Karena ikut mengaransemen lagu Ramadan dan membiarkan bayinya didoakan secara Islam.
“Kafir-mengkafirkan” pun terjadi dalam agama Kristen, dalam bentuk berbeda. Istilahnya “domba yang hilang” atau “domba tersesat” — tidak persis sama dengan istilah kafir dalam agama Islam, tapi esensinya tak berbeda: menuduh seseorang telah meninggalkan Tuhan.
Artikel di bawah ini adalah gabungan dua komentar yang ditulis Viky Sianipar pada artikel-artikel sebelumnya di Blog Berita. Viky adalah [ehem! sebenarnya kalian sudah tahu] musisi muda Batak yang memerangahkan dunia musik kita. Ingat antara lain dua albumnya; Toba Dream dan Indonesian Beauty. Gaya bermusiknya adalah etnik-kontemporer. Sebab itu dia lihai memainkan alat musik tradisional Batak dan Jawa misalnya. Dia mengkawin-campurkan irama musik daerah dan musik masa kini. Horas Banyuwangi adalah salah satu tembang racikannya. Bubuy Bulan? Itu juga lahir dari tangannya. Viky pun manggung pada pentas musik dunia, Java Jazz Festival. Tiga minggu sebelum wafat, penyanyi legendaris Chrisye menyanyikan satu lagu pamungkas, berjudul Lirih, di studio; dan yang dipesankan mengaransemen lagu ini adalah Viky Sianipar. Sudah ah, baca saja sisi lain pribadi Viky: pemikirannya tentang beragama dan ber-Tuhan.
LAE JARAR, SALAM kenal. Sudah sering denger blog ini. Dan sering baca-baca, tapi baru kali ini nulis komen karena gemes. Namaku Viky. Putra Balige. Tapi lahir, grow up dan bertempat tinggal di Jakarta. Hehehe.
Salut buat tulisan lae di atas. Aku yakin kalo lae satu pandangan dengan aku. Karena aku pun senasib.
Aku sering dibilang “kafir” karena bukan Islam. Aku sering dibilang “domba yang hilang” sama orang Kristen yang “paling ngerti Kristen”. Karena aku suka main gondang, mengaransemen musik Ramadhan, suka mempelajari budaya tradisional Batak, pernah ikutan ngaji di mesjid sama ibu mertuaku [walaupun cuma ikut berdoa dengan caraku sendiri karena mereka berdoa menjalankan ritual “4 bulanan” kandungan istriku], dan kadang-kadang aku berdoa secara Kristen dengan menyebut Tuhan Mulajadi Nabolon. [Mulajadi Nabolon adalah sebutan bagi Tuhan dalam ajaran Parmalim, “agama pertama” orang Batak — penjelasan Blog Berita].
Bingung aku melihat mereka. Kok ada ya orang yang memahami agamanya setengah-setengah. Sipanggaron pulak [sok-sokan pula].
Mereka terjebak dalam doktrin agama.
Mereka belum bisa melihat betapa besar kuasa Tuhan ini. Betapa kecil kita ini dihadapan-NYA. Masih banyak yang kita belum ketahui tentang rahasia alam/Tuhan. Eh, mereka malah “play God” dengan menyebut orang lain “kafir” atau “domba sesat”. Mending kalau sudah berbuat. Gak usahlah dipikirin. Kita doakan saja mereka semoga sehat-sehat selalu.
Assalamualaikum wrml hwbrkt! Syalom!
Indah kali rasanya dunia kalo semua orang bisa berfikir se-universal demikian. Tanpa terperangkap dokma-dokma Agama. Kalo menurut saya dari sudut pandang seni musik:
Harmony itu timbul karena ada perbedaan. Musik yang nyaman timbul dari berbagai macam instrumen yang berbeda karakternya, ditata kapan mereka berbunyi, ditata keras-lembutnya. Bahkan ada instrumen yang bunyi hanya sesekali dalam sebuah lagu (seperti timpani, cymbal, triangle, dll) tapi lagu itu terasa hambar kalau instrumen tersebut tidak ada. Bayangkan kalau dalam satu lagu hanya ada bass, atau hanya ada cymbal sepanjang lagu. Tidak akan timbul HARMONY.
Dari analogi itu saya coba bawa ke konsep ke-TUHAN-an. Menurut saya Tuhan itu MUSISI/SENIMAN paling TOP se-jagad, gak ada duanya. TUHAN menciptakan segala sesuatu di dunia ini tidak ada yang sama satu pun. Saya yakin semua perbedaan itu dibuat-NYA untuk menciptakan harmony selayaknya musik.
Bayangkan bila semua pohon di dunia ini sama, hanya pohon kelapa; bayangkan bila semua orang mukanya, tingginya sama persis gak ada beda, gak ada laki dan perempuan; bayangkan bila terang terus sepanjang hari, atau gelap terus sepanjang tahun; bayangkan hanya ada satu suku di dunia ini. Iiih…, saya gak kebayang deh, dunia jadi gak colourfull.
Lalu saya bayangkan kalau cuma ada satu agama di dunia ini. Wah, pasti gak ada yang namanya toleransi. Mungkin dunia malah akan kaca. Karena menurut saya, toreransi beragama itu merupakan SENI dalam bermasyarakat yang akan menjadi indah kalau tercipta HARMONY.
Saya jadi teringat, di band saya ada beberapa orang beragama Islam, tapi kami beberapa kali perform di acara natal, pesparawi HKBP, KKR, dll. Mereka yang Islam nyantai aja tuh. Menurut mereka lagu rohani sama saja. Ujung-ujungnya buat Satu Tuhan juga. Beberapa kali kita juga main di acara halalbihalal yang membawakan lagu-lagu bertema Ramadhan. So what gitu loh!
Satu contoh lagi, pemain biola saya, Tengku Ryo (muslim yang taat), jadi lead instrument mengiringi pengantin di acara wedding-nya lae Charly Silaban, memainkan lagu “Tuhankulah Gembalaku” (Kidung Jemaat).
Jadi buat apa sih ribut-ribut membeda-bedakan agama. Nikmati ajalah seninya. Create Harmony! Peace! Wassalam! Haleluya! [www.blogberita.com]

Artikel ini boleh dikutip HANYA JIKA disebutkan sumbernya www.blogberita.net DAN dibuat tautan-balik. Supaya tidak ketinggalan artikel terbaru, langgani RSS Feed, gratis!


















