Tuhan telah terlanjur dikenal berjenis “laki-laki”. Dalam bahasa Inggris, kaum monoteis lazim merujuk kepada-Nya dengan kata ganti “he” [dia; laki-laki].
Pada masa sekarang kaum feminis dengan sangat sadar menaruh keberatan terhadap hal ini. Penggunaan kata ganti maskulin untuk Tuhan ini menimbulkan persoalan dalam sebagian bahasa bergender.
Akan tetapi dalam bahasa Yahudi, Arab, dan Perancis, gender gramatikal memberikan nada dan dialektika seksual terhadap diskursus teologis, yang justru dapat memberikan keseimbangan yang sering tidak terdapat dalam bahasa Inggris.
Misalnya, kata Arab “Allah” [nama tertinggi bagi Tuhan] adalah maskulin [lelaki] secara gramatikal. Namun kata untuk esensi Tuhan yang ilahiah dan tak terjangkau, “Al-Dzat”, adalah feminin [perempuan].
Jika kita memerhatikan ketiga agama terbesar di dunia — Kristen, Islam, dan Yahudi — menjadi jelaslah bahwa tidak ada pandangan yang objektif tentang Tuhan. Setiap generasi harus menciptakan citra Tuhan yang sesuai bagi dirinya.
Artikel di atas kukutip dari buku A History of God karya Karen Armstrong yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Sejarah Tuhan.
Armstrong adalah seorang dosen berkebangsaan Inggris lulusan Universitas Oxford. Di masa remaja ia pernah menjadi biarawati Katolik Roma. Selain mengajar dan menulis buku, ia juga tercatat sebagai anggota Association of Muslim Social Sciences. Ia telah menulis belasan buku bertema agama; baik buku tentang Islam, Kristen, dan Buddha. [www.blogberita.com]

Artikel ini boleh dikutip HANYA JIKA disebutkan sumbernya www.blogberita.net DAN dibuat tautan-balik. Supaya tidak ketinggalan artikel terbaru, langgani RSS Feed, gratis!


















