Kabag Humas nyaris berkelahi dengan Sekda

Karena ditekan atasannya, Kabag Humas Pemkab Toba Samosir, AS, melawan Sekda LP di tepi pantai Danau Toba.

Kejadiannya berlangsung Sabtu siang kemarin di sebuah kafe — lebih tepatnya warung makan; entah bagaimana ceritanya hingga disebut kafe — di pantai Lumban Silintong, Balige. Di sana tengah diadakan pertemuan antara Sekda dan sekitar 40 wartawan. Sekda LP juga ditemani belasan pejabat teras Pemkab. Acara utama adalah makan siang dan tanya-jawab antara kuli-disket dengan para pejabat daerah. Batak News sendiri tidak hadir di sana. “Kami minta maaf, karena acara ini buru-buru, jadi kami tidak sempat mengantarkan undangan,” kata seorang staf Humas kepada blog ini tadi sore.

Salah seorang wartawan yang mengikuti acara itu, Pamahar Pardosi, mengatakan para wartawan masih sempat bertanya kepada Sekda sebelum terjadi pertengkaran Sekda dan Kabag Humas AS. Kemudian Sekda mengajak AS ke kafe sebelah, agak menjauh dari para wartawan dan pejabat. Sebagai catatan, kafe-kafe di pantai Lumban Silintong adalah bangunan terbuka sehingga tamu bisa memandang langsung ke arah danau; biasanya warga datang ke sana untuk menyantap ikan mas bakar.

Di kafe sebelah itulah Sekda marah-marah pada AS. “Mungkin karena pemberitaan segelintir media yang terus-menerus menyoroti kasus-kasus korupsi di tubuh Pemkab,” kata Pamahar, yang bekerja untuk koran Bersama, ketika dihubungi Blog Berita Dot Com lewat telepon.

Seorang warga yang tidak bersedia disebutkan namanya, yang mendengarkan langsung perdebatan Sekda dan Kabag Humas menyebutkan, Sekda marah dan menuding Kabag Humas tidak mampu “menjalin kerja sama” dengan wartawan di Balige.

Ternyata Kabag Humas tidak bisa menerima tuduhan atasannya itu. AS berkata, dia selalu berusaha keras untuk bekerja sama dengan pers, tapi terkendala karena anggaran Humas yang minim.

Karena dijawab begitu, Sekda lantas makin emosional. “Kalau tidak sanggup jadi Humas, silakan mengundurkan diri!” katanya seperti ditirukan sumber. Seterusnya terjadilah adu-mulut antara mereka, bahkan nyaris adu-otot.

Tiba-tiba Kabag Humas mengambil kamera fotonya lalu dibantingkan ke lantai. Brak! Rusak sudah. Dia pun sempat membuka sepatunya, tapi tidak tahu apa maksudnya. “Mungkin siap-siap mau berkelahi,” kata sumber lain.

Seorang warga, perempuan, yang ikut melihat kejadian itu berteriak spontan. Ketika itulah para wartawan dan pejabat lain datang menghampiri Sekda dan Kabag Humas. Mereka pun melerai kedua pejabat tersebut. “Kalau mereka tidak datang, kurasa sudah sempat baku-hantam bapak-bapak itu,” sebut sumber. Wartawan pun meminta Kabag Humas pulang ke rumahnya.

Sumber Blog Berita Dot Com lainnya, seorang wartawan yang ikut menyaksikan pertengkaran ini mengatakan, ketika acara santai Kabag Humas AS sempat hendak menyanyikan sebuah lagu. Namun ada pejabat lain yang protes: “Jangan kau yang nyanyi, biarkan rekan-rekan wartawan saja.” Dia pun urung bernyanyi, lalu dia mengambil kamera foto dan handycam untuk merekam acara. Saat itulah, menurut sumber, Sekda LP menyintil AS di depan para wartawan. “Lho, kok sibuk dengan kamera lagi, apa kau tidak punya staf untuk foto-foto!” kata LP, lalu mengajak AS ke kafe sebelah.

Sejumlah pejabat daerah, kata wartawan Pamahar Pardosi kepada blog ini, juga mengeluhkan sikap Sekda yang disebut sebagai “sering memarahi staf”. Misalnya seperti dikeluhkan seorang kepala dinas, JM. “Saya pernah dibentak-bentak di hadapan staf saya tanpa alasan yang jelas,” ungkapnya kepada wartawan setelah pertengkaran Sekda dan Kabag Humas, di kafe itu juga.

Seorang pejabat teras Setdakab Tobasa lainnya mengatakan hal serupa. Sumber ini menyarankan Sekda LP tidak lagi bersikap “arogan” kepada para PNS. “Dia itu seorang sekda, orang yang paling dituakan di lingkungan PNS, jadi dia harus bisa menahan emosi, apalagi di depan umum,” katanya.

Dia justru menyalahkan Sekda atas terjadinya sejumlah kasus korupsi di kantor bupati. Seperti kasus cairnya uang Rp 3 miliar dari kas Setdakab ke tangan Bupati MS yang disebut untuk mengurus dana alokasi umum [DAU] ke pemerintah pusat. Juga kasus pembelian balai latihan kerja [BLK] Yaspena dari Raja DL Sitorus; belum ada persetujuan dari DPRD tapi duit sudah keluar dari kas Setdakab dan disetorkan kepada DL Sitorus. — Oleh Jarar Siahaan; www.blogberita.com

Koneksi Internetmu lambat? Tak sempat tiap hari membaca web? Ini solusinya. ©Diizinkan mengutip artikel Blog Berita ini dengan syarat membuat tautan-balik.
Kirim artikel ini ke teman Kirim artikel ini ke teman Donasi Hubungi Blog Berita

Comments are closed.