Transaksi uang bermodalkan kepercayaan

Transaksi bernilai Rp11 juta itu berlangsung sangat singkat. Tanpa kwitansi, tanpa surat jual-beli bermaterai, tanpa fotokopi KTP maupun tanda-tangan saksi.

Si penjual hanya bermodalkan kepercayaan bahwa si pembeli akan melunasi utangnya.

Siang hari itu, di sebuah Jumat, seorang warga Balige, Simanjuntak, kepincut melihat kerbau yang dijajakan Ompu Agnes Siringoringo [55 tahun] di lapangan bola Sisingamangaraja XII, Balige, Tobasa. Ia berniat membeli dua ekor sekaligus, dengan total harga Rp11 juta, tapi uangnya tidak cukup.

“Uangku cuma Rp700 ribu,” ujar Simanjuntak kepada pemilik kerbau. Keduanya duduk bersila di rumput di bawah terik matahari.

“Cicil sajalah. Tak apa-apa. Tidak pakai bunga,” jawab si penjual.

Calon pembeli pun menerangkan letak rumahnya di Balige. Tidak sampai 10 menit berselang mereka deal alias sepakat. Tujuh lembar uang pecahan Rp100 ribu diberikan sebagai panjar. Sisanya akan dilunasi dua minggu kemudian.

Ompu Agnes menyodorkan sebuah block note dan pulpen. Ia meminta mitra bisnisnya menuliskan kalimat bahwa harga kedua kerbau adalah Rp11 juta dan baru dibayar Rp700 ribu. Tulisan tangan itu tidak lebih dari lima baris. Setelah diteken, selesai sudah.

Meski pembayaran secara kredit, kedua ekor kerbau sudah bisa langsung dibawa Simanjuntak saat itu juga. “Ini untuk kupelihara,” ucapnya.

“Mudah-mudahan kerbaunya sehat dan gemuk,” kata Ompu Agnes menjabat erat tangan konsumennya. Keduanya tersenyum lebar.

Pedagang dari Kecamatan Nainggolan, Kabupaten Samosir, ini sudah hampir 30 tahun melakoni bisnis kerbau dengan sistem yang begitu sederhana. Ia tidak pernah takut uangnya “ditembak”. Mereka saling percaya.

“Dan memang belum pernah pembeli berbohong, mereka selalu bayar,” ujarnya saat kuwawancarai.

Saban Jumat, saat hari pekan di Balige, lima sampai enam orang toke kerbau dari Nainggolan datang. Mereka membawa puluhan kerbau menyeberangi Danau Toba. Ompu Agnes sendiri mengaku bisa menjual tujuh sampai 10 ekor. Ia tiba di Balige pukul 10 pagi dan kembali ke Samosir pukul 2.30 siang. Jadi cuma 4,5 jam lamanya ia berjualan.

Harga seekor kerbau bervariasi. Yang paling kecil, berumur satu tahun, dijual Rp3 juta. Yang termahal Rp8 juta. Umumnya kerbau dibeli untuk disembelih dalam pesta adat maupun dijajakan penjual daging di pasar. Harga daging kerbau di pasaran Balige berkisar Rp60 ribu per kilogram.

Sejak awal 1970-an para saudagar kerbau dari Samosir telah berdagang ke Balige. Dari dulu tempat memajang kerbau-kerbau itu adalah lapangan bola Sisingamangaraja XII. Sebab itu pula, kata seorang atlet sepakbola lokal suatu ketika, “Rumput- rumput habis dimakan kerbau. Makanya kita nggak enak main bola di sini.” — Jarar Siahaan/blogberita.net

Koneksi Internetmu lambat? Tak sempat tiap hari membaca web? Ini solusinya. ©Diizinkan mengutip artikel Blog Berita ini dengan syarat membuat tautan-balik.
Kirim artikel ini ke teman Kirim artikel ini ke teman Donasi Hubungi Blog Berita

Comments are closed.