Tuhan itu satu? Satu apa? Satu kilo? Satu ember? Satu orang?
Artikel ini ditulis oleh Ridwan Simanullang sebagai komentar pada sebuah artikel lama di weblog ini; dalam perdebatannya dengan seorang pembaca lain. Ridwan bekerja di perusahaan telekomunikasi nasional di Jakarta.
SAYA BUKAN ORANG yang tepat untuk Anda ajak untuk membahas Agama dan tentang ke-Tuhan-an, dan aku sudah menyatakannya dalam komentarku terakhir sebelumnya. Dan membahas lebih dari satu kitab suci? Silahkan saja…kalau aku tidak….. kuattttttt, takut malah jadi ‘pesong’.
Memahami satu kitab suci saja dengan modal kemampuan rasional seorang manusia, aku tidak mampu… karena seorang Stephen Hawking saja, yang dikatakan orang sebagai genius abad ini, akhirnya buntu dan mengakui bahwa ADA yang punya kuasa atas jagad raya ini.
Pada rentang antara tahun 1991 sd 1995 saat masih kuliah dengan banyak rasa penasaran tentang ke-Tuhan-an
(aku tidak lupa tahun persisnya), saya pernah membaca sebuah jurnal ilmiah (lagi-lagi aku lupa judulnya, tetapi jurnal ilmiah tersebut adalah jurnal ilmiah teknik LN yang aku pinjam dari perpustakaan fakultas FTUI, mungkin masih ada di sana) yang merupakan karya ilmiah Stephen Hawking lengkap dengan beberapa contoh rumus teorinya tentang alam semesta.
Bahkan disebut disitu bahkan ada satu persamaan matematikanya yang sampai 40-an lembar dan sudah sangat kompleks. Teorinya juga didukung dengan pengukuran sinar gamma (dan sinar-sinar lainnya ah tak tahulah)
di angkasa luar untuk mendukung teori tersebut.
Alam ini sedang dalam proses mengembang dan akan tiba saatnya setelah titik akhir mengembang akan terjadi proses menciut/mengecil sampai titik kecil yang paling kecil yang mendekati limit nol tetapi dengan massa yang mendekati limit tak terhingga (seperti pada mulanya). Teori ini juga didasarkan pada kenyataan bahwa banyak gejala alam dan bahkan hukum alam adalah merupakan suatu siklus yang punya ritme dengan keteraturannya.
Teori ini dikembangkan untuk menjelaskan proses terbentuknya jagad raya sehingga menjadi seperti sekarang ini. Tetapi akhirnya dia terhenti kepada suatu kebuntuan, setelah dengan keyakinan dirinya menjelaskan teori alam semesta tersebut. Siapa yang telah membuat titik kecil yang paling kecil yang mendekati limit nol tetapi dengan massa yang mendekati limit tak terhingga ini.
Selain hal yang satu ini, dia bisa menjelaskan teorinya tentang alam semesta berdasarkan teori yang dikembangkan tersebut. Akhirnya, dia mengingat (mungkin sesuai dengan keyakinannya) CRATIO EX NIHILO (dari yang tidak ada menjadi ada). CRATIO EX NIHILO, kemampuan mencipta yang hanya dimiliki oleh Pencipta alam semesta.
Inti dari isi jurnal tersebut yang mau saya utarakan adalah bukan masalah benar atau tidaknya teori alam semesta yang dibuatnya tersebut. Tetapi yang mau saya utarakan adalah bahwa kemampuan rasional seorang manusia, yang paling jenius abad ini pun, akhirnya mengakui bahwa ADA yang punya kuasa atas jagad raya ini yang tidak selalu bisa dijelaskan oleh kemampuan rasional seorang manusia.
Bahkan, menurut keyakinan imanku, hanya manusia yang dibuat oleh Tuhan ‘dari yang ada menjadi ada’ (dan akhir tubuhnya ’sian tano do parmulaanmu, ingkon mulak ma ho tu tano’). Manusia ciptaan mulia yang akhirnya dengan congkaknya, sombongnya, usilnya dan egonya yang tak ketulungan dan bahkan berambisi setara bahkan ingin melebihi Tuhan untuk hanya akan percaya kepada Tuhan jika kemampuan rasionalnya bisa mengerti.
Jika Anda ingin mendalami banyak kitab suci, berdiskusilah dengan orang-orang yang ahli di bidangnya atau mungkin coba ikuti kuliah filsafat dan theologi. Karena kitab suci tidak mesti dibaca/dipahami selalu dengan persamaan matematika, ilmu kimia, dan ilmu lain yang hanya dimengerti oleh kemampuan rasional manusia.
Tetapi seperti komentar salah satu netter harus dibaca/dipahami dengan trans rasional (bukan irrasional). Tapi jika Anda menjadi ‘pesong’, teroris, atau radikal karena tidak siap secara mental dan iman, maka resiko ditanggung sendiri. ![]()
Namun aku sarankan, pelajarilah saja kitab suci yang Anda yakini dengan imanmu dan jangan mengusik iman orang lain karena Tuhan tidak sekerdil kemampuan rasional seorang manusia yang Anda miliki, aku miliki dan orang lain miliki. Seluruh jagad raya ini adalah tulisan karya agung dari Tuhan, yang tidak mungkin bisa dimuat hanya oleh setebal sebuah buku (kitab suci) yang ada di bumi ini.
Masih adakah kitab suci di system tata surya lain di jagad raya ini yang isinya sama dengan salah satu kitab suci yang ada di bumi ini atau bahkan berbeda sama sekali dengan semua kitab suci yang ada di bumi ini? Mari kita came on….sudah jadi mulai ‘pesong’
Inti dari keyakinanku hanya satu, “Muliakanlah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu DAN kasihilah sesamamu manusia seperti engkau mengasihi dirimu sendiri.”
Bukan sesamamu se-agama ya… amang oiiii tahe……. ‘pananggai’ saja kadang awak sayangi walau kadang-kadang ‘diganti goar’ juga sih
, kenapa sesamaku manusia sangat susah untuk kukasihi/kucintai.
Mari “menghitung” Tuhan
Persamaan yang sederhana saja:
1 sel telur + 1 sperma + 1 roh = 1 insan manusia
1 yang pertama dan yang kedua di proses sesuai dengan ilmu biologi lalu ditambahkan dengan 1 yang ketiga dengan bantuan Ilahi sesuai dengan ilmu agama, maka keluarlah 1 yang terakhir dan disebut seorang insan manusia.
lho kok hasilnya hanya 1 insan manusia ? belum tentu juga. bisa menjadi 2 atau lebih, karena proses kembar. mungkin sampai 100 juga bisa. Lho kok …bisa. Mungkin dengan bantuan ilmu bio teknologi (who body knows in the future ?)
Ah…itu tidak matematis. Siapa bilang semua perhitungan harus dihitung dengan ilmu aljabar sederhana yang 1+1+1 = 3.
1+1+1=3 adalah ilmu aljabar tertinggi yang hanya diberikan kepada anak SD (pada zamanku) atau TK (zaman anakku) untuk menganalisa sesuatu.
persamaan di atas kalau secara lugu saja bisa diterjemahkan (walaupun ini juga tidak benar, karena sudah menyangkut proses biologi dan Ilahi alias tidak murni lagi matematika) ke dalam matematika yang bukan anak SD atau TK lagi adalah 1x +1 y + 1z = 1w atau x + y + z =w.
Persamaan matematika saja sudah sangat kompleks dengan dengan berbagai variabelnya, juga belum sanggup untuk menganalisa ke-Tuhan-an, masa mau dengan pongah dan sombong mau menganalisa ke-Tuhan-an hanya dengan ilmu tertinggi yang dimiliki oleh seorang anak SD atau TK.
x+y+z=w juga tidak betul untuk menganalisa arti ke-Tuhan-an. Lho kok gitu…
Memang tahu? satuan atau besaran ‘unit’ Tuhan itu, apa? Tuhan itu satu… satu apa? satu kilo? satu ember? Maha Esa? satu ekor? 1 orang? Esa? tunggal? tunggal gede? segede apa? segede gorilla? segede-gedenya… segede-gedenya apa?
Ah… memang kita ini kadang sering menjadi manusia kerdil, yang nggak ketulungan sombongnya, yang minta ampun congkaknya, hanya dengan mengandalkan kemampuan rasional seorang manusia, dengan bangganya menganalisa kebesaran Tuhan.
Jadi pusing amat debat debat ayat-ayat dengan Anda (jika pun seandainya Lae Jarar meloloskannya, tetapi syukurlah tidak diloloskan oleh Lae Jarar, agar tidak memancing emosi banyak orang dan siapa tahu malah membuat makin banyak orang menjadi ikutan ‘pesong’).
Dan toh bukan disitu keahlianku. Kalau Anda adalah ahlinya, carilah teman diskusi (debat aneh) yang ahli di bidang ayat-ayat juga. Dan sekali lagi jika ‘kalian’ menjadi ‘pesong’ maka resiko ditanggung masing-masing. Itu saja… (Arti kata “pesong” = gila tetapi bukan karena dia orang gila, ngawur tetapi bukan karena dia orang ngawur.)
Dan lagi-lagi sekali lagi aku nyatakan “Selamat berkelana dalam ambisi yang ingin mengerti semua jalan pikiran dan kemampuan Tuhan dengan modal kemampuan rasional seorang manusia.” Terima kasih. [www.blogberita.net]

Artikel ini boleh dikutip HANYA JIKA disebutkan sumbernya www.blogberita.net DAN dibuat tautan-balik. Supaya tidak ketinggalan artikel terbaru, langgani RSS Feed, gratis!


















