Kopi paling genit

Posted by Jarar Siahaan on Jul 18th, 2007 and filed under Feature. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. Both comments and pings are currently closed.

Seperti halnya di desa-desa dan kota lain di kawasan Tanah Batak, di Balige pun banyak warga yang memulai hari-harinya dengan minum kopi di pagi hari. Kaum bapak biasanya ngopi ke kedai kopi terdekat meskipun di rumah sang istri sebenarnya bisa menyuguhkan kopi; karena di kedai mereka bisa berinteraksi dengan warga lain sembari membahas isi berita koran pagi ini. Orang Batak dikenal suka membahas politik, dan tempat paling ideal adalah kedai kopi — yang pada malam hari menjual tuak.

Jarar Siahaan; Balige; Blog Berita

Perhatikanlah data ini. Kemarin sore aku menghitung jumlah kedai kopi, yang dalam istilah Batak disebut lapo, di sekitar rumahku di Jalan Sisingamangaraja, Balige. Aku hanya menghitung kedai kopi di arah sebelah kanan rumahku saja, jadi kedai yang berada di sebelah kiri rumahku tidak kuhitung. Berapa totalnya?

Aku mencatat hanya 25 rumah, toko, kedai, kantor swasta, dan bengkel di sebelah kanan rumahku; dan dari angka 25 itu terdapat sebanyak enam kedai kopi. Di seberang jalan, aku juga menghitung 25 deretan rumah, toko, kedai, kantor swasta, dan bengkel ke arah sebelah kanan; dan dari jumlah itu terdapat delapan kedai kopi.

Warga Balige juga banyak yang berkebun kopi. Umumnya mereka menjual dalam bentuk biji kopi basah ke sejumlah toke kopi di Kabupaten Tobasa maupun tetangga, Kabupaten Tapanuli Utara, yang kemudian mengeringkan kopi itu dan menjualnya dengan harga tinggi ke Jawa hingga luar negeri.

Baru-baru ini aku membaca di suratkabar bahwa jaringan kedai kopi terbesar dunia, Starbucks, bahkan sampai turun ke Kabupaten Mandailing Natal, Sumut, untuk memborong kopi dari sana.

Sejumlah daerah Tanah Batak, katakanlah misalnya Sidikalang, Siborongborong, dan Lintong Nihuta, dikenal sebagai penghasil kopi yang bermutu. Tapi itulah, orang Batak hanya menanam kopi lalu orang pintar membelinya untuk kemudian dijual kepada pihak pengelola kopi. Setelah dipermak sana-sini, kopi tersebut muncul dalam kemasan bernama Indocafe Cappuccino atau Coffeemix atau Espresso atau Tora Bika yang kita beli dengan harga lebih mahal.

Kenapa tidak ada orang Batak yang punya ilmu di bidang cita-rasa kopi berkreasi agar muncul suguhan kopi nikmat bernama Kopi Batak? Orang Bali jelas lebih kreatif dibanding kita. Bacalah berita dari Metro TV ini.

Di Kota Denpasar, Bali, sebuah kedai menyulap beberapa jenis kopi menjadi menu utama untuk menggaet pengunjung. Hasilnya, kedai kopi ini banyak disinggahi berbagai kalangan untuk sekadar menikmati keragaman rasa dan sajian kopi yang khas.

Tak hanya pengunjung lokal, wisatawan asing pun berlomba untuk menikmati rasa kopi yang disajikan. Beberapa kopi yang disajikan berasal dari luar negeri, seperti kopi asal Thailand, Vietnam dan China. Namun, menu kopi khas Indonesia, khususnya kopi Bali juga tersedia sebagai menu pilihan. Rasanya juga tidak kalah dengan kopi asal mancanegara. Beberapa kopi lokal, seperti kopi luak, kopi Bali asli, kopi bercampur cuka, hingga kopi viagra siap tersaji.

Kopi luak, misalnya. Kopi asli Bali ini dibeli dari petani dan telah dikonsumsi oleh binatang luak, sehingga cukup sulit diperoleh di pasaran. Sementara kopi viagra dicampur bahan tertentu hingga dianggap bermanfaat bagi keperkasaan. Kopi dengan bermacam sajian itu dijual dengan harga mulai dari Rp 10 ribu hingga Rp 200 ribu per cangkir.

Memang, kopi telah menjadi salah satu minuman paling banyak dikonsumsi di dunia. Dua jenis tanaman kopi yang terkenal adalah kopi arabika dan kopi robusta. Jenis arabika inilah yang termahal karena mengandung kafein lebih rendah dibandingkan robusta.

Dan petani di Tanah Batak pun menanam jenis arabika yang mahal itu. Tapi orang Batak, seperti umumnya orang Indonesia, konon lebih suka menyeruput kopi jenis robusta, karena rasanya lebih keras.

Kita pun meminum kopi tubruk itu. Dan orang bule menikmati kopi yang kita tanam setelah dipoles dan disajikan secara cantik dan memikat.

“Kopi itu sangat berkarakter,” kata Ben, tokoh dalam cerpen Dewi Lestari. “Seperti pilihan anda ini, Cappuccino, … adalah kopi paling genit. Seorang penikmat Cappuccino sejati pasti akan memandangi penampilan yang terlihat di cangkirnya sebelum mencicip. Kalau dari pertama sudah terlihat acak-acakan dan tak berkonsep, bisa-bisa mereka nggak mau minum.” [www.blogberita.com]

tafbutton blue16 Kopi paling genit

Artikel ini boleh dikutip HANYA JIKA disebutkan sumbernya www.blogberita.net DAN dibuat tautan-balik. Supaya tidak ketinggalan artikel terbaru, langgani RSS Feed, gratis!

Masukkan email Anda untuk BERLANGGANAN GRATIS:

Setelah diklik, ikuti petunjuk dari FeedBurner, cek email Anda.

Jumlah pelanggan Blog Berita via RSS & email Cara tampilkan fotomu pada komentar. Jumlah Pembaca KLIK DI SINI

Comments are closed

Advertisement

Arsip sejak Maret 2007

Gratis RSS-Email-Twitter

Klik Play-Tonton Video


Log in / BLOG BERITA mengizinkan konten web ini dikutip dengan syarat menyebutkan sumbernya www.blogberita.net dan membuat tautan-balik. Pengelola Blog Berita wartawan freelance Jarar Siahaan tidak bertanggung jawab atas komentar dan artikel tulisan pembaca. Balige Kabupaten Toba Samosir Provinsi Sumatera Utara Indonesia. Berita terbaru Artikel menarik Video unik terbaik.