Kabar terbaru dari “musisi Batak-MTV”, Viky Sianipar, yang disampaikannya ke Blog Berita.
Viky mengirim imel ke weblog ini kemarin bahwa dia baru saja merampungkan album terakhir dari trilogi Toba Dream.
DENGAN HATI BERDEBAR, detik-detik kemenangan itu sangat kunikmati pagi dini kemarin. Tak henti-hentinya kupandangi layar komputer yang sedang menampilkan proses pembakaran CD Master. Begitu proses menunjukkan persentase seratus persen, Indra Qadarsih, mastering engineer TobaDream-3, mengeluarkan CD tersebut dari komputer mastering-nya, memasukan ke sebuah CD cover, kemudian menyerahkannya ke tanganku.
Langsung aku berlari ke luar studio yang terletak di daerah Cempaka Putih Utara, Jakarta itu. Kuangkat CD master itu tinggi-tinggi ke arah langit sambil menyorakkan kemenangan, sambil bersorak: “Yeeaaah…, nungnga sae be Ompung! Mauliate godaaaang da Debata Mulajadi Nabolon! Horas.., horas.., hooorasss!” (Yeah.., akhirnya selesai sudah, Ompung! Terimakasih yang tak terhingga, O, Sang Pencipta!)
Beberapa crew studio dan anak-anak band yang sedang nongkrong di sekitar studio keheranan. Setelah mereka mengerti alasanku bersorak, mereka ikut-ikutan bertepuk tangan, juga bersorak, turut merasakan kegembiraan yang kurasakan.
Setelah 12 jam sehari berkutat di studio selama kurang lebih 12 bulan, tidur hanya sekitar tiga jam seminggu, terakhir di BigKnob Mixing Studio dan di IQALA Mastering Studio, akhirnya semua terbayar. Master Album TobaDream-3 selesai tanggal 3 Desember 2007, pukul 03:03 dini hari. Genaplah “nubuat” trilogi TobaDream.
Tiga pesan tergabung dalam satu esensi; tiga pondasi dasar untuk menjalankan satu misi besar; tiga dalihan untuk menopang satu tungku.
TobaDream-1 adalah sebuah alternatif aransemen musik pop Batak, semacam paradigma baru, yang mencoba menawarkan warna lain dari penggarapan musik dan notasi, termasuk instrumen musik yang digunakan mengiringi sebuah komposisi lagu Batak. Meski oleh sebagian orang dianggap “menyimpang”, kreativitas dan keberanianku menyuguhkan warna lain itu sebenarnya bentuk penghormatan yang tak tertakar isinya terhadap nilai-nilai budaya Batak. Juga sebagai wujud penghormatan atas kaedah adat Batak ‘Dalihan Natolu’ yang kuyakini maknanya: Somba marhula-hula.
TobaDream-2 wujud konsistensiku untuk lebih meyakinkan kaum muda Batak dan non-Batak bahwa proses kreatif dan upaya yang kulakukan untuk merevitalisasi musik Batak, bukanlah proyek coba-coba yang tak mengindahkan kaedah bermusik. Ada keseriusan berkarya yang sangat intens dan pengorbanan besar di dalamnya.
Sikap dan pandangan tersebut berasal dari keyakinanku bahwa musik dan lagu Batak adalah bagian penting dari budaya; bukan semata-mata komoditas hiburan yang menjadi permainan industri musik belaka. Harapan yang kubangun, lewat album ini, unsur dan ajaran ‘Dalihan Natolu’ Manat mardongan tubu itu tetap terjaga melalui kehati-hatian memilih dan mengangkat setiap komposisi lagu yang kuaransemen.
TobaDream-3 merupakan manifestasi dari tuntutan yang dibebankan pada seorang yang berposisi sebagai ‘Parhobas’, yang terus ditantang berkarya, tanpa kenal lelah dan keluh-kesah. Dan ternyata menjadi ‘Parhobas’ itu sungguhlah tidak mudah. Ia dituntut membuat karya sempurna, seperti apapun kondisi, situasi, atau kesulitannya.
Karenanya, proses pembuatan album ini merupakan yang tersulit dibanding dua episode sebelumnya. Banyak pergumulan, juga rintangan, yang seakan bermaksud menggagalkan penyelesaian album ini. Namun demikian, proses pembuatan album yang terakhir ini kujadikan semacam cermin, juga penyemangat untuk bekerja keras tanpa pamrih, yang semoga bisa menggugah dan menginspirasi kaum muda agar terus mencintai musik, ekosistem, dan budaya Batak, seperti halnya Mangelek boru dalam ajaran ‘Dalihan Natolu’.
Aku tak bisa memastikan seperti apa hasil akhir yang akan dimunculkan ketiga album ini. Yang selama ini kurasakan adalah: ada panggilan untuk melakukan sesuatu terhadap musik (dan budaya) Batak. Masih banyak yang harus dilakukan untuk melestarikan budaya Batak, trilogi TobaDream ini hanya sebuah cara, medium, atau alat, untuk melangkah lebih jauh. Namun kurasakan, pembuatan ketiga album ini telah mengakhiri satu babak yang amat penting dalam episode kehidupanku, sebelum memasuki babak lain yang masih panjang.
Ada satu hal yang sangat ingin kutegaskan. Ketiga album TobaDream bukan hanya milik “si Piki Sianipar”, tetapi dengan tulus kuserahkan sebagai milik semua generasi muda Batak, di mana pun lahir dan kini berada. Hanya karya semacam inilah yang bisa kupersembahkan sebagai salah satu alat untuk menggugah kaum muda Batak dan Indonesia, agar lebih mencintai budayanya sendiri ketimbang budaya asing.
Ai ido tona ni Ompui… I am just a messanger. Horas! [www.blogberita.com]

Artikel ini boleh dikutip HANYA JIKA disebutkan sumbernya www.blogberita.net DAN dibuat tautan-balik. Supaya tidak ketinggalan artikel terbaru, langgani RSS Feed, gratis!


















