Koran takkan mati karena internet

Juragan media Rupert Murdoch menduga media konvensional seperti koran akan mati dalam abad ini juga ditimpa media internet.

Menurutku sebaliknya: Selama peradaban manusia masih ada, selama itu pulalah koran akan bertahan dan takkan sesekali mati.

Jarar Siahaan; Balige; Blog Berita

Kita sudah sering mendengar, di era 1960-1970-an pun sudah ada kecemasan kalangan media bahwa koran dan radio akan mati dibunuh pengaruh dan segala kelebihan yang dimiliki televisi. Tapi ternyata sampai hari ini koran dan radio tetap bertahan, bahkan makin bertumbuh. Maka menurutku, semua jenis media sebelum lahirnya dotcom seperti website dan weblog – apakah itu koran, majalah, tabloid, buku, radio, atau televisi — akan tetap hidup karena mereka masing-masing memiliki kelebihan.

Koran dan majalah setidaknya sudah memiliki pembaca fanatik; wartawannya relatif lebih banyak dan profesional [walau tidak mutlak] dibanding media dotcom; informasi disajikan lebih lengkap [terutama majalah]; pemasang iklan pun masih cenderung berpromosi di media cetak karena mampu menyasar hingga ke pelosok desa tertentu yang belum memiliki koneksi internet. Sementara buku masih akan terus dibutuhkan terutama oleh kalangan akademisi dan pelajar.

Radio juga akan abadi karena kelebihannya yang sama sekali tidak dimiliki media lain. Yang terutama: gratis — tidak perlu keluarkan uang seperti membeli koran dan tidak perlu berlangganan akses internet. Cukup beli pesawat radio saku seharga Rp 25 ribu, colokkan ke listrik atau pasang baterai, lalu nikmatilah musik dan informasi non-stop sepanjang hari. Radio juga membangun komunitas yang akrab antar-pendengarnya dan sangat interaktif. Radio menyampaikan informasi paling cepat dibanding semua jenis media lain; apa yang sedang terjadi detik ini disampaikan detik ini juga kepada konsumen. Dan lagi-lagi, itu semua gratis.

Kotak ajaib bernama televisi juga bisa menyampaikan informasi secara langsung seperti radio. Tapi kelebihan utama tivi adalah pada gambar yang bergerak. Sebuah contoh kecil saja sebagai gambaran kekuatan tivi yang tidak dimiliki media lain: tayangan pertandingan sepakbola. Mana lebih asyik melihat aksi Ronaldinho mencetak gol Piala Dunia melalui tivi dibanding melihat fotonya saat mencetak gol di tabloid Bola? Ini sesuai rumus yang terkenal di kalangan wartawan tivi: no woman, no cry [ups, salah: no picture, no news]. Betul, gambar video adalah segala-galanya bagi tivi. [Tapi heran, kameramen tivi Indonesia digaji sangat kecil.]

Sedangkan kelebihan dotcom adalah, nah ini dia: bisa memadukan segala kelebihan yang dimiliki media tadi — koran, majalah, radio, dan tivi. Informasi dotcom bisa ditayangkan secara langsung berupa suara seperti radio dan gambar hidup seperti tivi; bisa juga ditulis lebih akurat dan mendalam seperti koran atau majalah; pun bisa menampilkan foto dengan momen hebat seperti muncul di koran; dan datanya bisa disimpan sepanjang masa sebagai dokumen sejarah tanpa harus takut lapuk seperti buku dan klipping koran, dengan akses mudah bagi siapapun. Tapi bagiku kelebihan paling utama dotcom adalah aksesnya yang tanpa batas: bisa dibaca dari belahan dunia manapun.

Di sisi lain media-media di atas juga memiliki kelemahan masing-masing. Informasi koran dan majalah cenderung searah [apa yang disukai redaksi itulah yang ditulis] dan tidak interaktif [akses pembaca terbatas untuk terlibat], sehingga informasi yang disajikan potensial untuk “berbohong”; informasinya lambat tiba di tangan pembaca [dalam 24 jam atau seminggu]. Radio dan tivi adalah “jurnalisme yang tergesa-gesa” — informasinya lebih mengejar tenggat siaran langsung sehingga relatif tidak lengkap dibanding koran dan majalah; informasi yang disampaikan lewat begitu saja sehingga sulit mengaksesnya kembali [bandingkan dengan koran yang bisa disimpan dan dotcom yang bisa diklik lewat tombol arsip].

Alasan lain yang sering diungkapkan kenapa koran tidak akan mati-mati adalah faktor ekonomi sebuah negara dan daya konsumsi masyarakat. Untuk hal ini aku tak sanggup membahas, karena bukan keahlianku.

Meskipun demikian aku tetap meyakini bahwa media dotcom punya peluang setidaknya untuk mengurangi/membatasi oplah koran dan penonton tivi. Yaitu ketika seluruh warga masyarakat sudah terlayani akses internet. Mungkin anda pun pernah mendengar, sudah banyak warga di negara maju sana lebih memilih membaca informasi lewat website dan weblog. Di Indonesia sendiri kita memiliki DetikCom yang dibaca jutaan orang setiap harinya.

Maka koran, radio, dan tivi tidak akan mati di sebelah blog yang menjadi media-tanpa-sensor dan tanpa-batas. Blog akan membuat hidup lebih hidup, karena ia berisi informasi yang ditulis setiap warga dengan berjuta macam pandangan dan bejibun ragam berita. [www.blogberita.com]

Koneksi Internetmu lambat? Tak sempat tiap hari membaca web? Ini solusinya. ©Diizinkan mengutip artikel Blog Berita ini dengan syarat membuat tautan-balik.
Kirim artikel ini ke teman Kirim artikel ini ke teman Donasi Hubungi Blog Berita

Comments are closed.