatan. Puncaknya pada Minggu [8/4], seluruh peserta akan berkumpul di lokasi makam Nommensen di kompleks gereja HKBP Sigumpar, Kabupaten Tobasa.

Menurut buku kecil yang dibuat panitia napak tilas, semasa hidupnya Nommensen sudah berpesan, jika dia wafat agar tidak dimakamkan di negaranya, Jerman, tapi di Sigumpar. Selama 56 tahun dia berada di Tanah Batak. [www.blogberita.net]

tafbutton blue16 Tanpa Nommensen, mungkin orang Batak masih pakai cawat

Artikel ini boleh dikutip HANYA JIKA disebutkan sumbernya www.blogberita.net DAN dibuat tautan-balik. Supaya tidak ketinggalan artikel terbaru, langgani RSS Feed, gratis!

Masukkan email Anda untuk BERLANGGANAN GRATIS:

Setelah diklik, ikuti petunjuk dari FeedBurner, cek email Anda.

Jumlah pelanggan Blog Berita via RSS & email Cara tampilkan fotomu pada komentar. Jumlah Pembaca KLIK DI SINI

Comments are closed

Advertisement

Arsip sejak Maret 2007

Gratis RSS-Email-Twitter

Klik Play-Tonton Video


Log in / BLOG BERITA mengizinkan konten web ini dikutip dengan syarat menyebutkan sumbernya www.blogberita.net dan membuat tautan-balik. Pengelola Blog Berita wartawan freelance Jarar Siahaan tidak bertanggung jawab atas komentar dan artikel tulisan pembaca. Balige Kabupaten Toba Samosir Provinsi Sumatera Utara Indonesia. Berita terbaru Artikel menarik Video unik terbaik.