Surat dari Grace Siregar

Posted by Jarar Siahaan on Aug 21st, 2007 and filed under Inspirasi. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. Both comments and pings are currently closed.

Satu tahun terakhir ini warga masyarakat bisa rutin saban bulan menikmati pameran seni rupa di Kota Medan, di sebuah galeri bernama Tondi. Grace Siregar — perempuan Batak yang menimba ilmu seni rupa di Belanda, istri seorang sutradara Inggris — adalah perintisnya.

Awalnya aku berniat berkunjung ke Medan, ke galeri Tondi, untuk meliput langsung dan mewawancarai Grace, tapi tak jadi-jadi karena kesibukanku sebagai “pengangguran plus-plus” alias “pembantu” istriku. Akhirnya kukirim surat kepada Grace [39 tahun], dengan beberapa pertanyaan. Ia membalasnya setelah kebahagiaannya bertemu dengan ibunya — “Mamak dan itoku yang bungsu sudah balik ke Sungailiat, Bangka Belitung. Luar biasa senangnya kami menikmati kehadiran mereka berdua,” tulisnya.

Berikut adalah jawabannya atas pertanyaanku. Ia memulai suratnya dengan menyapaku, “Ito Jarar yang asyik.” Cerita ini sengaja kubiarkan dengan gaya bertutur orang pertama agar “aroma” surat lebih terasa bagi pembaca. Selamat berkenalan dengan Grace, seniman yang asyik.

NAMA BAPTISKU ADALAH Elfrieda Solacratia Hanna Siregar. Aku lahir di Tarutung, 16 April 1968. Bapakku bernama Parbaungan Siregar berasal dari Pintu Bosi, Sipoholon, Tarutung. Mamakku Solavide Sihombing adalah seorang anak praeses gereja HKBP dari Medan. Pada tahun 1969 kami pindah ke Sungailiat dari Pintu Bosi, karena pada saat bapakku merantau ke pulau Bangka, bapak diterima bekerja di PT Timah Tbk dengan posisi sebagai seorang eksplorasi geologi.

Bapakku melihat bahwa aku menyukai coret-coret buku gambar. Maka pada saat seorang pelukis bernama Pak Ahmad lewat di kompleks perumahan kami, bapakku memintanya untuk mengajari aku melukis. Itulah awalnya bahwa aku tidak pernah terlepas dari berkarya. Ketika seusai SMA, aku mendapat PMDK, yaitu terpilih masuk ke perguruan tinggi negeri tanpa tes, yaitu ke Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya, Palembang, tahun 1988.

Ada gejolak menolak karena hasratku mau masuk ke IKJ (Institut Kesenian Jakarta). Tapi bapakku membuat kompromi bahwa aku harus menyelesaikan Fakultas Hukumku, dan setelah itu bapakku menyetujui aku terjun ke dunia seni rupa. Dalam 4,5 tahun aku selesaikan studiku. Setelah aku bekerja selama dua tahun dan menabung, tahun 1994 aku memutuskan untuk berangkat ke Belanda dan belajar seni rupa langsung dari seniman Belanda, Jan van Stolk.

Bergabung dengan perupa-perupa Belanda, berpameran bersama dan berpameran tunggal di Amsterdam serta mengunjungi setiap museum dan galeri seni rupa yang memamerkan karya-karya maestro dunia; seperti van Gogh, Rembrandt, Matisse, Mondrian, Picasso, Roscoe, Warholl, Pollock, Jean M Basquiat, Turner, Renoir, dan perupa-perupa besar lainnya yang masih hidup dan sebaya denganku. Lalu aku memutuskan untuk pulang ke Indonesia pada Oktober 1998.

Di Amsterdam-lah aku bertemu dengan suamiku yaitu sutradara film Inggris, Alexander Tristan Davey, yang pada saat itu sedang membuat film dokumenter berjudul Trois Cafes (Tiga Kafe). Kami menikah pada tanggal 18 Agustus 1998 di Amsterdam. “Menikah lagi” pada tanggal 6 Februari 1999 di HKBP Sungailiat, Bangka, sekalian dengan pesta adatnya. Suamiku diberi marga Sibarani dan kami mempunyai satu boru hasian (putri kesayangan); Rachel Sibarani. Sekarang suamiku bekerja di NGO International World Vision ITR di Banda Aceh.

Kami sampai di Medan pertama kali pada tanggal 4 April 2006. Sebagai perupa yang aktif berpameran selama tinggal di Jakarta, aku melihat Sumatra Utara sebagai propinsi terbesar ketiga di Indonesia, tapi dunia seni rupanya sangat tidur dan sepi sekali. Padahal Jawa dan Bali, dunia seni rupanya bergerak terus non-stop dan bereksperimen terus oleh perupa-perupanya.

Media-media nasional yang kebetulan ada di Jawa mengekspos pameran-pameran ini, sehingga dunia seni rupanya hidup. Lah, kita? Alamak, mati kali!

Makanya walaupun aku tidak kenal siapa pun saat itu, aku bertekad mendirikan galeri seni rupa yang serius di Jl. Keladi Buntu No. 6, Medan. Sengaja aku pilih nama TONDI, karena selain aku orang Batak Toba, juga nama itu dalam bahasa Indonesia berarti jiwa atau roh. Supaya jiwa dan roh seni rupa Sumatra Utara bergerak terus dan inovatif terus.

Sejak itulah tersusun pameran setiap bulannya non-stop, terutama karya perupa Sumut, diselingi dengan pameran seniman dari luar Sumut. Peranan media juga aku utamakan karena melalui medialah masyarakat tahu bahwa mereka memiliki galeri seni rupa yang setaraf dengan galeri-galeri seni lainnya seperti di Jawa dan Bali.

Sebagai perupa, kita harus membawa anak-anak kita ke pameran-pameran seni rupa supaya rasa kemanusiaan yang sehat dan sensitivitas terhadap sesama manusia terus terasah. Aku setuju perkataan Picasso, “Karya seni rupa adalah sesuatu yang bisa membersihkan debu-debu di dalam kehidupan kita setiap harinya.” — Ditulis Jarar Siahaan; www.blogberita.com

tafbutton blue16 Surat dari Grace Siregar

Artikel ini boleh dikutip HANYA JIKA disebutkan sumbernya www.blogberita.net DAN dibuat tautan-balik. Supaya tidak ketinggalan artikel terbaru, langgani RSS Feed, gratis!

Masukkan email Anda untuk BERLANGGANAN GRATIS:

Setelah diklik, ikuti petunjuk dari FeedBurner, cek email Anda.

Jumlah pelanggan Blog Berita via RSS & email Cara tampilkan fotomu pada komentar. Jumlah Pembaca KLIK DI SINI

Comments are closed

Advertisement

Arsip sejak Maret 2007

Gratis RSS-Email-Twitter

Klik Play-Tonton Video


Log in / BLOG BERITA mengizinkan konten web ini dikutip dengan syarat menyebutkan sumbernya www.blogberita.net dan membuat tautan-balik. Pengelola Blog Berita wartawan freelance Jarar Siahaan tidak bertanggung jawab atas komentar dan artikel tulisan pembaca. Balige Kabupaten Toba Samosir Provinsi Sumatera Utara Indonesia. Berita terbaru Artikel menarik Video unik terbaik.