Mereka ingat ibunya, lalu menangis
NOPENG MELIHAT TINGKAHKU yang aneh, dan dia pun yang sebenarnya juga haus mengikuti aku untuk minum air kencingnya sendiri, namun ”Cuih. Tak enak ndre, kau gila, air kencing masa diminum.”
“Biar aja peng, aku haus, toh air kencing kusendiri.”
Andre Raberta; Padang; Blog Berita
Hari itu adalah hari pertamaku tersesat di gunung merapi, bersama nopeng tentunya. kami pun tertidur, dan bermimpi. Sesekali kudengar nopeng nyeletuk “ndre ambilin teh manis itu, ndre, aku haus kali ini.” aku cuma diam dan sedih, antara hidup dan mati, masih bisakah aku minum teh manis lagi, merokok, makan, ah..air mataku pun turun..
ada fenomena aneh di hari pertama ini. pertama kali aku tersentak dari tidurku, kulihat hari sudah mulai agak terang. nopeng pun tau fenomena ini, namun karena masih letih, kami lanjutkan tidur.. dan jam nopeng sudah hilang.. tak tahu dimana hilangnya. ketika aku tersentak lagi dari tidurku, aku terkejut, karena hari kembali gelap.
“peng, kok hari gelap lagi?”
“tak tahu aku ndre, aku juga bingung kok bisa seperti ini” jawab nopeng,
setelah seper sekian jam, nopeng memutuskan untuk melanjutkan perjalanan. kami kembali menempuh jalan terjal, tajam berliku, tanganku sudah gemuk semua, kakiku juga, karena terlalu banyak berjalan. aku teringat saat sebelum mendaki, aku udah didiagnosa dokter, sakit gejala typus, dan demam berdarah. nopeng pun juga sampai sakit gejala demam berdarah. timbul pikiranku bahwa perjalanan ini akan sia-sia, akhirnya aku protes sama si nopeng, “peng, sekarang aku tidak mau ikut jalan kau lagi, kita kembali ke atas, tempat pertama kita mulai tersesat, biar aku yang pimpin jalan,” ujarku.
“ndre, ini jalannya, percayalah ”jawab nopeng, “aku tidak mau lagi balik jalan ke atas” sambungnya.
”terserah kau lah peng, kok tak percaya, kalau kita menempuh jalan dan mengikuti jalan sungai, ujungnya pasti kita akan bertemu dengan jurang, itulah yang kupelajari dari sispala, masa kau lupa?”
“iya ndre, tapi aku percaya, kalau ada jurang, pasti disana ada perkampungan karena air itu sumber kehidupan” jawab nopeng,
“sudahlah, sekarang kita jalan sendiri-sendiri”, kataku emosi,
“terserahlah kaulah ndre”
ketika aku mulai berbalik arah, aku tersadar, berdua lebih baik dari pada sendiri. nopeng yang berjalan berlawanan arah denganku segera kupanggil kembali “peng. iyalah aku ikut dengan kau, tapi sampai akhir jalan kau yang buka jalurnya, kau yang pimpin”
“oke ndre”
dan di hari kedua itu kami berjalan melewati jurang-jurang terjal, diserang udara dingin, lembab, tanpa sinar hangat mentari. betul-betul melelahkan, menjemukan, dan hanya satu pilihan, terus berjalan, dan terus berjalan. sekali-sekali berteriak-teriak minta tolong, saling ejek. yang paling parah tak ada makanan, tapi aku terus mencoba makan apa yang aku rasa bisa aku makan. seperti ada buah warnanya merah, kecil-kecil, rasanya ada yang asam ada yang manis, aku tidak tahu namanya. daun-daunan pun kumakan, aku tidak perduli beracun atau tidak, karena dari teori survival yang kupelajari di sispala, jenis tumbuhan yang bisa dimakan itu warnanya tidak mencolok, kalau dicoba di ujung lidah tidak menimbulkan rasa kebas, semuanya kumakan. tapi nopeng tidak mau, dia hanya mencoba sedikit dan membuangnya kembali.
jika bertemu jurang yang dalam kami mendaki ke atas, dan melewati jurang lewat hutan belantara, dan turun kebawah, demikian seterusnya asal bertemu jurang. Yang penting jalan yang kami tempuh tetap mengikuti arus sungai. hingga sorenya atau hari udah agak gelap, kami memutuskan untuk beristirahat di tepi sungai. kami istirahat agak ke bagian atas sungai dan tidur di dekat batang kayu yang sudah tumbang. malam berganti lagi, kondisi semakin melemah, tinggal semangat untuk hidup yang tersisa.
Hari ketiga, paginya nopeng bangun lebih dahulu. namun sebelum dia terbangun aku lebih dahulu terjaga dari tidurku. kemudian sambil tiduran aku melihat ke arah sungai ada seekor burung, aku tak tahu jenis burung apa, dia mandi di sungai itu. aku tersenyum melihat burung itu, lalu dalam hati aku bertanya padanya ”oi burung, kalau kau memang dikirimkan Tuhan untuk menunjukkan jalan keluar pada kami, tolong kasih tanda kemana arah jalan keluar dari sini?”
aku terkejut, dia menghentikan aktifitasnya, lalu melihatku, kemudian dia langsung terbang menuruni sungai. masih dalam hati ”gila kau, kalau ke sana ya jalan menuju matilah.”
lalu aku tertidur lagi, badanku masih terasa lemah untuk bergerak. Kemudian nopeng terbangun langsung peregangan otot. dia minum air sungai sebanyak-sebanyaknya. aku pun tebangun kembali. nopeng membuka percakapan pagi itu “gimana ndre, enjoy kita lagi?” enjoy yang dimaksudkan si nopeng adalah semangat untuk melanjutkan perjalanan.
hari ketiga ini, aku bilang pada nopeng bahwa aku sudah tidak kuat lagi, “lanjutkan aja sendiri peng, aku nyerah peng”
nopeng langsung menjawab dengan intonasi tinggi “kita masih kuat ndre, terus sajalah kita ikuti sungai ini, pasti ada jalan nanti, percayalah,”
aku pun mencoba untuk tak mengecewakan kawanku. dengan kaki bengkak kupaksakan berjalan mengikuti langkah-langkahnya yang tetap semangat, walau sesekali air mata turun, tanda bingung dan takut yang bercampur. namun jalan menuruni sungai yang ditunjukkan si burung hitam benar-benar kami lalui, tapi melewati rimba di sisi jurang.
perjalanan tetap dengan konsep yang sama, kami mengikuti arus sungai, dan jika bertemu jurang terjal, kami turun melalui rimba di sisi-sisi jurang. kami berjalan mulai bangun tidur hingga hari yang udah gelap dengan cahaya matahari ala kadarnya, menjadi lebih gelap, gelap gulita. dan di malam ketiga ini, nopeng menemukan batiu yang mirip goa, dan hanya muat setengah badan saja, setengah badanku, dan setengah badan nopeng, dari perut hingga ke bawah berada diluar, sempit. dan penderitaan kami ditambah lagi dengan hujan gerimis turun, dinginnya minta ampun, dan kami pun tertidur….
kondisi kami mulai melemah, aku terus berdoa. kapan ujung perjalanan ini…, dan tiap malam, aku merindukan orang yang kusayangi; mama, papa, adikku. antara sadar dan tidak, aku lihat mamaku nangis, dan ohh… aku rindu mereka Tuhan,,, lagi aku menangis.
kulihat nopeng di sebelahku, keningnya yang berdarah sudah membeku dan banyak lalat besar, aku tidak tahu namanya, mengerubungi kening nopeng. aku bangunkan dia, “peng…, peng….”
tapi dia tidak menjawab. timbul kekhawatiran dalam diriku, maka kupanggil lebih keras sambil kugoncang-goncangkan tubuhnya, “PENGGG…!” — BERSAMBUNG BESOK. [www.blogberita.com]
Koneksi Internetmu lambat? Tak sempat tiap hari membaca web? Ini solusinya. ©Diizinkan mengutip artikel Blog Berita ini dengan syarat membuat tautan-balik.
Kirim artikel ini ke teman
• Donasi • Hubungi Blog Berita
