Tak ada pers bebas, blog adalah kebebasan

“Tulislah, dan saya akan bisa mengenal siapa Engkau.” Mulai Sartre, Alva Edison, Balzac, Soe Hok Gie, Sindhunata, Iwan Simatupang, Harry Roesli, hingga [numpang beken] Jarar Siahaan.

Esai ini ditulis oleh Tonggo Simangunsong, seorang sarjana sastra Inggris yang bekerja sebagai wartawan di Medan. Dia belum lama jadi jurnalis, tapi aku terkagum-kagum pada referensinya yang cukup luas atas karya-karya maestro dunia — hal yang sama sekali tidak kumiliki. Tonggo membaca buku-buku filsafat dan sejarah. Ia juga bermain musik.

Judul asli artikelnya ini ialah Batak News: Keresahan demi Sebuah Perubahan. Meski sebagian saja isi artikel ini mengulas blog Batak News, tapi satu-dua kalimatnya yang memujiku, mau tak mau, membuatku “terbebani”.

KEINGINANKU DAN KEINGINANMU akhirnya bertemu dalam sebuah kecelakaan waktu yang tak terduga, hingga esai ini ada. — Untuk Bang Jarar Siahaan yang kini telah kuanggap menjadi guruku.

Saya ingin memulai tulisan ini dengan apa yang sekali waktu diungkapkan oleh Iwan Simatupang bahwa inspirasi bukanlah segalanya. Inspirasi seringkali didapat dari realitas kehidupan. Tapi yang terutama adalah observasi. Maka sebuah karya besar pun rupanya seringkali tercipta karena sesuatu yang tak sengaja. Yang menjadi inspirasi. Selanjutnya dipadukan dengan imajinasi. Sama halnya seperti apa yang suatu kali menimpa Balzac.

Suatu hari di boulevard Kota Paris, ia melihat sesuatu kejadian remeh temeh. Ia lalu pulang tergesa-gesa ke rumahnya. Mengunci diri bermalam-malam di kamarnya. Meneguk bercangkir-cangkir kopi tubruk. Lalu, terciptalah sebuah karya agung: Comedie Humaine.

Adakah sebuah karya besar selalu tercipta dari sebuah inspirasi besar? Ternyata tidak selalu. Thomas Alva Edison pun sebenarnya hanya menggunakan 1 persen inspirasinya, selebihnya adalah observasi berulang-ulang. Latih! Dan latih! Begitulah kita dimotivasi untuk tidak pongah. Demi ketajaman indera.

Wilson Nadeak mempertegas, observasi seorang penulis melebihi observasi seorang awam. Ia memiliki kemampuan untuk melihat apa yang tidak dapat dilihat oleh awam secara kasat mata. Seorang penulis memiliki indera keenam. Indera keenam yang dipandu oleh hati nurani. Sehingga, tulisan yang berdasarkan observasi itu kelak mampu menggugah siapa pun yang membacanya.

Barangkali, hanya dengan demikianlah adanya sebuah tulisan disebut berbobot. Ia bukan sekadar melukiskan, tapi juga sekaligus mampu menggugah hati kita. Mengajak kita merenung, menyelidiki arti di baliknya. Lalu, tergeraklah hati kita untuk melakukan sesuatu yang baik. Dan itulah menurut saya inti sebuah perubahan.

Adakah tulisan semacam ini pernah Anda baca? Pernahkah hati Anda tergugah setelah membaca sebuah tulisan, yang meskipun sekadar mengungkap persoalan remeh temeh, tapi menyimpan sejuta inspirasi? Dan inilah sebenarnya yang menggerakkan hati saya untuk menuliskan artikel ini.

Bukan hanya ketergugahan akibat tak jarang terhentak oleh kejadian remeh temeh itu tadi, tapi juga oleh persoalan serius yang sering diungkapkan di blog ini; Batak News. Yang meskipun terkadang dengan lantang diteriakkan dan, entahlah, apakah seruan itu masih bisa didengar oleh mereka yang menjadi sasarannya, yakni kita sendiri. Akan lebih baik jika perubahan itu terjadi.

Sebenarnya inilah tanggung jawab moral seorang penulis. Yang juga tak jauh berbeda dengan seorang seniman, yang akan selalu merasa bertanggung jawab dengan realitas yang menjadi tidak etis secara moral. Ia tidak akan bisa tidur sebelum melakukan sesuatu atas keresahan akibat ketimpangan moral itu. Seperti keresahan yang juga menimpa diri pendiri blog ini: Jarar Siahaan.

Saya ingin menegaskan apa kata Sartre bahwa seni bukan yang indah saja. Ia juga wujud perlawanan atas penindasan. Adakah, kawan, Engkau melihat melulu yang indah dikemukakan dalam blog ini? Saya rasa tidak. Melainkan sebuah realitas penindasan, korup, kemunafikan, kebebalan, kegelian, keterkekangan, ketidakberdayaan yang selalu hampir dapat diungkap dalam satir bahkan komedi tragis. Dan itulah yang — menjadi — bagi kita adalah seni. Seni demi sebuah perubahan.

Jelas bahwa penindasan bukanlah hal yang mengandung estetika melulu, yang sejak lama diagungkan menjadi roh atau sacred value sebuah karya seni. Yang utama adalah bagaimana seniman mengubah realitas absurd itu menjadi sesuatu yang bermakna. Apakah Anda juga pernah mengalami apa yang saya rasakan? Saya yakin, pernah.

Saya ingin mengaitkan apa yang saya ungkapkan tadi dengan blog ini. Adakah media yang bisa memberikan ruang dan waktu untuk kita berteriak lantang? Saya rasa tidak. No free press! Bullshits! Sekali lagi marilah kita berterima kasih kepada ilmu pengetahuan dan teknologi. Sebab sebuah peradaban baru telah datang. Mari sambut blog. “Welcome to revolution!”

Saya melihat euforia teknologi itu juga menjalar ke setiap pelosok bumi, termasuk Balige. Menembus segala batas ruang dan waktu, ras, agama dan kelas sosial. Maka menurut saya, karena itu jugalah terlahir Batak News. Yang bagi saya juga adalah sebuah perlawanan atas kemunafikan pers yang terjadi di negeri kita tercinta ini.

Inilah wujud karya akibat keresahan mendalam penulisnya setelah bergelut dalam bayak coretan kehidupan. Setelah observasi yang tajam, yang barangkali juga berawal dari kejadian remeh-temeh yang sering dilupakan dan diabaikan itu. Peristiwa-peristiwa yang terjadi di sebuah kota kecil di pinggir Danau Toba, yang memang sering diabaikan, entah mengapa.

Yang juga bisa dilihat, blog ini setidaknya lahir demi idealisme. Juga demi sebuah kebebasan atas nama kebenaran hari nurani. Yang jelas, inilah nilai ideal yang selalu bisa saya cerna dari tulisan yang mengemuka di setiap halaman Batak News, bahwa maksudnya adalah sebuah perubahan. Perubahan dalam arti luas.

Tak jauh bedanya dengan apa yang pernah sekali waktu diserukan oleh Harry Roesli: “Jangan pernah merasa takut! Yang takut cuma cerucut. Besok atau lusa, perubahan pasti datang. Sadar atau tidak. Dituntut atau diarahkan. Terus berjuang. Jangan pernah menyerah demi sebuah kepercayaan.”

Hanya persoalannya terbentur soal waktu sebagaimana pula Soe Hok Gie menyerukan: “Buat apa menghindar? Cepat atau lambat. Suka atau tidak suka. Perubahan hanya soal waktu. Semua boleh berubah. Semua boleh baru. Tapi satu yang harus dipegang: Kepercayaan.” Sampai kapan, kita belum tahu. Yang jelas, waktu adalah perubahan. Meski, terkadang pedih. Hadapi saja. Bagaimana kita menghadapinya? Setidaknya inilah ajakan yang nampaknya ingin diserukan oleh Batak News.

Saya juga ingin menegaskan apa yang telah ditunjukkan oleh blog ini bahwa barangkali benar adanya ucapan masyhur yang mengatakan: “Tulislah dan saya akan bisa mengenal siapa Engkau.”

Nyatanya kita tidak menyuruhnya untuk mendirikan blog ini. Tidak. Tapi kita diajak. Diajak berkenalan. Diajak untuk bersatu dalam satu visi: kebenaran harus ditegakkan. Karena itulah kita bertemu dan berkenalan satu sama lain lewat blog ini, walau barangkali banyak pemisah: agama, suku, kelas sosial dan lain sebagainya, yang bagi saya seharusya tidak menjadi penghalang.

Sebelum saya mengenal pendiri Batak News, kami sudah berkenalan satu sama lain lewat tulisan-tulisannya di suratkabar. Ia memikat saya, menggugah saya dengan, contohnya, salah satu tulisannya yang menceritakan betapa pahitnya kehidupan seorang janda pemecah batu di pinggiran Danau Toba di sebuah koran terbitan ibukota. Saya terharu dan berimajinasi tentang sosok penulisnya. Tentunya, bukan karena tulisan itu saja, tetapi tak mungkin saya ungkapkan satu persatu di sini.

Yang jelas bahwa bukan Kompas saja yang pernah memiliki penulis feature human interest handal, Gabriel Possenti Sindhunata, tapi juga Jarar Siahaan, yang sudah malang melintang selama 12 tahun menjadi wartawan tapi selama itu juga ia masih merasa belum memiliki media yang pas untuk melampiaskan idealismenya. Maka selama itu juga ia terkungkung.

Inilah awal perkenalan kami. Selain karena rutinitas absurd saya sebagai wartawan, dengan penasaran saya menemuinya di rumah mungilnya di tepi Jalan Sisingamangaraja, Balige, yang juga adalah kampung nenek moyangku. Bertemu dan bersapa. Meneguk kopi, walau hanya secangkir karena desakan deadline yang rasanya seperti penguasa monarki absolut bagi setiap wartawan.

Bertemu dengan anaknya yang lincah dan ganteng: Gibran Siahaan — sebuah nama yang juga berawal dari keresahan. Kegetiran hidup. Sama halnya seperti Kahlil Gibran yang selalu resah.

Perkenalan itu bukan pula terjadi setelah suatu waktu di penghujung Juli 2007, ketika saya membaca sebuah artikel di majalah ibukota, Applaus, yang membahas geliat tren blog akhir-akhir ini dan mengutip ucapan Enda Nasution, seorang blogger kondang Tanah Air.

“Menurut Enda, beberapa kota sudah membentuk komunitas blogger, a.l. Bandung, Malang, Makassar, dan Semarang. Medan sendiri masih tampil individual — meski kontennya cukup berbobot, seperti bataknews.wordpress.com besutan jurnalis Jarar Siahaan.” (Applaus, edisi 51; 21 Juli – 3 Agustus 2007).

Bukan. Bukan karena itu kawan. Tapi, karena keterpikatan saya atas idealismenya, pengorbanannya dan kecerdasannya.

Kecerdasannya yang menggelitik, liar, kadang galak, tetapi juga bisa melucu. Pengorbanannya meninggalkan segala iming-iming materi dan jabatan di suratkabar, hingga akhirnya ia harus “mengemis” sebungkus rokok dari istrinya yang berjualan oli, pulsa HP, dan mengolah sawah. Dan idealismenya demi tegaknya kebenaran. Sekali lagi bukan karena pencitraan yang sering menjadi momok pada media massa akhir-akhir ini. Sekali lagi, bukan itu, kawan!

Adakah Engkau merasakan apa yang kurasakan? Bahwa kita telah diajak untuk resah dan melakukan sebuah perubahan. Ya, perubahan. Sampai kapan? Sampai idealisme itu belum lekang. [www.blogberita.net]

Koneksi Internetmu lambat? Tak sempat tiap hari membaca web? Ini solusinya. ©Diizinkan mengutip artikel Blog Berita ini dengan syarat membuat tautan-balik.
Kirim artikel ini ke teman Kirim artikel ini ke teman Donasi Hubungi Blog Berita

Comments are closed.