Warga Laguboti dituduh pelihara begu ganjang
Warga sebuah desa di Tobasa, Sumut, menyewa seorang dukun Rp 7 juta untuk membuktikan seorang kakek memelihara begu ganjang alias hantu suruhan.
Hampir setiap tahun ada kabar begu ganjang di kabupaten-kabupaten di Sumut. Begu ganjang adalah, konon, hantu peliharaan yang bisa disuruh pemiliknya untuk mencari kekayaan, dengan syarat mengorbankan nyawa manusia sebagai tumbal. Kali ini terjadi di Desa Lumban Bagasan, Kecamatan Laguboti, Kabupaten Toba Samosir.
Seorang warga yang sudah tua, EH [70 tahun], dituduh memelihara begu ganjang. EH pernah menjabat sebagai Kepala Desa Lumban Bagasan. Dasar warga menuduh dia adalah karena dia pernah terlihat menari-nari dengan bertelanjang di halaman rumahnya pada tengah malam, dan juga karena ada warga yang meninggal mendadak serta anak-anak di sana sakit-sakitan.
Suatu malam, sekitar pukul 00.00 beberapa bulan lalu, seorang warga memergoki EH yang bugil berlari-lari kecil sembari menari di pekarangan rumahnya. Tak lama berselang, di sebuah dusun lain berjarak 500 meter dari rumahnya, dia lagi-lagi terlihat oleh warga melakukan hal yang sama. “Waktu itu dia menari sambil mengelilingi sebuah pohon aren,” kata sumber Blog Berita Dot Com.
Kejadian selanjutnya yang dicurigai warga adalah meninggalnya seorang guru di desa itu, yang menurut mereka mati mendadak tanpa penyakit sebelumnya. Beberapa anak-anak juga dikabarkan sering sakit-sakitan.
Semua kejadian itu menurut warga adalah aneh dan perlu dicurigai. Mereka ribut, lalu meminta kepala desa “menyidang” EH. Pertemuan pun digelar. Kala itu EH mengakui bahwa dia memang pernah bugil sambil berlari-lari di halaman rumahnya. “Supaya badanku hangat saja, dan aku tidak pernah pelihara begu ganjang,” katanya.
Namun warga desa tetap tidak percaya. Maka pekan lalu mereka sengaja mengumpulkan uang untuk menyewa seorang paranormal terkenal dari Kutacane, Aceh. “Orang pintar” ini masih muda, berusia sekitar 25 tahun, seorang perempuan. Untuknya telah disiapkan uang Rp 7 juta oleh warga.
Desa heboh. Petugas dari Polsek Laguboti dan Polres Tobasa turun ke sana, berkisar 50 orang polisi. Mulai pagi hingga sore hari Desa Lumban Bagasan pun ramai didatangi warga dari sejumlah desa dan kecamatan lain. Di sebuah rumah tetangga EH, sang paranormal bersiap-siap menjalankan ritualnya. Dia meminta EH berhadapan dengannya, disaksikan kepala desa dan beberapa orang saksi. Tapi EH tidak bersedia menemui si orang pintar.
Akhirnya paranormal tidak jadi melakukan ritual, dan dia pulang setelah diberi honor oleh warga — tapi tidak lagi utuh Rp 7 juta. Hm, ada-ada saja.
Begu ganjang; kalau diterjemahkan bebas menjadi hantu panjang. Aku sendiri tak pernah tahu seperti apa wujudnya. Menurut cerita dari mulut ke mulut, begu ganjang di zaman dulu sengaja dipelihara oleh warga untuk menjaga ladang atau lahan pertanian. Di zaman sekarang fungsi begu ganjang berubah; untuk mencari kekayaan. Entah bagaimana pula caranya.
Si pemilik begu ganjang, konon, harus membunuh seseorang untuk memuluskan niat memperoleh harta itu. Dalam berbagai kasus, orang yang memelihara begu ganjang sering dituduhkan pada warga pendatang.
Asal tahu saja, EH bukanlah pendatang di desa itu. Ia lahir di sana, besar di sana, bekerja sebagai petani, memiliki anak-cucu, dan … hidupnya dari dulu tetap miskin. — Ditulis Jarar Siahaan; www.blogberita.com
Koneksi Internetmu lambat? Tak sempat tiap hari membaca web? Ini solusinya. ©Diizinkan mengutip artikel Blog Berita ini dengan syarat membuat tautan-balik.
Kirim artikel ini ke teman
• Donasi • Hubungi Blog Berita
