Ikuti @KoranTapanuli Ikuti berita KORAN TAPANULI. Daftarkan email anda di kotak, tekan Enter. Klik verifikasi yang dikirim ke Inbox anda.

Tersesat 7 hari di gunung Merapi

Posted by on Oct 9th, 2007 and filed under Artikel Khusus. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. Both comments and pings are currently closed.

“Taiklah kau!”
“Sssttt, mulutmu! Ini di gunung!”

Artikel ini ditulis oleh Muhammed Andre Raberta, seorang mahasiswa-aktivis di Kota Padang, Sumatera Barat. Dia mengidolakan habis-habisan Che Guevara. Dia telah nakal sejak lama; waktu kelas 1 SMP dia memukul gurunya karena baginya sang guru adalah penjilat.

Ia pernah bekerja sebagai wartawan di koran lokal di Padang, tapi kemudian mengundurkan diri karena dia merasa dijadikan budak oleh pemilik media. Lalu dia sempat menulis secara freelance di koran-koran lokal. Kini, sembari menyelesaikan studinya di Universitas Andalas, Andre mencari uang dengan bekerja menjaga warnet pada malam hari, sementara waktu luangnya yang lain dipakai untuk beternak kambing. “Abang datanglah ke Padang, biar kita sembelih kambingku itu,” katanya saat kami mengobrol lewat chat.

Artikel berikut adalah kisah nyata yang dia alami sendiri saat masih SMA, dan sempat menjadi headline koran-koran terbitan Padang berhari-hari. Sebenarnya dia sudah menjanjikan artikel ini padaku sejak beberapa bulan silam, tapi baru sempat sekarang. Dia menuliskannya tengah malam, sembari menjaga warnet, dan dikirimkannya ke emailku.

PADA TAHUN 2001, di waktu itulah ada 7 hari dalam perjalanan hidupku, yang membuat aku harus berhadapan dengan maut, meski ada sedikit hal yang terlupa dari rentetan kronologis waktu tersesat tersebut itu karena mauku yang ingin mengubur kenangan pahit itu, tapi akan kuupayakan untuk mengingat keras, sekaligus akan disempurnakan dalam bentuk buku dengan mengambil “cerita” dari kawan-kawan ku yang ikut dalam pendakian tersebut dan tentu saja sahabatku yang menemaniku selama 7 hari hingga keluar dari cengkeraman maut Gunung Merapi dan inilah versiku:

Namaku Andre, ayahku bekerja di sebuah perusahaan BUMN, beliau termasuk orang yang keras dalam mendidik anak terutama anak lelaki, namun demikian dia sangat demokratis, menurutku.

Sayangnya ketika kelas 1 SMP aku mengecewakannya karena aku terpaksa di-DO dari sekolahku karena aku adu jotos dengan salah seorang guruku, yang menurutku tipe penjilat sejati. Dari kenakalanku inilah aku harus menerima konsekwensi pindah ke padang, agar bisa naik ke kelas 2 alias tidak mengulang.

Di padang aku selesaikan masa SMP ku dengan lancar hingga kelas 2 SMU. Aku dan noviandi yang seterusnya kupanggil nopeng membuat geger satu sekolah dan jadi pemberitaan di beberapa media massa karena sepupu papaku ketua PWI, di mana kami tersesat selama 7 hari di gunung merapi Sumatera Barat.

Awal aku mulai mencintai dunia mendaki dan bergiat di alam bebas dimulai sejak kelas 1 SMA dan aku telah mendaki gunung Singgalang 2 kali, dan kegilaanku dengan hobi ini makin menjadi sejak aku bergabung dengan salah satu ekstra kurikuler Siswa Pencinta Alam (SISPALA), hobi yang ditentang Tanteku dan keluarganya, setiap kali aku minta izin untuk mendaki gunung aku tidak pernah dapat izin, dan aku tetap mendaki karena aku cinta Alam rimba, mencium bau tanah hutan, sejuknya rimba, gemericik air, sambil minum kopi susu di puncak gunung, nikmatnya.

3 hari sebelum kejadian tersebut aku dengan 4 orang kawanku, Nopeng, Uncu, Firman, dan iwan yang juga tergabung dalam Sispala di sekolahku, berencana akan mendaki gunung merapi, gunung yang memilki ketinggian 2891 Mdpl(meter dari permukaan laut), gunung merapi ini adalah gunung kedua yang sangat ingin kudaki setelah 2 kali berhasil mendaki gunung singgalang, yang rutenya lebih berat dibandingkan gunung merapi.

Segala persiapan untuk mendakipun mulai dikumpulkan, hingga tibalah harinya, kami berangkat dari padang ketika matahari mulai terbenam, dengan naik bus menuju koto baru yang berjarak sekitar 3 jam perjalanan, rute normal untuk mendaki gunung merapi. Setelah tiba di koto baru, udara dingin mulai menusuk tulang, kami makan dulu untuk mengumpulkan energi, dilanjutkan dengani shalat Isya di masjid Koto baru.

Sesudah shalat kami mulai melakukan pendakian. Baru 15 menit perjalanan, salah satu kawanku menanyakan kaca mata yang kukenakan, dan aku sadar kalau kaca mata itu telah tertinggal di masjid tempat kami shalat tadi, dan salah satu dari kami pergi mencek ke mesjid tersebut,dan anehnya sudah tidak ada lagi..?

Dan perjalananpun dilanjutkan, kami juga mendaftarkan nama dipos pasanggrahan, tempat memulai pendakian gunung tersebut sekaligus membayar retribusi kepada penjaga pos, perjalananpun dilanjutkan. Sebenarnya sudah banyak hal aneh yang terjadi dalam perjalanan tersebut.

Ketika aku berada di barisan paling belakang, seperti ada suara-suara yang ribut di belakangku, dan setiap aku menoleh ke belakang, tidak ada apa-apa dan hal tersebut juga dirasakan kawanku Firman, dan dia langsung menemaniku berjalanan beriringan di posisi belakang dan ketika menmpuh jalan sempit dia yang mengantikan posisiku di belakang, kawanku ini punya kelebihan seperti indra keenam, tapi dia tidak membahasnya dalam perjalanan tersebut.

Matahari pagi mulai bersinar kami sudah sampai di batas vegeatasi atau cadas, puncak merapi pun telah kelihatan, iwan dan aku yang pertama kali sampai di cadas tersebut, disusul nopeng, firman dan uncu, yang selama perjalanan aku terus perang mulut dengannya. Kami beristirahat, masak dan mengisi energi, aku sendiri saat itu merasa tidak bisa mengontrol emosiku, aku lupa penyebabnya, hingga aku membuang salah satu periuk yang kami gunakan untuk memasak.

Kemudian membawa tas sandang yang agak kosong, karena perlengkapan logistic kami, sudah di keluarkan semuanya, aku membawa beberapa batang rokok. Kubilang pada keempat kawanku kalau aku mau ke puncak, aku mulai menapaki jalan yang lebih kurang setengah jam menuju puncak merapi, kemudian terdengar nopeng memanggilku “ ndre aku ikutlah, taik lah kau pergi sendiri-sendiri aja”

aku jawab ”huss, mulut peng, di gunung ini, jaga mulutmu”

“astaghfirullah” nopeng menjawab sambil menutup mulutnya, diapun kemudian menyusulku yang baru setengah jalan menuju puncak.

akhirnya kami tiba di kawasan puncak gunung tersebut, aku takjub, dan bahagia hilang segala penat letih setelah berjalan hampir sepuluh jam, aku melihat ada tugu salah seorang pendaki yang meninggal di gunung merapi namanya “abel tasman”. Menurut cerita dari pendaki-pendaki lain dia meninggal karena menyelamatkan seseorang yang terjebak di kawah gunung tersebut” secara reflek aku mencium tugu tersebut. Banyak pendaki-pendaki lain yang tersenyum kecil melihat ekspresi berlebihan ku itu.

akhirnya aku dan nopeng berjalan-jalan mengitari puncak yang banyak kawah-kawah hingga menuju puncak merpati salah satu puncak yang top di gunung merapi, beberapa menit kami diatas puncak sambil menikmati suasana merapi sejauh mata memandang terdampar permadani hijau, betul-betul menenangkan. Setelah menghabiskan rokok, aku dan nopeng melanjutkan perjalanan ke ladang bunga eidelweis, disinilah awal kisah nyata yang membuktikan bahwa Tuhan punya rencana sendiri terhadap kami berdua…

Kami mulai menuruni puncak Merpati, dan menuju ladang eidelweis, tumbuhan misterius yang tumbuh di kawasan puncak gunung, dan setiap gunung menampilkan bentuk dan ciri khas masing-masing. Aku dan nopeng dengan sigap dan penuh antusias memetik bunga abadi tersebut, pada saat itu ada beberapa pendaki lainya yang juga memetik bunga tersebut, kami memetiknya seperti lupa waktu, setiap mata memandang kearah bunga tersebut, bunga tersebut terus memikat kami.

“peng sudahlah cuma tinggal kita yang ada diladang ini” kataku pada nopeng yang tetap semangat memetik bunga, hingga bunga tersebut penuh hampir setengah tas. Ketika kami ingin kembali turun, turunlah awan gelap yang membuat kami sulit mengingat kembali jalan balik tersebut, kami berputar di sekitar kawasan puncak gunung merapi.

Perasaanku mulai tidak enak, nopeng yang berada paling depan sibuk berputar-putar mencari jalan keluar aku yang berada di blakangnya memanggilnya untuk berhenti dan tenang. ”peng berhenti dulu, ayo kita berpikir dan menenangkan diri, kita panik saat ini.”

Nopeng pun akhirnya menunggu ku dan kami duduk terdiam, “gimana selanjutnya ndre?”

“Aku pun tak tahu, kita coba tunggu saja, mudah-mudahan kabut ini menghilang,” jawabku pasrah. BERSAMBUNG BESOK. [www.blogberita.com]

Daftarkan emailmu untuk berlangganan gratis artikel terbaru via email. Nanti terlihat kode anti-spam untuk anda ketik, dan kemudian klik verifikasi yang dikirim ke email anda. Layanan ini oleh Google Feedburner.

Masukkan email anda, lalu klik tombol TEKAN

Comments are closed

Advertisement

Klik Suka, ikuti beritanya di FB.

Log in / BLOG BERITA mengizinkan konten blog ini dikutip dengan syarat menyebutkan sumbernya www.blogberita.net dan membuat tautan balik. Pengelola Blog Berita wartawan freelance Jarar Siahaan di Balige, Kabupaten Toba Samosir, Indonesia. Situs berita terbaru Artikel menarik Video terbaik.