Cerpen Jarar Siahaan; Blog Berita — Sepasang kekasih sedang menatap birunya Danau Toba dari atap gedung kantor Bupati, seekor burung Rajawali dan pujaan hatinya, seekor burung Merpati. Keduanya sesekali berciuman. “Kok nggak mesra ciumanmu kali ini, sayang,” kata Rajawali, “French kiss, dong.”
Merpati memejamkan matanya dan menjulurkan lidahnya. Rajawali menyambutnya penuh nafsu. Napasnya kencang, seperti dikejar-kejar pemburu bersenjata bedil angin. Ia lalu menyibak bulu-bulu di leher Merpati.
“Ngapain lagi sih?” tanya Merpati keberatan.
“Pengen cupang,” jawab Rajawali.
“Jangan banyak cincong kau! Udah, cukup. Aku sudah capek, dari tadi ciuman terus.”
“Batak kali cara ngomongmu.”
“Lha memang kita orang burung Batak, kan.”
Rajawali pun mengambil masa rehat dengan menidurkan kepalanya di pangkuan Merpati. Betina yang sudah tak perawan itu mengelus-elus wajah kekasihnya dengan sayapnya. Keduanya hening.
Merpati menerawang jauh. Pikirannya kembali ke soal pernikahan yang sudah satu tahun dijanjikan oleh Rajawali tapi tak kunjung ditepati. Dalam hati ia menduga pernikahan itu takkan pernah terwujud; sebab bukan Rajawali yang pertama sekali menyetubuhinya, tapi Bupati.
Seharusnya Bupati yang bertanggung jawab dan menjadi suamiku, batin Merpati. Ia terkenang awal masa-masa indah perselingkuhan Bupati dengan dirinya. Bupati — burung dari etnis Rajawali — sebenarnya sudah punya istri, seekor burung Nuri yang keibuan dan pendiam. Nuri adalah istri resminya. Tapi di luar kantor dan rumah dinas, Bupati juga punya beberapa istri simpanan. Selain Merpati, gundik favorit Bupati adalah Jalak Bali — seekor burung langka berwarna putih bersih dengan alis-mata biru.
Beberapa bulan terakhir Bupati lebih banyak menghabiskan waktu dengan Jalak Bali. Memang burung yang satu ini cukup mahal, karena jadi rebutan para pejabat negara. Bupati mengeluarkan uang hingga 100 juta untuk merayu Jalak Bali. Bupati pernah bercerita kepada Merpati kalau pelayanan Jalak Bali sangat memuaskan dan inovatif. “Teknik ranjangnya bervariasi dan menggairahkan,” kata Bupati, yang membuat Merpati cemburu.
Merpati pun sudah mulai tak betah menjadi istri simpanan, apalagi sebulan terakhir Bupati belum memberinya uang. Bupati memang sedang dilanda masalah besar; karirnya di ujung tanduk. Ia ketahuan korupsi bermiliar uang yang diambilnya dari kas daerah. Sebagian uang itu dipakainya untuk berfoya-foya, termasuk menghidupi beberapa betina yang ditidurinya. Bila bertugas ke Jakarta atau berlibur ke Bandung, ia pasti menemui sejumlah betinanya di sana, termasuk Jalak Bali. Nginapnya pun di hotel berbintang lima. Usai bercinta, shopping ke mall; beli gaun baru dan perhiasan.
Kini ia sedang mencari akal agar tidak masuk penjara. Statusnya sudah menjadi tersangka; TSK istilah polisi.
Merpati sendiri sudah berniat meninggalkan Bupati untuk selamanya. Hal itu sudah dibicarakannya kemarin dengan Bupati. Ia bahkan mengancam akan membocorkan semua perselingkuhan Bupati kepada wartawan. Tapi Bupati membujuknya, dan menjanjikan uang 100 juta sebagai tanda perpisahan. Uang itulah yang ditunggu Merpati siang hari ini.
Ponsel Merpati berdering. Dari Bupati. “Iya, aku datang,” jawabnya, lalu terbang memasuki kantor Bupati. Tak lebih dari 10 menit ia kembali menemui Rajawali yang sabar menunggu di atap kantor Bupati. Wajah Merpati sumringah.
“Say, kita kawin aja ya. Kamu nggak perlu mikirin biaya hidup kita,” kata Merpati sambil menunjukkan selembar cek.
Rajawali pun memeluk mesra kekasihnya itu. Mereka berciuman bibir, saling memagut lidah, dan diakhiri dengan sebuah ciuman panas.
“Ini say, cupanglah aku,” kata Merpati menyodorkan lehernya. [www.blogberita.com]

Artikel ini boleh dikutip HANYA JIKA disebutkan sumbernya www.blogberita.net DAN dibuat tautan-balik. Supaya tidak ketinggalan artikel terbaru, langgani RSS Feed, gratis!


















