Puluhan pemborong di Kabupaten Toba Samosir mendemo DPRD di Balige, Kamis siang tadi. Mereka menuntut klarifikasi dari pimpinan DPRD soal isu pertemuan oknum DPRD dan kontraktor di Medan. Dalam pertemuan itu, kata mereka, ada oknum wakil rakyat mengajak kontraktor dari luar Tobasa untuk mengikuti pelelangan proyek di Tobasa.
Rikardo Simamora; Balige; Blog Berita
Tanpa spanduk atau orasi sebagaimana lazimnya demo, perwakilan mereka seperti Binahar Napitupulu, Robert Pardede alias Kempes, David H Pardede, dan Hankam Sitorus bertemu dengan petinggi Dewan. “Kami meminta klarifikasi adanya isu pertemuan di Hotel Pardede pada hari Senin, 2 April 2007 lalu. Isu yang kami dengar, beberapa anggota Dewan sengaja atau tidak sengaja telah mengundang rekanan dari luar Tobasa untuk mengikuti tender di Tobasa. Kami sangat keberatan. Memang sesuai Keppres 80/2003, seluruh rekanan dapat mengikuti tender di seluruh Indonesia. Tapi alangkah kecewanya kita sampai Dewan mengajak,” beber David dalam pertemuan itu.
Ketua DPRD Tobasa Tumpal Sitorus lalu bertanya siapa anggota Dewan yang dimaksud. David menyebut nama Ketua DPRD Tumpal Sitorus dan Wakil Ketua Baktiar Tampubolon. Selanjutnya Baktiar yang akrab dipanggil BT menjelaskan duduk perkara pertemuan yang diributkan tersebut. Ia juga menanyakan siapa sumber isu ini, lalu dijawab bahwa saksinya adalah kontraktor Nando Siahaan, yang juga hadir di antara pendemo.
Kepada Nando, BT bertanya, “Apakah saya mengundang saudara di sana? Apakah saya mengundang kontraktor di sana?” Keduanya dijawab “tidak” oleh Nando Siahaan.
Seterusnya BT menjelaskan pertemuan dengan para kontraktor di hotel tersebut adalah secara kebetulan saja. Awalnya ia hanya berencana menunggu Tumpal Sitorus yang akan pulang dari Surabaya. “Saat keluar restoran saya tiba-tiba dipanggil oleh mereka yang saya anggap teman, yaitu diantaranya marga Sinaga dan Tombul Hutajulu. Saya datangi, lalu minum. Jadi tidak ada saya kumpulkan orang. Tidak berapa lama Ketua Tumpal Sitorus juga datang bergabung untuk minum,” papar BT.
BT pun menegaskan, dirinya sejak 2005 tidak pernah mengurusi proyek di Tobasa karena ia sudah menjadi anggota DPRD yang justru bertugas mengawasi pembangunan. “Tidak ada saya kumpulkan satu orang rekanan. Tidak ada saya rencanakan dengan satu orang rekanan dari Medan. Saya sudah DPRD, saya tidak ada mencampuri urusan tender proyek. Ini sudah mendiskreditkan saya dan Ketua DPRD,” tegas BT, yang dulu pernah berprofesi kontraktor.
Ketua DPRD juga menjelaskan hal yang sama. Bahkan ia mengimbau seluruh warga Tobasa agar melaporkan kepada DPRD kalau ada oknum wakil rakyat yang ikut bermain proyek pemerintah. “Nanti ada Badan Kehormatan DPRD yang akan menindaklanjutinya,” kata Tumpal Sitorus.
Nando Siahaan sendiri yang diberi kesempatan berbicara mengatakan, isu ini menjadi luas dibicarakan karena pada proses pelelangan beberapa paket di Dinas PUK Tobasa terlihat sejumlah pemborong asal Medan ikut mendaftar.
Setelah mendengar keterangan Ketua dan Wakil Ketua DPRD, para kontraktor merasa cukup puas dan tidak ada lagi yang mempermasalahkannya. Mereka meninggalkan gedung parlemen dengan tertib. Sungguh sebuah praktik demokrasi yang sehat. [www.blogberita.net]

Artikel ini boleh dikutip HANYA JIKA disebutkan sumbernya www.blogberita.net DAN dibuat tautan-balik. Supaya tidak ketinggalan artikel terbaru, langgani RSS Feed, gratis!


















