Ombus-ombus Nomor 1 dari Siborongborong

Posted by Jarar Siahaan on Jun 26th, 2007 and filed under Feature. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. Both comments and pings are currently closed.

Tiba-tiba aku kangen makan ombus-ombus. Ketika aku tinggal di Indonesia, kue itulah yang sering disuguhi kawanku bila aku ke rumahnya. Suamiku pun sangat suka ombus-ombus. Maka kubuatlah sendiri.

Kurang-lebih begitulah kalimat yang pernah terbacaku di internet sekitar satu atau dua tahun silam. Kuduga si penulis bukanlah seorang Batak; ia seorang istri dan tinggal di luar negeri. Kalau aku tak lupa, bahkan di situ dia juga menulis resep kue ombus-ombus dimaksud.

Jarar Siahaan; Balige; Blog Berita

Ombus-ombus. Orang Batak Toba akrab dengan nama ini. Ia adalah kue khas dari Siborongborong, kota kecil di Kabupaten Tapanuli Utara. Siborongborong berjarak sekitar 30 menit dari tempatku tinggal di Balige, ibukota Kabupaten Toba Samosir.

Ombus-ombus ala Siborongborong adalah penganan sebangsa lepat — dalam bahasa Batak disebut lappet — yang biasanya terbuat dari tepung ketan; sama seperti ditulis seorang istri pada teras cerita di atas. Tapi khusus ombus-ombus bermerek Ombus-ombus Nomor 1, lain ceritanya; bukan dari ketan biasa seperti disangka orang selama ini — dan inilah rahasia kenapa kue yang satu ini tetap nomor 1 dan rasanya lain dari kue sejenis.

Beberapa hari lalu aku ke Siborongborong untuk sebuah liputan khusus yang mendalam tentang petani, yang mudah-mudahan tidak terlalu lama bisa kurampungkan untuk Batak News. Teringatlah aku Ombus-ombus Nomor 1. Waktu aku masih kanak-kanak, bila dibawa bepergian oleh orangtua atau kakekku, kami tak pernah lupa membeli kue ini. Kala itu, masih kuingat hingga sekarang, penjualnya ialah seorang bapak bersepeda, marganya Siahaan. Ya, Ombus-ombus Nomor 1 identik dengan sebuah kereta angin; memiliki wadah di mana kue itu ditaruh dan ditutup rapat untuk menjaganya tetap hangat.

Hampir setiap mobil angkutan antar-kecamatan maupun bus antar-propinsi berhenti di Siborongborong untuk memberi waktu bagi penumpangnya membeli kue itu. “Bungkus dulu, Amang,” pinta penumpang dari balik jendela mobil, dan Pak Siahaan akan mengembus-embus tangannya setiap akan mengambil satu kue untuk dimasukkan ke kantong plastik hitam. Kue yang panas, jadi tangan perlu diembus. Embus, itulah cikal-bakal nama kue ombus-ombus.

Bapak penjual kue itu, yang baru beberapa hari lalu kuketahui bernama asli Anggiat Siahaan alias Oppu Budi, sudah meninggal pada 1994. Tidak ada lagi kereta angin yang selalu disorongnya dengan merek Ombus-ombus Nomor 1. Kini usaha kuenya diteruskan anaknya, Walben Siahaan [49 tahun]. Tapi tidak lagi dijajakan dengan sepeda, melainkan dijual di kedai kopi milik mereka yang berada persis di pinggir jalan utama kota, di depan terminal Siborongborong.

Kalau lapo alias kedai di Tanah Batak biasanya hanya dikunjungi kaum bapak, maka kedai Ombus-ombus Nomor 1 tidak demikian. Kaum ibu, gadis remaja, dan anak-anak pun singgah di sana untuk meminum teh manis atau kopi sambil menikmati jajanan kue basah itu, apalagi pada hari pekan saat pasar tradisional ramai.

Di berbagai desa dan kabupaten di Tanah Batak, kue lepat sejenis ombus-ombus ini banyak dijual sebagai menu sarapan pagi. Tapi ia juga cocok disantap pada siang atau sore hari. Kedai Siahaan pun selalu ramai didatangi warga Siborongborong.

“Bungkus dulu, Tulang, Rp 20 ribu,” kata seorang pemuda kepada Walben di tengah wawancara dengan BatakNews, “ada tamu kami di rumah.” Dengan uang Rp 20 ribu, pemuda itu mendapat 80 biji ombus-ombus. Maka, meladeni tamu di rumah dengan suguhan ombus-ombus akan lebih murah dibandingkan pisang goreng.

Harga sebiji Ombus-ombus Nomor 1 termasuk tidak menguras dompet, cuma Rp 250. Bandingkan dengan kue sejenis di Balige, misalnya, yang dijual seribu perak per tiga biji. Selain murah, “Rasanya tidak berubah dari dulu,” kata Roberto Sinaga, seorang warga Siborongborong, yang juga kuajak berbincang sambil ngopi.

Walben Siahaan mengakui, keluarganya selalu mempertahankan rasa lepat mereka persis seperti pertama kali diracik ayahnya sejak era 1960-an. “Yang paling utama, bahannya bukan ketan seperti yang biasa dipakai membuat lepat. Tapi kami memakai beras biasa, namanya Boras si Tambun,” kata sarjana yang dulu sengaja diminta ayahnya balik kampung demi meneruskan usaha lepat ombus-ombus.

Menurutnya, lepat yang terbuat dari ketan tidak cocok disebut sebagai ombus-ombus. “Kalau yang begitu namanya lappet pulut. Kawan-kawan kita di Jawa pun banyak yang bisa membuatnya.”

Lalu ia membeberkan lebih lanjut. Bahan baku beras tadi, katanya, tidak boleh ditumbuk dengan mesin atau logam, tapi harus dengan kayu; sebab akan berpengaruh pada rasa. Kelapa parut yang menjadi isi ombus-ombus juga tidak boleh bercampur air. Maka setelah buah kelapa dibelah, jangan langsung diparut sebelum airnya benar-benar mengering. Kalau tidak, lepat akan cepat basi dan terasa lengket. Kelapa yang dipakai tidak boleh terlalu muda atau terlalu tua, jadi harus benar-benar kelapa pilihan.

Ia mengklaim, kalau lepat lain akan basi dalam satu hari, maka Ombus-ombus Nomor 1 tetap akan sedap dimakan meskipun dibiarkan tiga hari tanpa harus dimasukkan ke kulkas.

Satu hal lagi yang menjaga aroma dan kenikmatan ombus-ombus keluarga Siahaan ini adalah pembungkusnya. Mereka tidak memakai daun pisang lokal, tapi mendatangkannya dari daerah Tebingtinggi. Tiga kali seminggu daun pisang Tebingtinggi diantar ke kedai ini.

“Kalau daun pisang Tebing tidak sobek meskipun dilipat-lipat,” ujar Walben sembari tangannya, dengan sangat cekatan dan cuma dalam hitungan dua atau tiga detik, melipat selembar daun menjadi bentuk kerucut. Dan memang betul, setelah lipatannya dibuka kembali, helai daun pisang tersebut tidak koyak; berbeda dengan daun pisang setempat. Pembungkus beginilah yang ikut menjaga cita-rasa Ombus-ombus Nomor 1, terutama ketika dikukus dalam dandang.

Istilah ombus-ombus sendiri, kata Walben, adalah ciptaan ayahnya, Anggiat Siahaan. Dulu, di era 60-an, sejumlah warga Siborongborong yang membuat lepat mengadakan pertemuan semacam rapat. Mereka hendak bermufakat untuk menamai lepat ala Siborongborong, agar bisa dibedakan dengan lepat dari daerah lain. Kecuali Anggiat, semua menyodorkan nama “lappet bulung tetap panas”.

Nama inilah yang diprotes orangtua Walben. “Bagaimana mungkin lepat ini tetap panas sampai sore, padahal kita bikin pukul lima pagi, lalu kita bawa ke kota untuk dijual.” Ketika itu memang para pembuat lepat masih tinggal di desa-desa, dan mereka menjajakannya ke Siborongborong. “Lalu bapakku akhirnya membuat nama sendiri, yaitu ombus-ombus, yang tidak selalu berarti harus panas,” ujar Walben. Dan hingga kini, akhirnya semua lepat buatan warga Siborongborong dinamai sebagai ombus-ombus.

Ombus-ombus sudah menjadi legenda bagi orang Batak, bahkan telah diabadikan menjadi sebuah lagu daerah yang populer. Seorang Letjen [Purn] TB Silalahi, penasihat Presiden SBY yang kampungnya di Balige, pun mengakui kenikmatan kue ini. Tatkala menikahkan anaknya dua tahun lalu di Balige, Silalahi sengaja memesan ribuan biji Ombus-ombus Nomor 1 dari Siborongborong untuk dicicipi tamunya; padahal di Balige banyak pembuat lepat. Juga ketika dulu Presiden Megawati berkunjung ke Tarutung, pihak pemerintah kabupaten pun memborongnya.

Bagi keluarga Walben Siahaan, Ombus-ombus Nomor 1 adalah berkat melimpah dari Tuhan. Mereka bisa kuliah dan hidup berkecukupan karena kue itu. Bahkan kini ia telah memiliki lima mobil angkot dengan merek CV Ombus-ombus, yang dikelola istrinya. Walben sendiri saban hari secara penuh mengelola kue lepat di kedai kopi mereka. Sekitar tiga ribu biji lepat terjual setiap harinya. Engkau bisa menaksir sendiri berapa keuntungannya.

Bila engkau melintas di Siborongborong, singgahlah untuk menyeruput secangkir kopi, dan cicipi kue halal itu. “Di mana kedai Ombus-ombus Nomor 1?” begitulah engkau akan bertanya pada orang-orang, dan semua akan menjawab dengan pasti. [www.blogberita.com]

tafbutton blue16 Ombus ombus Nomor 1 dari Siborongborong

Artikel ini boleh dikutip HANYA JIKA disebutkan sumbernya www.blogberita.net DAN dibuat tautan-balik. Supaya tidak ketinggalan artikel terbaru, langgani RSS Feed, gratis!

Masukkan email Anda untuk BERLANGGANAN GRATIS:

Setelah diklik, ikuti petunjuk dari FeedBurner, cek email Anda.

Jumlah pelanggan Blog Berita via RSS & email Cara tampilkan fotomu pada komentar. Jumlah Pembaca KLIK DI SINI

Comments are closed

Advertisement

Arsip sejak Maret 2007

Gratis RSS-Email-Twitter

Klik Play-Tonton Video


Log in / BLOG BERITA mengizinkan konten web ini dikutip dengan syarat menyebutkan sumbernya www.blogberita.net dan membuat tautan-balik. Pengelola Blog Berita wartawan freelance Jarar Siahaan tidak bertanggung jawab atas komentar dan artikel tulisan pembaca. Balige Kabupaten Toba Samosir Provinsi Sumatera Utara Indonesia. Berita terbaru Artikel menarik Video unik terbaik.