Orang Batak harus mau belajar dan mengajari

Posted by Jarar Siahaan on Oct 16th, 2007 and filed under Opini Pembaca. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. Both comments and pings are currently closed.

Rintislah sesuatu di kampung halaman.Artikel ini ditulis Ridwan Simanullang. Dia tinggal bersama anak-istrinya di Jakarta, bekerja di sebuah perusahaan telekomunikasi.

MASA ANAK-ANAK dan remaja (sampai lulus SMA) yang saya jalani di Humbang kayaknya tidak merasakan adanya kaitan makam tersebut dengan rumah reot yang disebutkan. Makam tersebut mungkin ada nilai positifnya. Setahu saya kalau di Humbang, makam secara umum masih memakai kuburan biasa (langsung ke tanah).

Mertua saya adalah orang Samosir (Lumban suhi-suhi) dan saya baru pernah satu kali ke pulau samosir dan memang saya melihat bahwa hampir semua keluarga di sana memiliki makam yang bertingkat dan permanen.

Menurut pemikiran saya bahwa hal tersebut punya latar belakang yang berbeda. Samosir, memang lebih baik memakai makam bertingkat dan permanen tersebut jika kita melihat luas lahan yang tersedia di sana. Bukankah makam tersebut dipakai banyak orang (kalau tidak bisa disebut puluhan).

Yang aku dengar, lubang terbawah adalah utk tempat pembusukan mayat dan jika sudah penuh namun ada kerabat yang meninggal (tentunya masih satu keluarga) maka lubang terbawah yang diisi oleh mayat yang sudah tinggal tulang belulang akan dipindah ke lubang di atasnya disatukan dengan tulang belulang yang sudah lebih dahulu ada di sana, demikian seterusnya sampai makam tersebut penuh.

Jadi, saya kira ini adalah pemikiran efisiensi lahan yang mungkin telah dipikirkan nenek moyang khususnya daerah Samosir yang boleh dibilang bahwa lahan tanah pertaniannya sangat terbatas. Coba bayangkan, jika makamnya bukan demikian, maka mungkin seperempat lahan di Samosir sudah menjadi kuburan.

Dan berbeda dengan Humbang, yang boleh dikatakan bahwa lahannya jauh lebih luas dari pulau Samosir maka bentuk makam yang lebih tepat saat ini adalah dengan system horinzontal (satu lubang satu mayat). Walaupun mungkin beberapa telah ada makam bentuk bertingkat dan permanen. Dan barangkali untuk waktu mendatang, makam bertingkat tersebut akan lebih tepat mengingat pertumbuhan penduduk dan lahan yang tetap.

Kembali ke makam dan rumah reot… Saya kira kita juga harus mengakui bahwa kemiskinan yang terjadi di Bona pasogit (dalam hal ini saya hanya bisa katakan untuk Humbang, karena saya lahir dan besar disana) juga disumbang oleh pola pikir yang ada di bona pasogit. Saya juga pernah punya pengalaman pribadi di mana ada anggapan masyarakat bahwa tanahnya terlalu tandus untuk bercocok tanam sebagai alasan untuk kemalasan bekerja.

Selama 3 tahun masa SMA, saya berusaha menggerakkan adik-adik, dan Tulang (yang seumuran denganku) dan yang akhirnya didukung penuh oleh ortuku untuk ‘mangarimba’ (bahasa indonesianya apa ya) sekitar 1 hektar lahan ‘tarulang’ yang dipenuhi ‘aramonting’ ,’arsam’, dan ‘hau silom’ untuk kemudian ditanami dengan kopi, cabe, dan sayur. Pekerjaan tersebut bukan dengan traktor tetapi benar-benar dengan ‘cangkul’.

Untuk tahun pertama memang sangat sedikit hasil bahkan tidak jarang banyak tanaman kopi, cabe atau sayur yang ‘kariting’. Pupuk pada saat itu cukup mahal disamping modal memang tidak ada, maka kami ‘mangarambas’ semak belukar untuk dijadikan pupuk dan ditambah dengan ‘taru-taru’ bercampur tahi babi yang dibawa dari perkampungan. Akhirnya… lahan tersebut menjadi subur dan saya dengar akhir-akhir ini sudah banyak teman kampung yang mengelola lahan ‘tarulang’nya dan bahkan saat ini lahan tersebut pun sudah dapat dipakai untuk menanam tomat.

Bukan mengatakan bahwa saya termasuk pelopornya, tapi yang saya mau bilang adalah bahwa masih banyak pola pikir yang menghambat di kampungku sana. Cukup banyak petani yang berdiskusi tentang tata cara kelola negara, perang nuklir, kursi menteri, dll, dll.

Dan jangan kaget, sebenarnya saat ini pun sangat banyak lahan kosong yang dibiarkan terlantar di bona pasogit sana (dalam hal ini saya hanya berani bicara Humbang). Adakah yang berminat untuk mengubah pola pikir-pola pikir yang lain yang mungkin menghambat kemajuan tersebut.

Eh… rumah reot… lupa lagi. Percayalah… Anda bantu pun pemilik rumah reot tersebut untuk membangun rumahnya menjadi gedung permanen, kemiskinan tidak akan hilang dari Bona Pasogit selama kemalasan masih ada dan pola pikir belum memungkinkan untuk maju.

Kita boleh dengan sangat bangga sebagai orang Batak, namun kita juga harus tetap mau belajar kepada orang lain. Janganlah seperti orang bilang “Namalo maol mangajari, Naoto maol siajaran”. Orangnya pintar tapi tak mau membagi ilmunya, orang bodoh tetapi tidak mau untuk belajar.

Oh ya satu lagi, saking susahnya mengubah pola pikir ini. Kalau tidak salah, saya pernah dengar bahwa pak TB pernah menyarankan agar rumah-rumah yang ada di tepian danau di pulau Samosir agar diubah posisinya menjadi menghadap pantai (saya sendiri sewaktu ke pulau Samosir memang melihat banyak rumah yang membelakangi pantai danau toba). Mungkin pak TB pasti ada alasan untuk mengusulkan tersebut. Kenyataannya, sudah berapa banyak yang rumah yang menghadap pantai?

Jadi, usul saya adalah mungkin rekan-rekan bisa membantu bagaimana caranya mengubah pola pikir (pola pikir pola pikir yang tidak membuat kemajuan) para ‘tondong’ kita yang masih tinggal di Bona Pasogit (ah..yang tidak tinggal di Bona Pasogit pun mungkin banyak juga) dengan cara tidak menggurui mereka. Bantuan finansial bukan satu-satunya solusi walaupun bantuan finansial memang tetap dibutuhkan.

Barangkali sudah saatnya para jurnalis memberitakan orang-orang di Bona Pasogit (bukan perantau, karena pemberitaan untuk perantau sudah banyak kayaknya) yang punya karya mendobrak, memelopori, kemajuan di daerahnya masing-masing. Mungkin sudah saatnya pemerintah meng-apresiasi mereka dengan penghargaan setingkat ‘kalpataru’ sehingga makin banyak orang lain (di bona pasogit) yang terinspirasi menjadi pionir-pionir di daerahnya masing-masing.

Kayak Lae Jarar yang punya blog ini pun mestinya sudah harus diapresiasi untuk kategori ‘Blogger yang berdomisili di Bona pasogit’. Karena apa, Lae ini termasuk orang yang berkarya dan pionir dalam bidangnya di Bona Pasogit melalui media internet dalam bentuk blog.

Hatai hata tambaan dan mohon maaf jika tidak mewakili pengalaman para Netters yang lahir dan sempat menghabiskan masa remaja di Bona Pasogit. Komentar tersebut hanya bersifat pemikiran dan pengalaman pribadi saja. [www.blogberita.com]

tafbutton blue16 Orang Batak harus mau belajar dan mengajari

Artikel ini boleh dikutip HANYA JIKA disebutkan sumbernya www.blogberita.net DAN dibuat tautan-balik. Supaya tidak ketinggalan artikel terbaru, langgani RSS Feed, gratis!

Masukkan email Anda untuk BERLANGGANAN GRATIS:

Setelah diklik, ikuti petunjuk dari FeedBurner, cek email Anda.

Jumlah pelanggan Blog Berita via RSS & email Cara tampilkan fotomu pada komentar. Jumlah Pembaca KLIK DI SINI

Comments are closed

Advertisement

Arsip sejak Maret 2007

Gratis RSS-Email-Twitter

Klik Play-Tonton Video


Log in / BLOG BERITA mengizinkan konten web ini dikutip dengan syarat menyebutkan sumbernya www.blogberita.net dan membuat tautan-balik. Pengelola Blog Berita wartawan freelance Jarar Siahaan tidak bertanggung jawab atas komentar dan artikel tulisan pembaca. Balige Kabupaten Toba Samosir Provinsi Sumatera Utara Indonesia. Berita terbaru Artikel menarik Video unik terbaik.