Bila pencuri makan ayam goreng bersama pejabat

Aku pernah menulis feature pada 1999 atau 2000 bagaimana para pejabat muspida — bupati, kapolres, dandim, ketua DPRD, dan kajari — tidak risih menghadiri pesta pernikahan anak seorang mafia perambah hutan [sang anak pun ikut merambah hutan] yang sedang diproses kasusnya oleh aparat hukum.

Jarar Siahaan; Balige; Blog Berita

Aku dan rekan dari koran lain pernah pada tengah malam — saat istriku sedang hamil tua — menembus hutan Kecamatan Habinsaran karena ada bocoran dari seorang intel kejaksaan bahwa aparat gabungan muspida akan merazia truk kayu dan diduga akan membiarkan truk tertentu lolos. Dan memang betul, malam itu kami mencatat sejumlah truk dibiarkan lolos tanpa distop sama sekali. Besok paginya kami meninggalkan hutan dan kembali ke Balige, langsung menuju kantor bupati, dengan mata kami yang merah karena kurang tidur dan bau badan yang menyengat. Laporan tertulis tim gabungan persis seperti yang kami duga: nama si mafia perambah, yang pernah menikahkan anaknya itu, tidak tercantum. Hanya perambah kecil-kecilan yang ditulis pada laporan resmi itu. Humas dan Bupati segera menghindari kami yang hendak wawancara.

Ketika aku redaktur di Medan, aku juga memberi dukungan penuh kepada penggantiku di Balige untuk menulis kasus penganiayaan LSM dan anggota DPRD oleh pencuri kayu di hutan — akhir kasus ini adalah “tidak ada vonis di pengadilan”. Masih ketika redaktur, aku pernah terpana melihat laporan dari kawanku di Kabupaten Dairi, Hasiholan Siregar, yang menulis pejabat muspida — kalau tak salah bupati, kapolres, dan kajari — hendak memeriksa usaha pengolahan kayu yang diduga milik seorang pembalak tapi, hebatnya, para pejabat itu justru asyik bercengkerama dan dijamu makan ayam di tempat si pembalak. Kalau aku tak lupa, judul berita itu kubuat: “Pejabat Muspida Dijamu Makan Ayam Goreng oleh Perambah Hutan”.

Seorang bekas camat di Habinsaran pernah kutulis pengakuannya bahwa dia sendiri takut berhadapan dengan perambah hutan. Dia pernah di suatu pagi terburu-buru hendak mengikuti rapat di kantor bupati di Balige. Tapi akhirnya dia terlambat karena tertahan di jalan di tengah hutan. Kala itu balok kayu hasil jarahan menumpuk di jalan. Para perambah malam harinya menggulingkan balok kayu ke jalan untuk diangkut truk. “Mereka tahu aku camat, tapi mereka tak mau menyingkirkan kayu-kayu itu. Gimanalah, mereka mungkin sudah dekat dengan bos-bos di atas,” kata si camat.

Belum lama ini Kadis Kehutanan Tobasa Hotmauli Sianturi juga kuwawancarai dan berkata senada. Ia mengakui kalau aparatnya di lapangan, polisi hutan alias polhut, tidak berani berhadapan dengan perambah. “Mereka tak punya senjata atau pistol, sementara perambah memegang golok dan gergaji-mesin. Kalau dibunuh dan dipotong-potong di tengah hutan, siapa yang tahu. Tak ada saksi, mana bisa terungkap di pengadilan,” katanya. Kadis Hotmauli juga pernah mengadukan seorang oknum aparat yang ikut membalak hutan kepada Polres Tobasa, tapi hingga kini kasusnya tak sampai ke pengadilan.

Di hadapan Bupati Tobasa Monang Sitorus dan ratusan warga, Manahara Pardosi, seorang tokoh Habinsaran yang menetap di Jawa, pernah berujar: “Data yang saya peroleh, baru 23 ribu kilometer persegi hutan di sini yang sudah diregister. Sebagian lainnya menjadi milik pribadi oknum pejabat dan pengusaha. Jalan makin rusak. Sarana air minum tidak ada. Berobat susah. Jadi wajar kalau beberapa orangtua pesimis dengan pemerintah. Mereka sudah putus asa. Dari tahun ke tahun Habinsaran tetap tertinggal.”

Aku memang bukan penduduk Habinsaran — kampung indah di belantara hutan itu. Tapi aku tak bisa menerima fakta bahwa warga di sana tidak menerima hasil setimpal dengan kekayaan alam yang telah mereka “berikan” untuk dikelola penguasa dan pengusaha.

Pernah di suatu hari, beberapa tahun silam, saat meliput ke sana dan berdiri di tengah hutan yang sudah gundul, aku berkata kepada sejumlah kawan wartawan: “Tanah dan hutan ini sedang menjerit dan menangis. Kita memang tak bisa mendengarnya. Suatu hari nanti, tanah dan hutan ini akan marah dan membalaskan dendamnya kepada para perambah itu.” [www.blogberita.com]

Koneksi Internetmu lambat? Tak sempat tiap hari membaca web? Ini solusinya. ©Diizinkan mengutip artikel Blog Berita ini dengan syarat membuat tautan-balik.
Kirim artikel ini ke teman Kirim artikel ini ke teman Donasi Hubungi Blog Berita

Comments are closed.