Kena pukul, malah ditahan polisi

Seorang wartawan di Pematangsiantar, Sumut, menjadi korban kekerasan oknum aparat saat melakukan tugas jurnalistiknya. Eh, malah dia diadukan balik dan ditahan polisi. Berikut laporan selengkapnya yang ditulis Andi Siahaan, kontributor Trans TV di Pematangsiantar, dan dikirim via email ke blog ini.

Kamis, 22 Maret 2007 sekira pukul 12.00 Wib, Samsudin Harahap alias “Udin Siantar” yang bekerja sebagai wartawan harian Medan Bisnis ditahan pihak Polresta Pematangsiantar atas pengaduan seorang oknum militer yang bertugas menjaga rumah dinas Walikota Siantar. Dalam pengaduannya, oknum militer itu mengaku dipukul dan dianiaya oleh Udin. Kenyataannya, keterangan dari beberapa saksi yang melihat langsung peristiwa tersebut, justru Udinlah yang pertama sekali dianiaya oleh si oknum.

Kronologisnya adalah, pada Rabu malam 21 Maret 2007 sekira pukul 23.30 Wib Udin memasuki rumah dinas Walikota dalam rangka menjalankan tugas jurnalistik, terkait dengan aksi unjuk rasa siang harinya. Ternyata kehadiran rekan kami tersebut tidak diterima oleh Walikota hingga akhirnya terjadi pengusiran terhadap dirinya. Tak lama kemudian Udin hendak meninggalkan rumah dinas, tapi beberapa aparat Satpol PP di pos penjagaan menghentikan Udin dan melarang dirinya pergi. Tiba-tiba HS, seorang oknum PNS, datang dan meminta agar personil Satpol PP melepaskan Udin.

Setelah itu Udin pergi. Namun berkisar satu jam kemudian, sekira pukul 00.30 Wib Kamis dini hari, Udin yang berada di sekitar lokasi Siantar Hotel ditemui beberapa orang, salah satunya adalah HS. Mereka memaksa Udin masuk ke mobil Toyota Kijang berwarna hijau tua. Ternyata Udin dibawa ke rumah dinas Walikota. Sebelumnya Udin sempat menghubungi tiga orang rekan jurnalis dan memberitahu peristiwa penjemputan paksa yang dialaminya.

Tiba di rumah dinas Walikota, Udin selanjutnya dititip di pos penjagaan dan pelaku “penculikan” masuk ke rumah dinas. Saat itu terjadi perdebatan antara Udin dengan salah seorang penjaga yang kemudian diketahui sebagai seorang oknum militer berpakaian sipil. Di pos itu juga hadir seorang pejabat Pemko Siantar, RS.

Keduanya memaksa Udin keluar dari kompleks rumah dinas. Namun Udin menolak dan tetap bersikeras menunggu HS yang membawa dirinya ke sana. Saat itulah terjadi pemukulan terhadap Udin yang dilakukan oknum militer tersebut hingga Udin terjatuh dan mengalami memar di bagian wajah, perut, dan luka di tangan sebelah kiri. Merasa terdesak dan terancam, Udin kemudian membalas dan memukul wajah petugas. Peristiwa itu disaksikan secara jelas oleh tiga wartawan yang berada di lokasi kejadian. Tak lama kemudian beberapa orang polisi datang, lalu membawa Udin ke Mapolresta Pematangsiantar. Sejak itulah Udin ditahan polisi.

Atas peristiwa ini aku dan beberapa kawan wartawan melakukan perlawanan, baik dengan pemberitaan maupun pengadvokasian. Namun mayoritas rekan wartawan di sini seakan tak mau peduli. Melihat situasi ini aku jadi sering mual dan muntah. Tak tahu karena apa, Udin dianggap seorang teroris yang pantas dihabisi.

Si Udin ini dikenal dengan beritanya yang sering mengkritisi pemerintahan kota. Sebab itu penguasa setempat berusaha memberangus orang-orang yang kritis sepertinya. Mayoritas wartawan dan media tidak mau membela si Udin yang malang ini. [blogberita.net]

Koneksi Internetmu lambat? Tak sempat tiap hari membaca web? Ini solusinya. ©Diizinkan mengutip artikel Blog Berita ini dengan syarat membuat tautan-balik.
Kirim artikel ini ke teman Kirim artikel ini ke teman Donasi Hubungi Blog Berita

Comments are closed.