Orang pajak, orang Batak, dan korupsi

Ia hendak mendebat seorang pengusaha yang menilai pejabat Batak di kantor pajak sangat korup. Tapi ia teringat kawannya — seorang Batak, bekerja di kantor pajak — yang baru membangun rumah keduanya senilai … Rp 5 miliar.

Artikel berikut ini ditulis untuk Batak News oleh Suhunan Situmorang dari Jakarta. Suhunan adalah seorang advokat dan novelis.

BOLEH JADI ANDA tak senang membaca tulisan ini. Bisa jadi pula akan menuduh saya tendensius mencari-cari kelemahan manusia Batak, atau cuma mengada-ada yang sebetulnya tak ada. Sesungguhnya tak begitu, dan terimakasih bila anda percaya. Sebetulnya saya amat bangga menjadi manusia Batak dan amat mencintai berbagai hal menyangkut kebatakan itu. Bila ada kehidupan kedua di bumi ini dan Sang Khalik bertanya: “Kau mau jadi manusia beretnis apa dan ingin dilahirkan di wilayah mana?” Maka, kujamin, jawabanku adalah: “Kembali jadi manusia Batak dan dilahirkan di wilayah Samosir-Danau Toba. Tapi, Tuhan, kalau bisa memohon, buatlah Tano Batak itu lebih subur.”

Tapi saya tak mau mencintai sesuatu dengan cara membutakan mata. Almarhum kedua orangtua saya yang amat saya hormati dan cintai, sebagaimana anda semua pada orangtua masing-masing, pun sering saya koreksi, bahkan kritik, bila menurutku perlu dan harus. Saya pun akan mengkritik istri dan anak-anak di rumah bila sikap, perbuatan, atau pikiran mereka “tak sepatutnya”. Sebaliknya, saya pun berupaya keras agar siap dikritik, sepanjang tak mengandung unsur kebencian. Saya justru merasa bersalah kalau tak membuat koreksi, atau kritik, atas sikap-perbuatan orang-orang yang saya cintai, bila menurutku tak benar. Dengan demikian, tujuan saya mengkritik sikap dan perilaku (sebagian) orang Batak, adalah karena dilandasi kecintaan belaka.

Saya baru saja menyelesaikan satu pekerjaan yang bagiku terbilang melelahkan, yakni mendamaikan dua pihak yang berseteru — di kalangan praktisi hukum sering disebut dispute settlement. Klien kami, sebuah perusahaan HPH, bersengketa dengan satu grup perusahaan HPH raksasa mengenai batas wilayah HPH di wilayah Kalimantan Barat. Singkat cerita, setelah tiga bulanan berunding, pihak lawan klien kami sepakat berdamai. Perjanjian perdamaian pun dibuat, walau bolak-balik direvisi.

Untuk merayakan perdamaian tersebut, salah satu bos lawan klien kami itu mengundangku makan malam di sebuah restoran sea-food di sebuah hotel berbintang lima. Meski makanannya amat lezat, saya hanya makan sedikit, semata-mata karena takut membangkitkan kemarahan asam-urat saya yang sudah lama diwanti-wanti dokter Marulam Panggabean — ia orang Sibolga, spesialis penyakit dalam di RS Cikini, orangnya sabar dan ramah.

Sama sekali tak kuduga, sambil mencicipi makanan, si bos WNI keturunan berumur 75 tahun namun masih fit itu, berkata begini: “Saya heran melihat orang-orang Batak sekarang. Semakin rakus. Tidak seperti dulu.”

Saya terhenyak, perasaan yang kelewat sensitif ini langsung tersinggung. “Maksud Bapak?”

“Waaahhh,” ujarnya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya yang botak, “Kami paling kewalahan kalau menghadapi orang Batak di kantor-kantor pemerintah, khususnya kantor pajak.”

Sungguh tak ada basa-basinya kawan satu ini, pikirku. Masak langsung menembak sukuku dua belas pas tanpa permisi atau maaf? “Maksud Bapak, mereka sering memeras?” tanyaku. “Tapi kan bukan hanya orang Batak saja yang sering melakukan korupsi dan pungli di negara ini?”

“Betul, tapi menurut pengalaman kami, orang-orang Bataklah yang paling ganas. Kalau dari suku lain, dikasih sekian sudah senang. Tidak mematok jumlah. Tidak memeras.”

Lalu dibeberkannyalah pengalaman mereka (ada sepuluh biji perusahaan grup mereka) yang acap diintimidasi pegawai-pegawai pajak dari suku Batak, namun ujung-ujungnya minta imbalan berupa duit! “Mau Batak Kristen kek, Islam kek, sama saja!” ucapnya emosional, tanpa kuselidik. “Rakusnya minta ampun! Bukan begitu Pak H*** ?” tanyanya pada salah seorang asistennya yang ikut dalam perjamuan malam tersebut. Pak H*** ini orang Batak Mandailing, beragama Islam, sudah 30 tahun ikut grup PT A*** K*** itu.

Saya manggut-manggut dengan perasaan malu sekaligus kesal pada si bos itu. “Tapi kan Pak, mereka bisa begitu karena tawaran dari pengusaha seperti Bapak juga?” balasku untuk menyalahkan pengusaha. “Mana mungkin mereka melakukan tindakan seperti itu kalau pengusaha seperti Bapak siap membayar pajak sesuai dengan kewajiban? Jadi, semacam hubungan mutual-simbiosislah. Sama-sama diuntungkan.”

Acara makan malam itu jadinya lebih banyak membicarakan permasalahan korupsi dan bobroknya mentalitas bangsa ini, bahkan melebar hingga sikap munafik sebagian agamawan yang suka menjual-jual keselamatan dan sorga bagi umat/jemaat tetapi sejatinya demi memperkaya diri.

Diam-diam perasaan saya tetap tak nyaman karena sudah ditohok tuduhan pengusaha kayu berperut buncit itu. Sebetulnya saya masih ingin mendebat “tesis”-nya, karena menurutku, faktor suku tak ada korelasinya dengan perilaku korup. Tak jadi, karena tiba-tiba teringat seorang kerabat jauh, pegawai kantor pajak, teman satu arisan marga istri. Umurnya belum 40 tahun. Masih muda. Tahun lalu ia mengundang kami syukuran rumah barunya yang kedua di bilangan elit Jakarta Timur sambil arisan.

Saat itu, kami semua peserta arisan, cukup lama terbengong-bengong menyaksikan rumahnya yang besar, megah, dan amat mewah itu. Tanpa merasa malu, istrinya begitu lincah menjelaskan bahan-bahan bangunan rumah mereka yang materialnya, katanya, banyak diimpor dari Hongkong (seperti marmer) dan Singapura (kunci-kunci, besi tempahan, kaca ukir, dll).

Bila anda gemar menonton sinetron-sinetron tivi, interior dan peralatan rumah kerabat jauh kami itu mirip dengan rumah yang kerap ditampilkan tauke sinetron Raam Punjabi dalam sinetron buatannya. Kecuali ruang dapur, seluruh ruangan disejukkan AC. Kursi dan sofanya buatan Italia. Mewah, luks, amat empuk saat diduduki.

Tivi layar datar seukuran separuh meja pingpong menempel di tembok ruang tivi, lengkap dengan perangkat audionya. Nikmat kalilah menonton piala dunia sepakbola di situ. Dapurnya? Kalau familiku yang tinggal di pelosok Samosir sana melihatnya, pasti dikira ruang tamu. Di garasi yang lapang, dua mobil berharga di atas tiga ratus jutaan nongkrong. Saya tak menanyakan, berapa jumlah mobilnya.

Usai makan, kaum lelaki yang umumnya berumur setengah baya, satu per satu bergeser ke teras luar menghadap taman yang asri, sebagian merokok. Satu sama lain saling memandang dengan senyum sinis tanpa banyak bicara.

“Bila rumahnya saja sudah begitu mewahnya, berapa ya jumlah depositonya?” tanya seorang ipar dengan nada mencibir. Ekonomi iparku ini lagi susah, membuat istrinya sampai jualan kue-kue basah di kantin sekolah dasar dekat rumah mereka untuk menambah nafkah rumahtangga.

Tahukah anda berapa total uang PNS yang masih muda itu habis terpakai untuk pembangunan rumah termasuk perabotan mewah dan tanahnya?

Menurut istrinya, yang disampaikan di tengah acara makan, sekitar Rp 5 miliar!

Makjang! Orang Medan bilang: “Jago kali dia mencari duit, ya!” [www.blogberita.com]

Koneksi Internetmu lambat? Tak sempat tiap hari membaca web? Ini solusinya. ©Diizinkan mengutip artikel Blog Berita ini dengan syarat membuat tautan-balik.
Kirim artikel ini ke teman Kirim artikel ini ke teman Donasi Hubungi Blog Berita

Comments are closed.