Wartawan ‘bunuh’ bapaknya demi amplop

Jarar Siahaan; Blog Berita — Sadisnya lagi, sang bapak itu sebenarnya sudah tak bernyawa, tapi si wartawan tega membunuhnya kembali. Dan itu dilakukan cuma demi uang Rp 50 ribu. Biadab? Tidak. Ini lucu.

Adalah Bonar, kusebut saja begitu nama samarannya, yang membunuh bapaknya tersebut. Ia seorang wartawan berusia 50-an di Balige, Kabupaten Toba Samosir, Sumut. Aku akrab dengannya sejak awal 1995, ketika kami berdua menulis di koran yang sama. Banyak kawan wartawan menilai Pak Bonar kurang mahir menulis. Memang ia sangat jarang menulis; paling juga sekali sebulan. Mungkin karena faktor usia atau karena tak digaji, atau karena memang bukan panggilan jiwanya menjadi wartawan.

Tapi sebagai suami dan ayah bagi anak-anaknya, aku menilainya sebagai orang yang bertanggung jawab dan sangat setia kepada keluarga. Aku kenal baik istrinya; sudah puluhan tahun ia membuka usaha warung nasi, dan sangat laris. Salah seorang putri mereka juga pernah menjadi muridku di dojo karate ketika aku belum menikah dan masih aktif berolah raga; terakhir kudengar ia sedang akan menyelesaikan kuliahnya.

Menjadi wartawan, bagi Pak Bonar, bukanlah untuk mencari dan menulis berita. Wartawan sama dengan mesin-uang. Dan memang itulah yang ia lakukan selama puluhan tahun memegang kartu pers. Menulis berita jika berita itu bisa menjadi sumber uang.

Suatu hari, di zaman Orde Baru, ia lagi tak punya berkas kasus untuk di-lapan-anam-kan. Padahal ia butuh uang jutaan untuk keperluan mendesak. “Entah bagaimana ceritanya, tiba-tiba aku dapat ide. Kubunuh saja bapakku,” kata Pak Bonar bercerita kepadaku. Kisah ini juga sering ia ceritakan kepada pejabat dan wartawan lain di Tobasa. Semua yang mendengarnya pasti tertawa.

Beginilah ide nyentrik Pak Bonar. Ia mencetak undangan duka-cita, yang dalam bahasa Batak biasa diberi judul Gokkon dohot jou-jou. Lalu dengan mengendarai sepeda motor bututnya, ia berkeliling ke puluhan kecamatan di empat wilayah kabupaten — waktu itu keempat kabupaten tersebut belum dimekarkan dan masih bergabung dengan Kabupaten Tapanuli Utara. Dalam tasnya, ia membawa ratusan undangan tadi.

Pokok isi undangan itu berbunyi kira-kira begini:

Telah berpulang ke hadapan Tuhan YME, orangtua kami tercinta. Kiranya Bapak/Ibu/Saudara berkenan menghadiri acara pemakaman almarhum pada …
Hari/Tanggal: …
Tempat: …

Tapi tidak seperti lazimnya undangan yang disampaikan kepada masyarakat umum, ia hanya menyampaikan undangan itu khusus kepada para pejabat. Seperti bupati, kepala dinas, kapolsek, camat, kepala sekolah, anggota DPRD, dan pemborong. Itu pun dia pilih pejabat yang bertugas di luar Balige.

Adapun niat Pak Bonar adalah bukan supaya para pejabat itu datang menghadiri pemakaman bapaknya. “Jangan sampai mereka datang, bahaya itu. Wong aku cuma bohong, kok,” katanya. Ia cuma ingin mereka memberi amplop berisi uang — dalam adat Batak hal ini berlaku sebagai uang duka.

Dan memang betul, semua pejabat yang diundangnya bersedia memberikan amplop dan sama sekali tidak datang. Satu orang pun tidak datang. Kok? “Lha iyalah, tak mungkin mereka datang ke pelosok desa di tengah hutan yang tidak bisa dilalui mobil.”

Ternyata pada undangan duka itu, pada kolom “tempat” acara pemakaman, ia mengisi nama sebuah desa yang sangat terpencil, yang jaraknya berpuluh kilometer memasuki wilayah hutan, di mana tidak ada penerangan listrik dan jalan beraspal. Hal ini disengaja Pak Bonar agar pejabat yang diundangnya berpikir seribu kali untuk datang.

“Waktu itu ada seorang kepala dinas PU memberikan amplop. Dia bilang, ‘Sebenarnya saya tidak ada kesibukan, tapi kayaknya jauh sekali tempatnya. Jadi saya mohon maaf tak bisa datang.’ Lalu dia berikan uang Rp 50 ribu,” cerita Pak Bonar terkekeh. “Mana mau dia membawa mobilnya lewat hutan. Hancur nanti ….”

Aku sendiri, ketika pertama kali mendengar kisah ini, tertawa terpingkal-pingkal. Lalu kutanya, “Tapi kan dosa, masak bikin undangan bapak kita mati hanya untuk mencari amplop.” Pak Bonar menjawab, dan kali ini aku makin terpingkal-pingkal.

“Siapa bilang dosa. Memang betul, kok, bapakku sudah mati. Sudah lama itu, bapakku sudah puluhan tahun lalu dimakan cacing dalam kubur. Salah mereka sendiri, kenapa mau kutipu ….”

Dan di tahun-tahun selanjutnya, Pak Bonar kembali membagikan undangan yang sama kepada pejabat lain, khususnya pejabat-pejabat baru. Apakah lantas ia mencetak undangan kembali?

“Tidak. Karena waktu pertama kali cetak sudah sekaligus kupesan banyak, dan aku sengaja mengosongkan tanggal dan tempat, biar bisa kuisi lagi tahun depan. Supaya aku bisa ‘membunuh’ bapakku lagi,” katanya. Kami berdua pun tertawa sampai sakit perut. [www.blogberita.net]

Koneksi Internetmu lambat? Tak sempat tiap hari membaca web? Ini solusinya. ©Diizinkan mengutip artikel Blog Berita ini dengan syarat membuat tautan-balik.
Kirim artikel ini ke teman Kirim artikel ini ke teman Donasi Hubungi Blog Berita

Comments are closed.