Cerita perempuan Jawa-Batak, dosen IPB, merayakan Idul Fitri di USA. Penulis artikel ini adalah Sri SW, seorang perempuan muslim berdarah Jawa [bapaknya] dan Batak [ibunya]. Suaminya orang Amerika. Anaknya dua; Amirah [10 tahun] dan Farhan [8 tahun]. Sri lahir dan melewatkan masa SD-nya di Pintu Pohan, Kabupaten Tobasa, Sumut.
Dia bekerja sebagai dosen kimia di IPB, dan kini sedang mengikuti program S-3 di Universitas of Hawaii, Amerika Serikat. Sri mulai menjadi pembaca aktif Blog Berita sejak sebulan silam.
“Ito Jarar, seperti dulu pernah aku ceritakan sedikit di kolom komentar, bapakku orang Jawa makanya namaku Jawa sekaleee, sementara emakku boru Marpaung. Dulu waktu mangadati, kami dapat marga Tambunan. Tapi apa pantas aku jadi boru Tambunan, martarombo pun aku tak tahu,” katanya padaku lewat email.
LEBARAN PERTAMAKU DI Honolulu diwarnai sedikit ketegangan, karena belum lama berselang ada kejadian yang membuat seluruh ‘mata’ masyarakat di Hawaii tertuju pada kelompok minoritas beragama Islam. Peristiwa itu adalah runtuhnya the Twin Towers pada September 11 tahun 2001. Peristiwa 911 tersebut menimbulkan gelombang anti muslim di penjuru Amerika, tak terkecuali di Hawaii yang jaraknya cukup jauh dari Amerika daratan.
Satu-satunya mesjid di Hawaii mendapat beberapa surat ancaman akan diserang. Sehingga selama hampir setahun, mesjid dan jamaahnya diawasi secara langsung oleh pihak kepolisian kalau-kalau ancaman tersebut jadi kenyataan. Saat sholat Idul Fitri, minimal satu lusin polisi berjaga-jaga, ditambah liputan reporter dari beberapa stasiun TV. Betul-betul serasa hidup di bawah mikroskop saat itu.
Idul Fitri 1428 Hijriyah, tahun 2007 Masehi, dirayakan seperti pada tahun-tahun sebelumnya. Bedanya, pihak mesjid sudah mulai “berani” menyelenggarakan sholat Ied tersebut di tempat yang sangat umum, di tepi pantai. Kawalan polisi sudah tidak ada lagi, reporter TV pun sudah tak berselera melaporkan kegiatan tersebut. Ternyata masyarakat muslim di Hawaii adem-ayem saja, tak pantas masuk berita.
Keputusan menyelenggarakan sholat Ied di pantai sepertinya juga ditujukan untuk mengenalkan masyarakat muslim kepada penduduk Hawaii pada umumnya. Tak kenal maka tak sayang, tak iye.
Hawaii memang gudangnya pantai-pantai yang elok, walaupun menurutku pantai di Indonesia masih jauh lebih indah. Hehe… Indonesia harus dibela dong. Nah, karena lokasi sholatnya yang sangat public tersebut, bisa dibayangkan aktifitas apa saja yang sedang berlangsung pada saat itu. Di pantai ngapain aja sih?
Yang jelas banyak yang berenang dan berselancar, ataupun berjemur di bawah terik matahari dengan harapan mendapat kulit yang coklat bak kulit orang Melayu yang sawo matang. Padahal di Indonesia, cantik itu identik dengan kulit yang putih… Oh, ditambah betis yang mbunting padi, halah… Ada juga yang melaksanakan pernikahannya di tepi pantai, suatu kegiatan yang sudah diwarnai rona bisnis.
Pemandangan yang sangat kontras memang terjadi pada hari itu. Di satu sisi, masyarakat muslim yang sedang merayakan lebaran mengenakan pakaian yang sangat tertutup, mesti banyak juga yang tidak memakai kerudung. Di sisi lain, para penikmat air dan matahari di pantai hanyalah memakai sejumput kain untuk menutupi wilayah “di sini” dan “di situ”. Bahkan sekitar dua puluh meter dari tempat sholat, terdapat sepasang muda-mudi dengan pakaian yang sangat minim sedang berjemur dan sekali-sekali saling berpagutan… alamak.
Kelihatannya tidak ada pihak yang merasa terganggu saat itu, tidak si Imam yang sedang memimpin sholat, tidak pula sejoli yang tetap sibuk dengan aktifitasnya sendiri. Bahkan saat sang Khatib menyampaikan khutbahnya, beberapa passerby berhenti untuk mendengarkan isi khutbah. Ada yang manggut-manggut, ada pula yang tersenyum sinis.
Apalagi saat sang Khatib menyatakan bahwa laki-laki yang baik di mata Allah adalah yang menghormati dan menyayangi istrinya. Hehe… yang kuingat cuma yang satu itu saja, yang lainnya sudah pernah kudengar jadi nggak terlalu disimak.
Perayaan Idul Fitri di pantai tersebut dilaksanakan sepanjang hari itu dari selesai sholat, sekitar jam 9 pagi, sampai jam 4 sore. Kegiatan yang paling utama adalah silaturahmi antar masyarakat muslim. Acara yang paling seru tentunya hak milik para anak-anak. Seharian mereka bisa bermain di beberapa bouncing house yang disediakan. Mereka juga mendapat hadiah berupa goodie bag yang isinya permen dan mainan kecil.
Selain itu, untuk melepaskan dahaga disediakan shave ice, es serut yang dibaluri sirup, serta minuman bersoda. Juga ada popcorn dan beberapa jenis makanan kecil lainnya. Tapi…. sigh… tetap tak semeriah di Indonesia. Di Hawaii tak ada kembang goyang, sasagon, kue bawang apalagi dodol dan lemang. Amang tahe, toktong do uttabo na di huta i (masih lebih enak yang di kampung).
Untuk makan siang disajikan domba masak tomat (bukan domba tersesat, lho) yang dimakan dengan nasi dan salad. Tahun sebelumnya berupa ayam bakar dan sayur kari.
Tahun ini memang tidak semeriah tahun sebelumnya, entah kenapa. Apa karena kita sudah tidak diliput televisi lagi? Apa karena mobilitas masyarakat muslimnya terlalu tinggi, sehingga tahun ini mungkin penduduk muslim di tempat lain bertambah jumlahnya.
Kenangan berlebaran di negeri orang tetap akan selalu kuingat. Membuatku semakin menghargai betapa kuatnya kekeluargaan dan silaturahmi antar penduduk di tanah air. [www.blogberita.com]

Artikel ini boleh dikutip HANYA JIKA disebutkan sumbernya www.blogberita.net DAN dibuat tautan-balik. Supaya tidak ketinggalan artikel terbaru, langgani RSS Feed, gratis!


















