Ganja si Jipank
Cerpen Alvin Nasution; Siantar; Blog Berita — Namaku Jipank. Pekerjaanku musisi reage keliling dan bandar ganja. Sebelah bola mataku yang kiri punya pupil yang tak hitam. Jika kau melihatnya, kau pasti bisa membedakannya.
Tanggungjawabku menafkahi tiga orang anak dan seorang istri. Mereka bahagia bersamaku. Aku juga bahagia bersama mereka. Seperti bahagianya aku ketika ngeganja.
Aku? Sangat menghargai daun, bunga, dan biji ganja. Bagiku, ngeganja adalah meditasi sekaligus gaya hidup. Tentu, gaya hidup yang terselubung, namun merasuki semua kalangan: jet set yang bergelimang harta sampai kelas bawah; miskin dan bodoh. Tapi maaf, aku tak mengomsumsi drugs and alcohol. Apalagi menjualnya.
Aku harus katakan, dengan ngeganja, terbentuklah sebuah komunitas. Komunitas itulah yang disebut kumpulan pengisap ganja yang cara bergaulnya berbeda dari pergaulan biasanya. Di sini, ngeganja akan sangat kental rasa persaudaraan. Sebab, di sini, selinting ganja dihisap bergilir dan ditarik dalam. Terjemahkanlah.
Aku juga harus katakan, sangat dan sangat banyak untuk disebutkan mereka-mereka yang terinspirasi dari ngeganja. Mereka itu berani menyuarakan isi hati yang berontak yang selalu ingin didengar. Bukan hanya sekedar pamer belaka, tapi didasari kekuatan nurani dan jiwa yang frontal.
Apakah aku harus sebutkan satu per satu apa yang mereka idealismekan? Atau maha karya seni yang lahir lewat nurani mereka? Kurasa tak perlu. Aku yakin kau juga sudah tahu. Jika kau tak tahu siapa-siapa saja mereka, kau sepertinya bukan orang yang tepat untuk tetap di sini.
* * *
Malam mulai cantik seperti bidadari baru selesai keramas. Aku mangkal di gang tak jauh dari gubukku yang indah. Menunggu teman-temanku yang ingin meditasi. Menunggu dengan sabar sampai mereka menjulurkan uang lima ribuan atau uang dua puluh ribuan.
Tapi aku tak berlama-lama menunggu mereka. Aku punya jadwal ketat. Harus sigap akan bahaya yang seperti kucing menerkam tikus. Sebab, ada saja yang menyaru sebagai teman. Padahal hanya akan menjeratku dengan garis-garis hukum. Membelengguku di tempat pengap, amis, dan bau. Seperti kandang babi.
Setelah malam membuka tabirnya dan bintang menyibak rambutnya seperti kunang-kunang, maka aku harus pulang. Teman-temanku sudah meditasi; merenungi hidup, merenungi cinta, dan merenungi hari esok yang entah bagaimana endingnya.
Ya, aku, harus pulang. Bercengkrama bersama anak-anakku jika mereka belum tidur. Mengajari mereka cara mengendus aroma malam. Mendongengi mereka agar mengenali wajah dewi mimpi. Atau, aku akan bercinta dengan istriku yang wajahnya mirip bunga melati.
Ganja. Akh… kenapa harus dilarang? Bukankah ganja tumbuh karena hembusan nafas Sang Khalik? Jika memang merusak otak, membikin bego, menjadikan pemalas, kenapa Bob Marley bisa menyatukan cinta dan perdamaian lewat lintingan daun ganja. Menyatukan dua politikus yang selalu berseberangan lewat sebuah konser musik yang menjadi catatan sejarah di benua hitam, Jamaika.
Atau, apa alasan Whitney Houston ketika tertangkap menyaku ganja di laci mobilnya. Kenapa Kaka dan Bim-Bim menjadi rocker paling tersohor di pertiwi ini. Juga Mick Jagger dan Keith Ricard, Ozzy Osborne, Jim Morisson, Kurt Cobain. Apa alasan mereka mengomsumsi ganja. Adakah mereka menjadi liar? Tidak! Jika pun mereka liar tak lebih hanya karena sakaw oleh drugs. Aku tak diperbudak oleh ganja. Jadi aku yakin ganja tidak merusak otakku. Semua aktivitas yang kutelusuri mengalir seperti air. Aku tak bodoh oleh ganja. Malah, ngeganja membuatku semakin merenungi hidup. Punya imajinasi positif. Menjauhkan amarah. Mengasihi sesama. Mendekatkanku kepada Sang Khalik.
Ya. Ngeganja telah mempengaruhi pola pikirku. Mempengaruhi cara pandangku. Aku lebih fokus menilai sesuatu hal. Aku menilai menggunakan hati. Hati nurani.
Aku tahu, ngeganja akan memperlemah memori otak, mempengaruhi bentuk fisik akibat racun kimia yang dihasilkan dari kemurnian ganja. Tapi, ganja bisa mengobati kanker dan tumor. Akar dan batangnya mujarab menyembuhkan disentri, anthrax, asma, sampai bronchitis. Di Aceh, biji ganja diracik sebagai bumbu masakan.
Kau bisa bilang aku edan karena aku mencari Sang Khalik dengan ngeganja. Itu karena aku yakin Sang Khalik menciptakan ganja bukan tanpa arti. Sejatinya, kembali ke diri masing-masing. Aku? Merenungi dosa yang kulakukan. Merenungi peranku sebagai seorang ayah dan seorang suami.
* * *
Malam menjadi. Kumpulan bintang menggugus semakin lebat mengitar-itar di langit. Cahaya bulan memeluk imajinasiku. Usai mentas di kafe, aku akhirnya tiba digubukku yang indah.
Di balik malam yang bersayap, selinting ganja habis, tinggal puntungan. Kurogoh anak saku celanaku untuk menemukan ampulan daun ganja dan masbrand. Kujambret secarik masbrand. Kutarik sebatang kretek dari bungkusnya. Tembakau dan daun ganja kutebar di atas masbrand. Kulinting rapi. Kubalut dengan air liur. Kusuluh. Kutarik dalam. Sedalam imajinasiku menerawang.
Handphoneku berdering. Nama Abdullah muncul di layar, pemasok ganja asal Aceh.
“Pank, besok bayamnya masuk. Tapi tak banyak. Sekarang lagi gencar razia di perbatasan Aceh-Sumatera. Bayamnya cuma lima batu. Untukmu satu batu, yang lain kau antarlah ke tempat biasa.”
Aku bicara sekena perlu saja. “Baik Dul.”
Kumandang azan dari corong masjid membangunkan tidurku yang melingkar. Kepala di kaki-kaki di kepala. Aku bergegas berwudhu. Istriku yang wajahnya mirip bunga melati itu baru saja menyelesaikan wudhunya. Kami melangkah ke masjid. Istriku memang selalu menuntunku menemuiNya.
Subuh berjamaah usai. Aku menyeret pagi menuju gubukku yang indah. Kutemui anak-anakku yang masih tertidur pulas, lalu pergi sejenak meninggalkan mereka. Menjemput pesanan Abdullah.
Terik menyegat kulit. Abu bertebaran menciumi wajah. Bus patas antar lintas Sumatera merapat ke terminal Parluasan. Satu per satu penumpang turun dengan wajah lelah.
Mataku meloroti satu per satu penumpang yang turun hendak mengisi perut atau sebarang mencari oleh-oleh di kota bertabur becak BSA ini.
“Ada titipan untukku lae?” kutanya pada sopir.
“Ada lae. Ambil saja di bagasi paling sudut. Tasnya ransel warna hitam.
Abdullah berpesan untuk diantar ke tempat biasa,” kata si sopir sambil menjulurkan sebatang kretek. Matanya awas.
“Terimakasih lae,” kataku menyuluh kretek yang diberinya, “Aku ambil bayamnya, tak baik berlama-lama.”
Aku sudah memundak ransel hitam berhuni ganja itu. Mataku meraun ke sekeliling. Kupingku kupasang biar tajam. Indera keenamku kulepas ke langit menemui dewi keberuntungan.
“Cak, Gang Kopral,” kataku mencegat becak yang suaranya sebagai halilintar, agar mengantarku ke gubukku yang indah. Ransel kupangku.
Becak BSA melaju menggenjot-genjot di atas aspal mulus. Abang becak tak mau melepas rokoknya yang makin mengecil dihisap angin. Aku tak sabar untuk tiba di gubukku.
Becak melaju lima puluh meter, tiba-tiba kaki kiri si abang becak mengocok-ngocok rem mengelak truk yang tiba-tiba berhenti.
“Yang gilaknya sopir truk ini. Huh! Untung saja. Kalau tidak, kita jadi ikan asin!” sumpah serapah si abang becak sambil melompat dari becak hendak memrotes si sopir truk.
Tapi baru beberapa langkah, entah kenapa, urung. “Gara-gara razia lalu lintas rupanya,” katanya berbalik seratus delapan puluh derajad lalu menunggangi becaknya.
“Razia? Razia apa bang,” kutanya.
“Mungkin razia surat-surat kendaraan. Tapi kok penumpang-penumpang diturunkan. Bagasi mobil diperiksa. Tas dan barang-barang penumpang juga digeledah,” katanya mengikuti laju truk yang pelan, yang nyaris menghilangkan nyawa kami berdua itu.
“Ah… ini razia narkoba,” katanya.
“Apa bang!” kutanya tegas tapi jantungku seliwer kencang. Kepalaku mengintip dari pintu becak. Mataku coba menangkap peristiwa yang ada di depan. “Sial!”gumamku.
Becak melaju pelan dan semakin mendekati gerombolan polisi yang menggelar razia. Untuk segera turun dari becak sudah tak mungkin. Aku khawatir si abang becak curiga gerak-gerikku sehingga menyulut perhatian para polisi. Mampuslah aku! Tapi, dengan terus berada di dalam becak, juga tak mungkin. Ah, serba salah. Apa yang harus kulakukan. Tinggal dua mobil lagi, maka giliranku.
Aku mulai resah. Buliran keringat merosot dari keningku. Otakku tak berfungsi. Cepat-cepat ransel kusembunyikan di balik tubuhku. Tinggal satu mobil, maka giliranku.
Aku pasrah. Tapi… brak! Aku terjungkal. Becak menghantam mobil yang ada di depan. Rupanya sekelebat truk menyeruduk becak yang kutumpangi. Becak terbalik. Kepala si abang becak bocor. Darah mengucur deras. Ia merintih berusaha bangkit. Tapi lunglai, lalu pingsan.
Lengkingan pluit silih berganti. Tiga polisi bersicepat memberikan pertolongan. Polisi yang lain sibuk mengatur lalu lintas yang macet total. Si abang becak diangkut ke atas mobil. Mobil melaju kencang, meninggalkan asap putih tebal yang keluar dari corong knalpot.
Aku masih sadar. Tapi kepalaku juga bocor. Darah juga mengucur deras. Tubuhku juga lunglai. Tapi aku belum pingsan.
Dua orang polisi mengeluarkanku dari dalam becak, lalu menggotongku masuk ke dalam mobil.
“Pak, tas…” kubilang tapi disela.
“Tak usah pikirkan yang lain. Tas aman bersama kami. Kamu harus segera tiba di rumahsakit,” kata salah seorang polisi berperut buncit sambil memanggul tasku dan menaruhnya di dalam mobil patroli. Aku pingsan.
* * *
Mataku mendapati istri dan dua anakku tertidur di bawah kakiku. Aku merintih. Istriku terjaga.
“Abang! Bagaimana kondisi abang,” istriku resah. Rautnya yang mirip bunga melati itu layu sebagai tak tersiram hujan. Kedua anakku terbangun, lalu ikut menangis seperti ibunya.
“Kepalaku masih oyong,” kataku memegangi kepala yang dibalut perban. Istriku terus menangis. Dia menciumi pipiku, bibirku, leherku. Air matanya menyatu di wajahku.
“Bagaimana kondisi si abang becak dek?”
“Sudah bisa pulang bang. Keluarganya yang menjemput.”
“Syukurlah.”
“Abang juga mau pulang.”
“Jangan bang. Biarkan diperiksa dokter dulu.”
“Aku tak apa-apa. Cuma oyong saja. Istirahat di rumah saja.”
“Biarlah abang di sini dulu barang semalam. Biar dokter periksa abang. Jangan ambil resiko bang. Abang harus bermalam!” ujar istriku tegas.
“Siapa yang bayar perobatan?”
“Aku akan cari pinjaman.”
“Tak usahlah. Biar abang pulang saja.”
“Tidak bang, abang harus menginap.”
Malam merambah kamar rumah sakit tempatku dirawat. Tapi sedari siang aku tak bisa memejamkan mata. Pikiranku melayang. Kantukku tak hadir memikirkan keberadaan tasku yang berisi 5 kilo ganja itu.
“Dek,” kataku berbisik. Istriku mendekat. Tapi aku ragu mengatakannya.
“Ada apa bang.”
“Sudahlah, tak ada yang perlu.”
“Bilang bang jika ada yang mengganjal.”
Aku risau, ragu. Semua berkecamuk! Haruskah aku katakan. Haruskah istriku yang wajahnya mirip bunga melati ini… Akh… tolong Tuhan.
Dokter tua datang bersama dua perawat. Ia menanyaiku. Kujawab aku tak apa-apa. Setelah kondisiku diperiksa, dokter itu bilang besok pagi aku sudah bisa pulang. “Terima kasih dok,” kubilang.
Lagi-lagi aku tak bisa tidur. Kantuk tak jua hadir. Buntu, aku berbisik kepada istriku.
“Dek, tasku ada sama polisi.”
“Baik bang, besok aku ambil ya, sekarang abang tidur.”
“Isinya ganja. 5 kilo.”
“Apa bang!”
“Entahlah. Aku bingung sekarang. Bagaimana ini?”
Istriku resah mendengar semua ceritaku. Tapi ia tetap berusaha tenang. “Biar aku saja yang ambil bang.”
“Jangan. Abang saja yang ambil. Tak usah bang. Biar aku saja. Kalau aku yang ambil mereka tak securiga kalau abang yang ambil.”
Kami berdebat lama. Tapi akhirnya aku mengalah. Bukan berarti aku pengecut. Bukan. Aku pun tertidur.
* * *
Seberkas sinar mentari sebesar uang logam menembus jendela kamar rumah sakit. Lurus seperti kristal maya yang jatuh ke pipiku. Aku terjaga. Kudapati tiga orang polisi berseragam lengkap menjinjing tas ranselku dan sibuk bicara dengan istriku yang wajahnya mirip bunga melati itu dari balik jendela.
Lalu seorang di antara polisi itu mendatangiku. “Ini ransel anda?” katanya. [www.blogberita.com]
Koneksi Internetmu lambat? Tak sempat tiap hari membaca web? Ini solusinya. ©Diizinkan mengutip artikel Blog Berita ini dengan syarat membuat tautan-balik.
Kirim artikel ini ke teman
• Donasi • Hubungi Blog Berita
