Dasar tokoh sontoloyo. Batak pula.
Tidak sedikit orang di kampungku, Balige, yang sering mengaku diri sebagai tokoh. Ada tokoh adat, ada tokoh agama, ada tokoh masyarakat, ada pula tokoh pemuda.
Jarar Siahaan; Balige; Blog Berita
Anehnya, yang mengaku tokoh adat malah perilakunya sering tak beradat; seperti suka main judi dan main … perempuan. Yang mengaku tokoh agama malah memuji-muji dan mendoakan pejabat korup agar makin dicintai rakyat. Yang mengaku tokoh masyarakat, bah, entah kapan pula masyarakat pernah menganggapnya sebagai tokoh. Yang mengaku tokoh pemuda, herannya, malah sudah berumur dan bikin sekolah dari usaha judi.
Rusak. Sudah rusak. Gampang sekali jadi tokoh.
Salah satu contoh kasus adalah berita yang kutulis tahun lalu ketika aku masih aktif sebagai wartawan suratkabar; tentang seorang ketua lembaga adat yang tertangkap basah sedang bermain judi, lalu dijebloskan ke penjara. Sebelum ditangkap itu, dia baru beberapa bulan saja dilantik oleh Bupati Tobasa Monang Sitorus sebagai ketua lembaga adat. Mau tahu apa komentarnya ketika diwawancarai wartawan? Pasti engkau geram membacanya.
Inilah ucapannya: “Kita memang perlu mendukung upaya polisi dan pemkab dalam upaya pemberantasan judi dan penyakit sosial lainnya. Karena judi membuat orang menjadi malas bekerja.” Itu benar-benar diucapkannya, dan juga dikutip sejumlah koran.
Gila! Tak tahu malu! Dasar tokoh adat sontoloyo!
Tak lama setelah kejadian itu, ketika meliput sebuah acara di Rutan Balige, aku melihat seorang tokoh lain ternyata juga masuk bui. Orang ini sering tampil dalam acara-acara pemda sebagai tokoh adat atau terkadang tokoh masyarakat. Ketika kutanya sipir, kasus apa yang membuatnya masuk bui, dijawab: bermain judi.
Kembali ke soal gelar tokoh. Ada sebagian orang yang memang gila masuk koran dan gila berpidato dalam acara-acara seremonial dengan sebutan sebagai tokoh. Tapi ada juga gelar tokoh yang diberikan oleh kalangan pers. Yang paling gampang adalah contoh di Medan. Semua orang mengenalnya: Seorang lelaki tua yang kaya-raya, memimpin sebuah organisasi pemuda yang kerap dituding sebagai mafia judi dan pernah dijuluki majalah nasional sebagai “Godfather dari Medan”. Koran sering menulisnya sebagai tokoh pemuda.
Pers tidak seharusnya melekatkan predikat positif pada orang-orang yang pekerjaannya negatif. Hati-hati, label itu justru akan memasyarakat, membentuk opini publik, dan akhirnya orang-orang jahat bisa dianggap sebagai pahlawan.
Contoh lain julukan tokoh adalah ini. Bupati Tobasa Monang Sitorus pernah dalam sebuah acara, di hadapan investor RRC dan sejumlah undangan, memperkenalkan seorang wartawan sebagai tokoh pers. Tidak tanggung-tanggung: tokoh pers nasional. Engkau tahu siapa wartawan dimaksud? Pemred koran Medan? Redaktur hebat dari Jakarta? Bukan. Hanya seorang reporter yang sehari-hari bertugas di Balige dan beritanya sering memuji-muji pejabat korup. “Saya perkenalkan, Saudara ***, tokoh pers nasional,” kata Bupati kepada para tamunya dari luar negeri itu. Banyak undangan, termasuk para PNS dan wartawan, senyum-senyum saling berbisik.
Engkau pikir aku cemburu karena bukan aku yang dibilang sebagai tokoh pers di Balige? Engkau salah, kawan. Justru aku paling tak suka bila disebut sebagai tokoh. Pernah seorang kawan wartawan mengirim SMS agar aku segera datang menghadiri rapat yang digelar seorang pemborong dengan mengumpulkan wartawan se-Tobasa. Kawanku itu bilang: “Cepat kau datang, harus kau yang bicara di sini. Kulihat pertemuan ini sudah mulai tak benar.”
Sampai beberapa jam aku tak mau datang ke sana, karena aku pun sudah bisa mencium gelagat tak baik diadakannya rapat itu. Yang menghimpun wartawan tersebut adalah seorang pemborong yang ketika pilkada merupakan tim sukses Bupati Monang Sitorus. Dia bekas tentara dan pernah anggota DPRD.
Tapi karena kawanku itu terus mendesak, akhirnya aku ke sana. Aku tiba sekitar 10 menit sebelum rapat ditutup. Begitu aku duduk, seorang panitia, yang juga pemborong dan bekas tim sukses Bupati, berdiri dan berkata: “Karena Lae Jarar Siahaan, wartawan senior yang sudah kita kenal dan tidak kita sangsikan lagi, baru tiba, maka saya sarankan agar namanya juga dimasukkan sebagai formatur. Saya pikir kita semua tidak keberatan.”
Bah, langsung panas hatiku “dijilat-jilat” seperti itu. Begitu dia duduk, aku langsung berbicara. “Terima kasih, Lae, aku menghargai itu. Tapi aku ingin sampaikan dua hal. Pertama, aku tidak berkenan disebut wartawan senior. Karena predikat senior bagi jurnalis memiliki kriteria tertentu; bukan semata-mata karena aku sudah 12 tahun jadi wartawan lantas layak dibilang senior. Bukan, tidak segampang itu. Aku tidak mau seperti wartawan lain yang mengaku diri senior hanya karena dia sudah puluhan tahun jadi wartawan. Jurnalis baru layak disebut senior terutama bila karyanya pernah secara nyata berdampak positif atau membawa perubahan bagi masyarakat umum. Dan aku merasa belum pernah menulis sesuatu yang seperti itu.”
Lalu kulanjutkan: “Kedua, aku tidak tahu apa latar belakang dan tujuan diadakannya pertemuan ini, jadi aku tidak bersedia namaku dimasukkan sebagai pengurus atau formatur.”
Semua terkesiap. Tak lama sesudahnya, rapat bubar.
Mau tahu apa sebenarnya maksud rapat itu? Para pemborong tersebut mengumpulkan wartawan untuk membentuk sebuah organisasi pers di Tobasa karena saat itu sedang panas-panasnya berita dugaan korupsi Bupati. Wartawan hendak dibungkam. Hingga detik ini wadah itu tak jadi dibentuk. [blogberita.com]

Artikel ini boleh dikutip HANYA JIKA disebutkan sumbernya www.blogberita.net DAN dibuat tautan-balik. Supaya tidak ketinggalan artikel terbaru, langgani RSS Feed, gratis!


















