Membaca dua berita di blog ini tentang kebatakan, seorang Batak di Medan yang mengagumi budayanya tak bisa menahan diri untuk tidak “marah”. Berikut adalah opini yang dikirim Toga Nainggolan via imel kepada BatakNews.
Pertama-tama, TB Silalahi menyatakan, “Tanpa Nommensen, saat ini orang Batak mungkin masih pakai cawat”. Kemudian SAE Nababan, mantan ephorus HKBP dan sekarang Presiden Dewan Gereja Sedunia, mengkritik tiga hal yang disebutnya sebagai falsafah orang Batak; hamoraon (kekayaan), hagabeon (banyak keturunan), dan hasangapon (kehormatan). “Falsafah Batak” yang disebutnya tidak sesuai ajaran agama (Kristen).
Tanpa mengurangi rasa hormat kepada kedua tokoh Batak dengan reputasi nasional bahkan internasional ini, aku harus menyatakan bahwa pernyataan-pernyataan itu sangat keliru.
Nommensen benar membawa banyak hal baru yang baik kepada orang Batak. Tetapi orang Batak juga sudah merupakan etnis yang sangat tinggi kebudayaannya, bahkan sebelum Nommensen diciptakan Tuhan. Anda pernah mendalami kerumitan geometrikal motif pada ulos? Anda pernah tahu orang Batak bisa membangun sopo godang (rumah adat besar) tanpa sebiji pun paku, namun bangunan tinggi itu tak akan tumbang karena gempa sekuat apapun, dan lebih hebat lagi, bisa dipindah-pindahkan lokasinya? Pernah mendengar differensiasi melodi tataganing dengan sarune, ditambah efek sustain ogung, melahirkan harmoni dan ritme yang begitu rumitnya, sehingga nyaris mustahil dibuatkan partiturnya, pada gondang sabangunan? Nanti kalian bilang aku sombong kalau daftar pencapaian kultur Batak ini kuteruskan.
Soal demokrasi? Saat Eropa masih feodal, orang Batak sudah duluan menerapkan demokrasi yang egaliter. Pernah dengar prinsip sitongka ditean harajaon hasuhuton? Gila benar progresivitasnya. Bahkan kerajaan, atau otoritas (kekuasaan) pemerintahan yang sah, tidak punya hak mengatur kedaulatan sebuah keluarga, atau hasuhuton.
Tak ada raja di tanah Batak, justru karena semua adalah raja. Raja na ro, raja nidapotna. Kalau yang datang itu raja, maka yang menyambut pun raja. Petugas pembersih jeroan daging hewan untuk sebuah pesta pun disebut dengan Raja Pamituhai, sejajar dengan Raja Parhata, Raja Paranak, Raja Parboru, dan seterusnya.
Di sebuah even, Anda bisa menjadi hula-hula yang mendapat somba atau penghormatan. Namun di even lain, Anda akan menjadi anak boru yang justru harus marsomba-somba. Tak ada posisi (dan kehormatan) permanen dalam budaya Batak.
Inikah bangsa yang masih pakai cawat itu? Ingat, prinsip penting dalam kebatakan adalah kehati-hatian. Manat mardongan tubu! Jangan asal bunyi!
Ini pula yang mengecewakan dari tokoh sekaliber SAE Nababan. Di pustaha mana pula ada tertulis bahwa falsafah Batak itu hamoraon, hagabeon, hasangapon. Setahuku itu cuma ada di lagu “Alusi Ahu”. Dan kalau disimak, bahkan lirik lagu itu pun tidak bersepakat dengan apa yang disebut SAE Nababan sebagai falsafah Batak itu. “Di na deba,” itu artinya buat sebagian orang, namun untuknya yang lebih penting adalah “Asi ni roham, basami do na huparsinta-sinta”. Bahkan belas kasih seorang gadis pujaan hati, jauh lebih penting dari ketiga hal itu.
Dan Pak SAE Nababan yang terhormat, saya tak hendak mengajari limau berduri, atau ikan berenang. Falsafah Batak itu adalah somba (penghormatan, bukan kehormatan!), elek (diplomasi dan pengayoman), serta manat (kehati-hatian). Menghormati yang di “atas”, mengayomi yang di “bawah”, dan berhati-hati dengan yang “sejajar”. Ya, benar, Dalihan na Tolu.
Bahwa banyak orang Batak meletakkan “Dalihan Na Tolu” versi Anda itu sebagai goals of life, itu pilihan personal. Tidak serta merta itu bisa kita nobatkan sebagai falsafah Batak dong.
Saya tidak “sekadar” orang Batak. Orang tua saya seorang Datu, yang memungkinkan saya punya banyak kesempatan terpesona oleh keluhuran sesungguhnya dari budaya ini. Saya selalu terluka dengan serangan ofensif agama-agama kepada budaya Batak; ada yang sampai membakar ulos, menjatuhkan giring-giring, dan sebagainya, hanya karena orang rindu mendekap erat keluhuran budayanya.
“Pelecehan” seperti ini tidak saja datang dari kalangan agama Kristen, tetapi juga Islam. Hanya saja, karena mayoritas orang Batak beragama Kristen, benturan habatahon dengan kekristenan ini lebih terasa.
Hati saya memang pernah tergetar mendengar lantunan ayat suci Al-Qur’an. Saya juga akui, merasakan pengalaman rohani yang dalam mendengar suara koor di gereja, yang begitu harmonik dan agung memuji Tuhan. Tapi tak pernah dada ini sampai terguncang hebat, dengan air mata bercucuran, seperti ketika melihat dua pihak yang tadinya bertengkar hebat, bisa berpelukan, marsisiukan sambil tetap mengurdot-urdotkan badan seiring ritme gondang sabangunan. Peluh dan air mata keharuan, bercampur di tubuh-tubuh yang bergerak seirama itu.
Agama-agama Anda itu bisa? Ah, setahuku malah menambah konflik yang sudah ada!
Anda juga mesti ingat, “sebenar” apapun agama Anda itu, tetapi itu adalah Raja Na Ro, pendatang, yang harus marsantabi (bersitabik) dengan Raja Nidapot, yaitu adat Batak selaku tuan rumah yang sudah lebih dulu ada dan berdaulat.
Silakan yakin sampai mati dengan ajaran impor Anda dari Timur Tengah itu (agama-agama Abrahamic berasal dari sana kan?) tapi plis deh, jangan lecehkan keluhuran orisinil yang diturunkan Mula Jadi Na Bolon, yang dihadiahkan sebagai berkat eksklusif kepada kami di tanah kami.
Hati-hati! Merasa sudah memahami Tuhan adalah awal kesesatan, karena Dia punya bisikan rahasia yang tersendiri, kepada setiap hati.
Horas, syalom aleichem, wassalamu ‘alaikum. [www.blogberita.net]

Artikel ini boleh dikutip HANYA JIKA disebutkan sumbernya www.blogberita.net DAN dibuat tautan-balik. Supaya tidak ketinggalan artikel terbaru, langgani RSS Feed, gratis!


















