Si Jagiring menamparku, karena foto selingkuhannya kubuang ke tempat sampah.
Cerita pendek ini adalah karya Rim Marluat Napitupulu, lelaki Balige yang kini tinggal di Jakarta bersama anak-istrinya, dan bekerja di sebuah perusahaan asing.
DULU, KETIKA MENGINJAK remaja aku tergila2 pada roman cinta sejati. Aku mengagumi legenda cinta Romeo dan Juliet karya William Shakespeare. Jiwaku tergugah saat membaca keteguhan cinta Werther terhadap Lotte dalam buku “Die Leiden De Jungen Werther”. Bahkan meski telah berulang-ulang, toh, air mataku selalu berderai kala menyaksikan film Titanic, kisah cinta yg bagiku mungkin paling sejati di abad 20.
Begitu hebatnya kisah2 itu mempengaruhiku, hingga pernah suatu malam aku berdoa. Ujarku, “Tuhan, berikanlah aku cinta sejati. Bila engkau memberikan aku kekasih ajari aku untuk mencintainya setulus hati. Dan bila engkau menganugerahi bagiku seorang suami, apapun yg terjadi bairlah aku mencintainya sepanjang hayatku dan jangan biarkan penghianatan cinta lahir dari diriku.” Benar-benar menggelikan, doa puitis itu lahir tatkala usiaku belum genap 15 tahun alias remaja ingusan.
Kini lima belas tahun berlalu. Disaat hatiku remuk redam, disaat prahara memasuki rumah tanggaku, untaian doa itu terngiang kembali. Mencintai suamiku sampai mati? Ya Tuhan, mampukah aku? Mampukah aku mencintai Jagiring seperti dulu, disaat hatinya dibutakan asmara jinah dan mulai membatu menyerupai patung2 Yunani tak berjiwa. Ah…… kenangan indah, mengapa ia cepat memudar.
Aku mengenal Jagiring sekitar sepuluh tahun lalu, ketika kami sama2 menimba ilm di Universitas Gajah Mada, Jogja. Dimataku Jagiring prototype pria sempurna. Kelembutan, kecerdasan, dan tanggung jawab melebur dalma kepribadianya yg kuat. Ia pun tipe yg humoris. Inilah yg membuatku sejak awal berani menilainya sebagai tipikal pria idaman, pria sejati. Masih jelas terekam bagaimana romantisnya cara Jagiring menaklukkan hatiku.
Senja itu Jagiring mengajakku ke Parangtritis. Kebetulan kami berdua sama sama mencintai lautan. Ditemani deburan ombak dan tiupan sepoi angin laut, saat itu Jagiring menatapku lembut dan bertanya. “Merry, kenapa kamu begitu mencintai lautan?”
Aku tersenyum mendengar pertanyaan Jagiring. “Laut itu ibarat cinta, Jagiring. Ia abadi. Mungkin sering surut, dangkal karena berbagai hal, namun tidak akan pernah lenyap hingga dunia berakhir. Bahkan ia makin membesar saat menerima curahan hujan dan terpaan sinar rembulan. Mungkin karena itulah aku mencintai laut, sebab aku tergila gila pada cinta sejati,“ ujarku bak seorang pujangga.
Seminggu berikutnya, di tempat yg sama, tepat di hari ulang tahunku ke-23, Jagiring memberiku sebuah gulungan kanvas putih seukuran karton : Lukisan dua sejoli yang asyik mempermainkan ombak Parangtritis! Indah sekali! “Aku mencintaimu Merry, bersediakah kau jadi kekasihku? Kelak, biarlah lukisan ini menjadi symbol keabadian cinta kita.”
Tak perlu kuuraikan betapa berbunganya perasaanku kala itu. Aku telah menemukan Romeoku, lautku, dan cinta abadiku, kami pun memutuskan untuk menikah.
Yah tapi seperti kata orang, cinta sejati mungkin hanya ada di negeri dongeng. Memasuki dua tahun usia pernikahan, siapa Jagiring sebenarnya baru aku tahu. Kelembutan yg kubanggakan darinya mendadak hilang. Ia menjadi dingin, kaku dan berlaku kasar. Kecupan-kecupan mesra dan belaian manja menjelang tidur, hilang berganti makian makian kotor yg menyayat perasaan. Tak ada lagi canda canda jenaka di depan televisi. Entah bagaimana Jagiring telah menjadi brutus dalam perkawinan kami.
Menyakitkan memang, mengetahui cinta yg selama ini kita terima tak lebih dari fatamorgana. Tapi aku berusaha tegar. Sekuat tenaga aku bertahan di sisi Jagiring, melayani dgn keteguhan dan cinta. Hari demi hari, aku setia menantinya di beranda rumah, menyongsong kepulangannya dan berharap kami dapat menikmati makan malam bersama. Hasilnya menyedihkan. Masakan yg kusajikan dgn cinta lebih sering menjadi dingin, hambar dan sia sia tanpa pernah dijamahnya. “Aku tdk lapar! Aku lelah, tak ada selera, kamu saja yg makan!” Ungkapan itu kerap ia lontarkan tanpa empati sedikitpun.
Pernah suatu malam Jagiring tdk pulang kerumah. Namun ketika aku tanyakan, amarahnya justru meledak. “ Kemana aku pergi, apa yg kulakukan, bukan urusanmu! Kalau kamu tak suka terserah, tak ada yg memaksamu tetap tinggal di rumah ini!”
Ya… Tuhan, aku benar benar terpukul. Apa dosaku hingga Jagiring benar benar tega mengeluarkan kata-kata itu!? Sejak saat itu, pulang larut, tugas ke luar kota berhari hari, menjadi rutinitas bagi Jagiring.
Selingkuhkah Jagiring? Ah…… jelas prasangka itu ada, aku bukan wanita bodoh. Wanita ketiga telah menyusup rumahtanggaku. Pernah suatu masa, tanpa sengaja aku menemukan photo wanita terselip di tumpukan file kerja Jagiring. Cantik dan mempersonifikasikan wanita modern. Berbeda dgn diriku yg kata orang, lugu dan keibuan. “Photo teman kantor,” katanya sinis saat aku menyinggungnya.
Anehnya, amarah Jagiring sontak meledak saat ia tau photo itu kubuang ke tong sampah. Tangannya mendarat di pipiku. Ah… perih sekali rasanya. Mana mungkin sehelai photo lebih berharga dari perasaan seorang istri? Jiwaku hancur.
Bercerai! Nasehat itu awalnya datang dari sahabatku, kemudian ayah, ibu, bahkan kedua adik perempuanku. Buat apa kau mempertahankan perkawinan jika neraka yg kau rasakan. Kamu masih muda, masih cantik. Apakah kau sanggup hidup seperti itu?
Sungguh aku menghargai simpati mereka. Tapi bercerai? Ya Tuhan, aku tdk bisa. Aku tdk mau melanggar doa yg kuucapkan lima belas tahun lalu, janjiku pada Tuhan bahwa aku akan mencintai suamiku sampai mati, apapun yg terjadi. Bila sudah begini, mereka hanya bisa mengelus dada. Mereka marah, namun tdk bias berbuat apa2. Ini adalah pernikahanku, pilihanku, dan kehidupanku.
Suatu malam aku bermimpi, indah sekali. Aku mendapati diriku di sebuah taman, berlarian riang bersama Jagiring. Didepannya menghampar panorama laut biru yg indah, keindahan yg belum pernah kusaksikan sebelumnya. Aku berlari lincah kesana kemari, sementara Jagiring mengejarku berderai tawa riang. Saat Jagiring berhasil meraih tubuhku, ia merengkuhku dalam pelukan dan menghujamiku dgn ciuman ciuman mesra. Sambil membekap tubuhku, ia mengarahkan telunjuknya seolah mengatakan bahwa laut itu adalah kepunyaan nya yang akan ia berikan padaku.
Malam itu Jagiring tdk pulang, namun berkat mimpi itu aku bisa tidur layaknya seorang bayi. Pagi harinya, saat tengah menyirami tanaman hias di beranda rumah, seorang pria menghampriku. Ia mengaku teman sekantor Jagiring. Wajahnya gugup. Feelingku berkata hal buruk telah terjadi, dan itu tidak meleset. Tergagap, orang itu mengabarkan Jagiring mengalami kecelakaan, dini hari tadi. Sekujur tubuhku menegang. Aku menjerit sejadinya, dan sejurus… jatuh tak sadarkan diri.
Dari balik pintu ruang intensif care, dgn mata berderai, aku mengamati tubuh Jagiring terbaring tak bergerak. Banyak selang perawatan menempel di tubuhnya. Menurut dokter, ia mengalami geger otak parah dan kelumpuhan dari pinggang hingga kedua kakinya, sementara gadis yg bersamanya saat kejadian, tdk dpt diselamatkan. Ia meninggal di tempat. Ya Tuhan, inikah makna mimpi itu? Inikah tebusan yg harus ia bayar agar kembali padaku? Batinku menangis.
Namun itulah Tuhan, terkadang jalannya sulit di pahami logika manusia. Entah bagaimana, yg jelas sejak malapetaka itu cahaya rumah tanggaku kembali bercahaya. Tahun berjalan, hari-hariku kembali terisi gairah cinta. Jagiring lumpuh dan harus menghabiskan waktu diatas kursi roda.
Menyedihkan memang, tapi aku bahagia. Senantiasa aku berada disisinya, memandikannya, menemaninya di depan televisi dan membelainya kapan pun aku mau. Dan yg paling membahagiakan, pertama kali mampu menggerakkan jemari tangannya, Jagiring menuliskan seuntai kata di atas kertas untukku.
Isinya: Maafkan aku Dewi laut, aku mencintaimu….!
Ah, Tuhan memang baik. Lewat cara aneh, Ia telah memulihkan bahtera rumah tanggaku. [www.blogberita.com]

Artikel ini boleh dikutip HANYA JIKA disebutkan sumbernya www.blogberita.net DAN dibuat tautan-balik. Supaya tidak ketinggalan artikel terbaru, langgani RSS Feed, gratis!


















