Iblis Google dan anjing internet
Silakan anonim, tapi jangan lakukan illegal blogging.
Kapan dan mengapa seorang bloger perlu menyembunyikan identitasnya?
jarar siahaan; balige; blog berita
Dalam buku Handbook for Bloggers yang diterbitkan oleh Reporters Without Borders, sebuah organisasi internasional bagi kebebasan pers, disebutkan bahwa bloger sebaiknya memilih menjadi anonim hanya dengan alasan keselamatan jiwa. Bila artikel yang dia tulis atau foto yang dia tampilkan di weblog dinilai sangat mungkin membahayakan jiwanya, maka dia perlu memilih anonim. “Bloggers need to be anonymous when they are putting out information that risks their safety,” demikian tertulis dalam buku itu.
Prinsip sama ditetapkan oleh Media Bloggers Association, sebuah organisasi citizen journalism di Amerika Serikat. Lembaga ini memberi syarat bagi para bloger-wartawan calon anggotanya: tidak menerima bloger anonim. Untuk satu-dua kasus, mereka menolerir, tapi proses rekrutmennya cukup selektif.
Aku setuju anonim dipilih demi menyelamatkan jiwa seperti kasus bloger Burma mewartakan kekerasan junta militer. Namun faktanya tidak sedikit bloger memilih anonim atau memakai nama samaran bukan karena keselamatan jiwa, tapi hanya supaya bebas memaki, memfitnah, dan menghujat pihak lain sesuka hatinya. Tidak bisa dibantah bahwa ada kecenderungan bloger anonim sering melakukan illegal blogging, baik dalam menulis artikel di blognya maupun berkomentar di blog lain; dengan catatan, ada juga bloger anonim yang baik.
“Illegal blogging? Apa pula ini? Macam illegal logging kutengok.”
Di lingkungan blog multi-user seperti WordPress.com, Multiply.com, Blogspot.com, banyak weblog yang memuat materi pornografi, seperti cerita, foto, dan video porno; ini termasuk illegal blogging karena melanggar terms of service [TOS] alias peraturan tertulis dari ketiga blog raksasa itu. Berbeda dengan bloger luar negeri, di Indonesia tidak sedikit bloger anonim [juga bloger dengan identitas asli] yang memaki-maki bloger lain bila tidak setuju dengan tulisannya atau karena sentimen pribadi; ini pun termasuk illegal blogging karena melanggar TOS tadi. Contoh lain yang fatal-haram tapi terkesan sudah dianggap halal adalah pembajakan lagu MP3. Banyak bloger yang menyediakan lagu MP3 untuk diunduh secara gratis tanpa izin dari si pemilik lagu atau produsennya; dan uniknya, si bloger pembajak MP3 itu sering terpilih sebagai jawara dalam ajang pemilihan blog oleh komunitas bloger.
Dalam konteks bloger-citizen reporter, seperti apakah yang disebut dengan illegal blogging? Di Indonesia tidak [belum] ada kesepakatan atau kode etik resmi soal itu, maka setiap bloger-wartawan boleh punya jawaban berbeda.
Berikut kupetikkan wawancara Koran Tempo pada edisi 4 Nopember 2007 dengan bloger senior Wimar Witoelar — bekas juru bicara Presiden Gus Dur, menulis di Internet sejak tahun 1970-an, pemilik web Perspektif Net.
Apakah ada sebuah kode etik di dunia blog?
Saya tidak tahu kode etik profesional di media, tidak pernah baca. Bagi saya, saya punya kode etik pribadi. Itu lebih kuat daripada kode etik mana pun.
Bagaimana dengan bloger yang lain? Apakah juga punya kode etik pribadi seperti anda?
Mungkin tidak ada.
Kalau dalam sebuah blog ada yang mengandung unsur fitnah atau pencemaran nama baik, apa bisa dituntut secara hukum?
Bisa. Ada hukumnya. Jadi kita punya hukum, dan hukum itu harus ditegakkan, itu yang harus dilakukan. Kalau ada komplain terhadap bloger, komplainnya kepada aparat hukum.
Aku pribadi sependapat dengan Wimar, setiap bloger sebaiknya menetapkan etika bagi blognya dan bagi dirinya sendiri. Termasuk memilih menjadi anonim atau bukan, itu juga berhubungan dengan etika atau standar menulis sang bloger.
Walau aku tidak mendukung anonimitas, tapi juga harus kukatakan bahwa seorang penulis dengan identitas asli belum tentu, atau tidak otomatis, menulis secara bertanggung jawab; bisa saja dia berbohong. Namun bagiku, bloger dengan identitas asli adalah pilihan yang lebih baik ketimbang anonim, kecuali untuk kasus seperti di Burma.
Pengalamanku melakukan ribuan wawancara selama 12 tahun bekerja di media cetak memberiku kesimpulan: Orang yang tidak mau dikutip namanya lebih potensial untuk berbohong ketimbang orang yang bersedia disebutkan identitasnya.
Banyak netter mungkin sudah sering melihat gambar kartun di awal artikel ini. “Di internet, tidak ada yang tahu bahwa sebenarnya kau adalah seorang seekor anjing.” Itu adalah karya Peter Steiner, terbit pertama kali di majalah The New Yorker pada 1993. Kartun Steiner ini kemudian memopulerkan ungkapan terkenal perihal identitas pengguna internet: “On the Internet, nobody knows you are a dog.” Secara bercanda pernah kukatakan pada kawan bloger, “Untunglah aku menulis identitas lengkap di Blog Berita. Kalau tidak, bisa-bisa pemilik blog ini dikira anjing.”
Untuk mengakhiri omong-kosong ini, kukutipkan sebuah kalimat pendek yang sangat kusukai; slogan Google, perusahaan Internet paling berpengaruh nan maha-kaya. “Don’t be evil!” kata Google. Artinya? [blogberita.net]
Koneksi Internetmu lambat? Tak sempat tiap hari membaca web? Ini solusinya. ©Diizinkan mengutip artikel Blog Berita ini dengan syarat membuat tautan-balik.
Kirim artikel ini ke teman
• Donasi • Hubungi Blog Berita
