Citizen journalism dan blog

Posted by Jarar Siahaan on Dec 10th, 2007 and filed under blogging, jurnalisme. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. Both comments and pings are currently closed.

Warga biasa seperti ibu rumah tangga atau pelajar yang bikin weblog bisa jadi reporter; tapi tidak otomatis setiap bloger adalah wartawan. Kebebasan Internet memudahkan warga menyebarkan peristiwa yang dilihatnya; di sisi lain etika dan standar bloger sering diragukan.

Beberapa tahun terakhir jurnalisme memiliki genre baru yang dinamai sebagai citizen journalism atau — terjemahan bebas menurut versiku — jurnalisme rakyat biasa. Citizen journalism juga kerap disebut sebagai public journalism, participatory journalism, maupun interactive journalism. Dalam jurnalisme jenis mutakhir ini, intinya, warga bukan lagi hanya sebagai konsumen media atau objek pemberitaan, tapi bergeser menjadi subjek/pelaku pemberitaan alias reporter atau orang yang mewartakan.

Di Indonesia, sebelum heboh ngeblog beberapa tahun terakhir, sebenarnya citizen journalism sudah lebih dulu diterapkan di media radio, dengan contoh paling tepat adalah radio Elshinta, Jakarta. Di radio ini saban waktu, tanpa terjadwal, pendengar yang notabene warga biasa diberi kesempatan luas mengudarakan berita selayaknya reporter. Mereka cukup menelepon redaksi Elshinta dan melaporkan beritanya secara live, atau berkirim SMS. “Apapun” yang mereka lihat dan alami layak jadi berita; mulai kemacetan lalu-lintas karena pohon tumbang hingga dimintai pungli oleh oknum petugas.

Dalam format berbeda, yaitu melalui saluran Internet, warga dunia pun sudah keranjingan melaporkan berita, baik melalui “blog bersama” [untuk memudahkan penyebutan] maupun blog pribadi. Contoh blog bersama yang paling fenomenal ialah weblog OhMyNews di Korea Selatan dan NowPublic di Kanada. OhMyNews didirikan Oh Yeon-ho, yang sebelumnya memang bekerja sebagai wartawan media, dengan slogan “Setiap warga adalah reporter.” Jumlah kontributornya sudah berkisar di angka 50 ribu warga dari seluruh dunia. Sedangkan NowPublic hingga kemarin telah memiliki 132.173 kontributor dari 4.581 kota, yang rajin mengirim naskah berita, foto, suara, dan video.

Kedua blog ini bukan jenis “blog ecek-ecek” seperti Blog Berita; mereka sudah menghasilkan uang lewat iklan. NowPublic diberitakan telah meraup laba tahun ini lebih dari 10 juta US dollar, dan situs ini dicatat majalah Time sebagai salah satu dari 50 situs terbaik tahun 2007. Aku kurang tahu apakah NowPublic memberi honor kepada warga yang mengirim berita, tapi OhMyNews ya. Situs bersama lainnya yang menerapkan citizen journalism ialah WikiNews. Di sini para penulis setahuku tidak diberi honor, karena ia adalah situs non-profit alias tidak memasang iklan. Kemarin kulihat sudah ada 35 ribu orang lebih yang telah menyumbangkan dana [donatur] ke Wiki Media Foundation.

Fenomena jurnalisme publik ini pun telah diterapkan [diikuti?] situs pemain lama seperti Yahoo dan BBC. Misalnya Yahoo, punya rubrik “You witness news” dan “People of the web” di mana setiap orang bisa mengirim artikel, foto, dan video. BBC juga punya rubrik sejenis. Banyak warga mengirim materi berita ke sana walaupun tidak dibayar.

Di Indonesia sendiri memang ada beberapa blog-bersama yang menerapkan citizen journalism, namun gregetnya belum “gedubrak”. Yang justru punya hits pembaca yang banyak adalah blog pribadi semisal CosaAranda [berisi tips mencari uang lewat iklan Google], Blogombal [catatan ringan yang ditemui dalam kehidupan sehari-hari], Blog Enda [seluk-beluk blog], atau KafeMotor [modifikasi sepedamotor].

Di ranah Internet sudah banyak kritik yang menyangsikan kredibilitas bloger yang menulis berita atau peristiwa. Bloger kerap dituduh tidak punya kode etik dan standar jelas dalam meliput maupun menulis selayaknya reporter media tradisional. Dalam banyak kasus penilaian itu bisa diterima. Namun bukan berarti tulisan bloger-citizen reporter otomatis harus dianggap sampah. Justru terkadang berita karya para bloger bisa eksklusif, kritis, demi kepentingan publik, dan sama sekali tidak dipublikasikan di media biasa seperti koran dan tivi.

Contoh teraktual adalah tulisan dan foto karya para bloger di Burma, yang melaporkan kekejaman junta militer menghadapi aksi demo rakyat. Koran dan tivi di sana tidak berani memberitakannya secara apa adanya karena ditekan oleh junta; tapi bloger — apakah itu mahasiswa maupun orangtua — mampu melaporkan berita tersebut via Internet hingga diketahui dunia. Dalam kasus Burma, para bloger, meskipun terpaksa memilih anonim, tidak boleh dipandang sebelah mata.

Bila setiap warga bisa jadi wartawan dengan membuat weblog, adakah jaminan bahwa tulisan mereka pantas dipercaya? — apalagi kemudian, seperti di Indonesia, belum ada UU dan kode etik yang dikhususkan bagi bloger-citizen reporter.

Wimar Witoelar, bekas juru bicara Presiden Gus Dur yang juga seorang bloger, dalam wawancara dengan Tempo baru-baru ini mengatakan bahwa umumnya bloger Indonesia tidak punya kode etik, tapi dia membuat kode etiknya sendiri.

Lalu, apakah menjadi bloger berarti harus menguasai kode etik pers, bahasa jurnalistik, prosedur wawancara/meliput/menulis, dll? Seharusnya, bagiku pribadi, tidak. Bahkan kalau ingin menulis hanya opini murni atau catatan harian, sama sekali tidak diperlukan yang namanya ilmu jurnalistik atau etika; mau menulis artikel dengan kata-kata kasar atau menulis syair yang isinya cuma “A lalu titik”, bebas saja. Tidak ada orang yang berhak protes karena tulisanmu membingungkan.

Kemudian, kalau setiap bloger diwajibkan terlebih dahulu memahami semua pernak-pernik pekerjaan wartawan itu, maka takkan banyak orang bersedia menulis berita yang disaksikannya; mereka akan takut. Padahal blog idealnya justru harus menjadi media alternatif atas media konvensional yang sering dinilai memihak penguasa.

Seperti ditulis Nasihin Masha di harian Republika, dalam media konvensional, “Tujuan untuk mencapai kebenaran umum menjadi tereduksi ke dalam kebenaran wartawan, pemodal, dan elite masyarakat yang paling banyak menjadi narasumber.” Maka diperlukan citizen journalism sebagai, “Perlawanan terhadap hegemoni dalam merumuskan dan memaknai kebenaran. Perlawanan terhadap dominasi informasi oleh elite masyarakat.”

Maka sudah saatnya warga menulis berita sendiri, tidak lagi hanya berpangku tangan menelan bulat-bulat semua kebenaran versi koran maupun tivi. Bila melihat aksi demo petani di DPRD, atau menyaksikan kecelakaan lalu-lintas di jalan, atau mendengar di kedai kopi pembicaraan seorang pegawai tentang atasannya yang korup, tuliskanlah beritanya di mediamu sendiri: weblog. Terserah, bisa memilih menjadi bloger anonim atau memakai nama samaran, atau memperkenalkan dirimu apa adanya.

Dengan blog, setiap warga bisa menulis berita apapun yang dia temui dan inginkan. Weblog adalah media tanpa batas, menjangkau seluruh dunia, tak pernah lusuh seperti kertas koran, dan tidak akan dibredel oleh pemerintah. Blog bisa menyampaikan kebaikan, tapi juga bisa menyesatkan. Blog bisa bermanfaat, tapi sering juga mendatangkan mudarat.

Perlu ada kiat untuk menjadi bloger-citizen reporter; tapi nurani adalah yang terutama. — Penulis: Jarar Siahaan/www.blogberita.net

tafbutton blue16 Citizen journalism dan blog

Artikel ini boleh dikutip HANYA JIKA disebutkan sumbernya www.blogberita.net DAN dibuat tautan-balik. Supaya tidak ketinggalan artikel terbaru, langgani RSS Feed, gratis!

Masukkan email Anda untuk BERLANGGANAN GRATIS:

Setelah diklik, ikuti petunjuk dari FeedBurner, cek email Anda.

Jumlah pelanggan Blog Berita via RSS & email Cara tampilkan fotomu pada komentar. Jumlah Pembaca KLIK DI SINI

Comments are closed

Advertisement

Arsip sejak Maret 2007

Gratis RSS-Email-Twitter

Klik Play-Tonton Video


Log in / BLOG BERITA mengizinkan konten web ini dikutip dengan syarat menyebutkan sumbernya www.blogberita.net dan membuat tautan-balik. Pengelola Blog Berita wartawan freelance Jarar Siahaan tidak bertanggung jawab atas komentar dan artikel tulisan pembaca. Balige Kabupaten Toba Samosir Provinsi Sumatera Utara Indonesia. Berita terbaru Artikel menarik Video unik terbaik.