Pemalas suka libur panjang

Posted by Jarar Siahaan on Oct 23rd, 2007 and filed under Opini Pembaca. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. Both comments and pings are currently closed.

HARI SENIN, TANGGAL 22 Oktober 2007, denyut kehidupan negeri ini dimulai lagi setelah menjalani libur panjang sepuluh hari, libur nasional paling lama. Tak seperti lazimnya, libur Lebaran tahun ini lebih lama dibanding sebelumnya, karena Lebaran jatuh pada hari Jumat dan Sabtu, kemudian dilanjutkan hari Minggu. Sabtu dan Minggu dianggap sebagai hari libur sehingga kalau ada peringatan hari besar pada hari itu, maka liburnya harus dipindah ke hari lain.

Husnun Djuraid; Malang; Blog Berita

Itu artinya, libur dipindah pada hari Senin dan Selasa. Itu masih belum cukup, saat Lebaran ada cuti sebagai tambahan libur tiga hari sehingga liburnya ditambah Rabu, Kamis dan Jumat. Padahal, Sabtu dan Minggunya libur, maka klop sudah, masuk kerja mulai hari Senin.

Sampai saat ini masih sulit untuk menerima logika hitung-hitungan cuti nasional itu sehingga tercipta libur nasional yang sangat panjang. Libur nasional itu sebenarnya diberlakukan bagi pegawai negeri, tapi ternyata diikuti yang lain. Aturan pegawai negeri itu kemudian menjadi acuan bagi intitusi lain.

Sayang, yang jadi acuan itu adalah keputusan yang tidak produktif, pemborosan dan menambah para pemalas. Keputusan mengobral libur ini harus ditinjau ulang untuk masa yang akan datang, karena berdampak luas pada seluruh aspek kehidupan. Instansi swasta sebenarnya bisa saja tidak latah libur panjang – karena jelas mengganggu produktifitas – tapi banyak urusan yang terkait dengan instansi pemerintah. Banyak kegiatan bisnis yang tergantung dengan instansi pemerintah, sehingga kalau instansi pemerintah libur, praktis tidak bisa beraktifitas. Maka libur sepuluh hari itu bukan hanya jadi milik PNS, tapi akhirnya menjadi milik seluruh masyarakat.

Tidak ada hitungan pasti soal ”kerugian” akibat kebijakan pemerintah yang memanjakan para pemalas itu. Tapi yang jelas, banyak kegiatan masyarakat – sosial, ekonomi dan sektor lain – yang terbengkalai. Sebagian dunia bisnis seperti perbankan dan perdagangan sudah mulai beraktifitas pada hari Selasa atau Rabu yang lalu, tapi masih belum optimal.

Para pelaku ekonomi kebanyakan masih menunggu instansi pemerintah membuka kantornya. Praktis selama libur panjang itu kegiatan ekonomi tersendat, baik ekonomi dalam skala besar maupun ekonomi kecil. Orang kebingungan mau mengisi pulsa untuk HP-nya karena banyak konter HP yang tutup.

Banyak keluarga yang sulit mencari makan karena warung makan masih libur, para mlijo – pedagang sayur – ikut cuti nasional, pedagang pasar pun masih belum genap menggelar dagangannya. Maka, tak jarang keluarga yang harus boyongan ke hotel untuk menghindari kerepotan. Atau kalau tidak, makan di rumah makan atau restoran yang tentu saja butuh dana lebih besar. Terjadi pemborosan yang sangat besar. Libur yang dimaksudkan untuk meningkatkan produktifitas – setelah bekerja sepanjang tahun – justru berbalik menjadi tidak produktif.

Berapa juta rupiah yang dibelanjakan selama liburan panjang itu? Tentu saja sangat banyak. Anggaran libur selama sepuluh hari itu bisa jadi melebihi anggaran rutin dua atau bahkan tiga bulan. Sudah menjadi rahasia umum kalau puasa yang dilanjutkan Lebaran itu menjadi momen yang sangat konsumtif.

Puasa yang seharusnya bisa menjadikan hidup yang lebih ekonomis – karena hanya makan dua kali dibanding hari biasa yang tiga kali – justru menjadi semakin boros. Makan memang 2 kali, tapi ada 2 A, 2 B, 2 C dan seterusnya. Belum lagi menu yang lebih mahal dibanding hari biasa. Kalau biasanya cukup makan nasi dengan lauk dan sayur, saat puasa harus lebih lengkap, ada minuman pembuka, kue, makanan kecil, buah-buahan dan segala macam perniknya yang memenuhi meja makan.

Saat Lebaran lebih boros lagi. Sesuatu yang tidak ada, harus diada-adakan pada saat Lebaran. Pakaian baru, sepatu atau sandal baru, motor baru, mobil baru, HP baru. Kalau ditanya, mengapa semuanya harus baru ? ”Malu dong, kalau pulang kampong tidak memakai barang-barang baru.”

Malu? Ya. Padahal untuk menutup malu – yang sebenarnya tidak memalukan itu – butuh biaya besar. Tak jarang harus mengutang untuk memenuhi gengsi menutup malu itu. Kalau tidak, tabungan selama setahun penuh harus dibongkar. Hasil kerja keras selama setahun penuh habis hanya dalam beberapa hari.

Mudah-mudahan niat pemerintah untuk memberi libur panjang kepada PNS itu bisa berdampak positif, semakin meningkatkan produktifitas, bukan malah sebaliknya, tambah malas. Hari ini, para PNS mulai bekerja lagi. Apakah hari pertama ini akan langsung bekerja?

Menurut tradisi, pada hari pertama masuk setelah Lebaran akan diisi halal bi halal di kantor, saling bersalaman minta maaf kepada rekan-rekan sekerja. Halal bi halal itu bisa sampai siang. Pekerjaan di kantor pun tak tersentuh. Para guru pun memulangkan muridnya setelah upacara dan bersalaman massal itu. Kalau itu yang terjadi, mengutip sinetron Si Entong… Sungguh Terlalu. [www.blogberita.com]

tafbutton blue16 Pemalas suka libur panjang

Artikel ini boleh dikutip HANYA JIKA disebutkan sumbernya www.blogberita.net DAN dibuat tautan-balik. Supaya tidak ketinggalan artikel terbaru, langgani RSS Feed, gratis!

Masukkan email Anda untuk BERLANGGANAN GRATIS:

Setelah diklik, ikuti petunjuk dari FeedBurner, cek email Anda.

Jumlah pelanggan Blog Berita via RSS & email Cara tampilkan fotomu pada komentar. Jumlah Pembaca KLIK DI SINI

Comments are closed

Advertisement

Arsip sejak Maret 2007

Gratis RSS-Email-Twitter

Klik Play-Tonton Video


Log in / BLOG BERITA mengizinkan konten web ini dikutip dengan syarat menyebutkan sumbernya www.blogberita.net dan membuat tautan-balik. Pengelola Blog Berita wartawan freelance Jarar Siahaan tidak bertanggung jawab atas komentar dan artikel tulisan pembaca. Balige Kabupaten Toba Samosir Provinsi Sumatera Utara Indonesia. Berita terbaru Artikel menarik Video unik terbaik.