Orang Batak nasrani mengikuti ritual Islam
Dian Sidauruk, seorang lelaki Batak nasrani di Kuta, Bali, membuktikan toleransi secara nyata dengan umat lain. Artikel Dian ini ditulis sebagai komentar menanggapi artikel Viky Sianipar sebelumnya.ASSALAMUALAIKUM wa’rahmatullahi wa’barokatu! Syalom!
Komentar/tanggapan untuk artikel “Viky Sianipar pun Disebut Domba Tersesat.”
Domba yang tersesat.
Lalu dia tinggalkan domba yang 99 itu. Malangkah gontai, bibirnya retas, giginya kering diterpa angin gunung penuh bisik menyeringai menumpuki duka laranya. Memar dipelipisnya semakin biru. Lambungnya perih. Lapar, dahaga dan teriknya panas menderanya. Lara yang kemarin belum juga sirna. Hari ini, dombanya satu tersesat. Laranya membukit. Berlari dia mencarinya, demi cintanya.
Andaikan aku domba yang tersesat itu, siapakah gembalaku? Andaikan aku salah satu di antara domba yang tidak tersesat itu, siapakah gembalaku.
Gembalaku yang baik. Engkau pasti tahu jawabannya. Akupun sepertinya sudah tahu jawabanmu: “Aku” Bila engkau menjawab “Aku dan Bukan Aku”, dua jawaban untuk dua pertanyaan, mengapa engkau mencari aku yang tersesat? Mengapa juga engkau menggembalakanku ketika aku tidak tersesat?
Saya bermukim di antara saudara-saudara yang non Kristen. Saya dan anggota keluarga saya ikut menghadiri selamatan yang diselenggarakan oleh tetangga yang muslim. Saya berkopiah, bersarung tak ubahnya tradisi berpakaian mereka. Saya bisu bila mereka melafalkan doa-doa mereka. Tetapi bisunya saya bukannya bisunya orang mati. Bibir saya terkatup tapi hati saya turut berdoa: “Ya Tuhan semoga kebahagiaan senantiasa berada di rumah ini”. Bila ada tetangga yang muslim meninggal kami ikut dalam kerumunan umat yang tahlilan itu. Lagi-lagi saya membisu laksana bisunya batu. Dalam membatunya bisuku, aku tak lupa berdoa: “Ya Tuhan, semoga Engkau bermurah hati kepada yang meninggal ini”
Saya menerima undangan pernikahan dari sahabat saya yang bukan kristen. Di surat undangan itu tertulis: “Mohon doa restu”. Saya berdoa untuk mereka: “Ya Tuhan, bila Engkau berkenan, berilah restu kepada mereka agar pernikahan mereka baik adanya”
Apa ruginya saya berada di antara mereka dan berdoa seperti itu? Rugi atau beruntungkah saya? Ini bukan bisnis. Ini permohonan kepada Tuhan. Saya tidak tahu apakah permohonan saya itu dikabulkan atau tidak. Yang pasti, saya turut bergembira bila ada kebahagiaan di rumah itu. Juga pasti, saya turut senang bila Tuhanku merestui pernikahan mereka.
Dan, dan yang ini, sekali lagi yang ini, simaklah: Kalau saya berdoa agar Tuhan bermurah hati kepada yang meninggal itu tentu maksud permohonan saya itu agar yang meninggal itu diperkenankan masuk surga. Kalau dia masuk surga maka saya nggak sempit-sempitanlah nanti di neraka.
Bukankah kau domba yang tersesat itu? Neraka, itulah tempatmu, katanya kepadaku.
Bila saya dalam posisi seperti yang saya sebut-sebut di atas, apakah saya tidak senang dan merasa dihargai bila saudara-saudara saya yang bukan kristen datang kepada kami, berdoa, bahu membahu, tertawa, menangis kita bersama. Oh pedih… pedih… peeeedih… oooooo….
Bila anda dalam posisi yang sama seperti yang saya sebut-sebut di atas, apakah jawabmu bila kutanya, bagaimana perasaanmu?
Di sekeliling mukim saya, hanya keluarga saya yang Katolik. Bila kami pergi menghadiri selamatan, tahlilan, pernikahan dll yang diselenggarakan oleh umat muslim, apakah kepergian kami itu kami maksudkan untuk mengambil hati mereka agar kami aman di lingkungan mereka? Tidak.
Saya dan anggota keluarga saya menghadiri hajatan-hajatan itu karena kami menafsirkan sebuah kalimat pendek: “Cintailah sesamamu seperti dirimu sendiri”. Kalimat pendek yang kami tafsirkan sesuai kemampuan pikiran kami, itulah yang membukakan kami jalan menemui mereka kemudian bersama mereka.
Apa yang kau kehendaki dilakukan orang lain terhadap engkau, lakukanlah itu kepada mereka. Bila engkau mau dihargai, dihormati dan dikunjungi maka lakukanlah hal-hal itu terlebih dahulu terhadap mereka.
Andai kata saya bukan Katolik, bukan Islam, bukan Hindu, bukan Parbaringin,bukan Yahudi, bukan sipele begu (sipele begu = penyembah hantu, mau minta nomor buntut) atau katakan saja saya tak beragama, bolehkah saya berbaur dan saling membantu dengan saudara-saudara yang beragama itu? Bila jawabmu boleh, mengapa kalau saya beragama Kristen lalu kau bilang bahwa saya domba tersesat karena berbaur atau membantu saudara yang muslim itu?
Saya tak bersedia menutup diriku dengan agamaku.
Mengapa agamamu mejauhkanmu dari yang lain? Mengapa engkau membuat agamamu menali dirimu? Mengapa agamamu kau peralat untuk membeda-bedakanmu?
Sedikit untuk JoeS: “Assalamu’alaikum wa’rahmatullahi wa’barokathu”.
Kalimat ini bagi saya adalah kalimat indah yang sering saya gunakan untuk menyapa saudara-saudara saya. Mengapa? Kawan, kalimat itu adalah bahasa Arab, bukan bahasa muslim. Di tanah Arab ada gereja. Menurut anda apakah Kristen di sana pakai “syalom-syaloman” di altar? Tahukah anda bahwa kata Allah itu berasal dari bahasa Arab?
Kata Allah sering digunakan oleh umat Katolik. Karena saya menggunakan kalimat Assalamu’alaikum itu maka banyak teman saya yang Kristen mengatakan bahwa saya Domba Yang Hilang. Hilang, bayangkan hilang, ditelan gelapnya kabut. Au ah, gelap.
Ini lebih kejam dari lencana Viky. Viky Domba Yang Tersesat (DYT). Saya Domba Yang Hilang (DYH). Saya senasib dengan saudara Kristen yang di tanah Arab. Kami sama-sama tidak boleh ke surga. Ini keputusan hakim yang menghakimi Viky dengan lencana DYT.
Saya adalah DYH. Siapakah gembalaku? Bila saya DYH atau DYT domba yang bagaimanakah dirimu?
Engkau mengolok Judas Iskariot tetapi engkau tak tahu bahwa dalam pengolokan itu engkau telah membuat dirimu jadi Judas Iskariot yang baru.
“Jangan menghakimi sesamamu sebab penghakimanmu itu akan digunakan untuk menghakimi engkau oleh orang lain dan oleh (Tuhan)? Ampunilah mereka, sebab mereka tak tahu apa yang mereka lakukan.”
Si tukang salib itu membela Allah. Agar mereka mempunyai bukti pemebelaan dan agar dilihat khalayak ramai bahwa mereka membela Allah dan agar terlihat gagah perkasa maka yang tak bersalah disalibkan. Siapakah yang engkau bela? Dirimu? Tuhan Allahmu? Semoga engkau tak menjadi salah satu di antara kami dengan penghakimanmu itu.
Bunda Theresia dan Paus Paulus Johannes II didoakan oleh banyak umat manusia yang tak hanya Katolik. Tidakkah engkau terharu melihat itu? Cinta tak datang dari mulut tapi dari hati. Dia terlihat dari perbuatan. Sembah sujud kepada Tuhan Allah tidak diukur dari mulut tetapi dari perbuatan, hati dan penerimaan akan sesama.
Banyak orang merasa dirinya telah berada di pelukan Tuhan Allah oleh karena tak bergaul dengan orang yang bukan seagamanya. Banyak orang (Batak) merasa telah menjadi kekasih Tuhan Allah karena tak ikut margondang, manortor, mangulosi dll. Benarkah engkau telah menjadi salah satu dari yang dikasihi Tuhan Allah karena hal-hal di atas dan karena mengamini prinsipmu sendiri?
Aku, siapakah aku ini menjadi hakim bagimu? Siapa yang melantik aku menjadi hakim bagimu? Alusi au, aluuuuuusiiii au (jawablah aku, jawablah). Salam saya dari Bali. [www.blogberita.com]
Koneksi Internetmu lambat? Tak sempat tiap hari membaca web? Ini solusinya. ©Diizinkan mengutip artikel Blog Berita ini dengan syarat membuat tautan-balik.
Kirim artikel ini ke teman
• Donasi • Hubungi Blog Berita
