Blog Berita kembali serahkan donasi

Sejujurnya, aku sangat kaget ketika masuk ke rumah Siti Rahayu pada malam hari itu, 31 Desember 2007.

Tak kusangka masih ada warga Kecamatan Balige tinggal di gubuk yang tidak layak huni seperti ditempati Siti Rahayu Hutapea [35 tahun] bersama empat anaknya di Desa Mejan.

kelhutapeadananak2nya Blog Berita kembali serahkan donasiRumahnya hanya berukuran 2,5×4 meter. Berlantaikan papan, berdinding kayu yang sebagian sudah lapuk, dengan lubang menganga di sana-sini. Bahkan satu-satunya ruang kamar tidur mereka juga penuh dengan lubang, sehingga orang bisa mengintip dengan jelas dari balik celah dinding.

“Kalau tidur, bisa masuk angin kalian,” kata Rikardo Simamora, sahabatku yang bekerja sebagai PNS di Kantor Camat Balige, yang sengaja kuajak mencari warga miskin yang layak menerima donasi Rp1,5 juta — salah satunya adalah keluarga Siti — dari dua orang pembaca Blog Berita. Rikardo berjanji membawakan spanduk-spanduk bekas dari kantornya untuk menutupi lubang-lubang pada dinding rumah Siti.

Keluarga Siti Rahayu benar-benar miskin. Gubuk reyot yang mereka huni bukanlah milik mereka; pemiliknya mengizinkan mereka tinggal di sana tanpa harus membayar sewa.

Malam itu kami duduk di lantai papan tanpa alas tikar, dengan hanya diterangi sebuah teplok kecil. Tidak ada barang apapun dalam rumah Siti. Kosong-melompong. Jangankan tivi, radio pun tak ada. Jangankan kursi, selembar tikar pun tak ada. Jangankan meja untuk belajar, sebiji bola lampu pun tak ada.

Tidak ada ruang dapur; Siti memasak di halaman belakang rumahnya dengan kayu bakar. Saat tiba di gubuknya, kami mendapati Nia, anak perempuannya yang duduk di bangku kelas 1 SMP, sedang memasak untuk makan malam.

Nia anak yang pintar. Terakhir dia meraih ranking 4 di kelasnya. Waktu SD dia sering ranking 1. “Dang na sombong ahu, mura-mura do sude parsiajaran di sikkola i. Holan lampu on ma [Bukan bermaksud menyombong, cukup mudah kuhadapi pelajaran di sekolah. Kendalanya cuma lampu],” kata Nia, yang mesti bertandang ke rumah tetangga untuk belajar.

Ibunya, yang bekerja sebagai buruh tani, cukup kesulitan membiayai hidup mereka sehari-hari. Apalagi setelah suami Siti pergi ke Jawa beberapa tahun lalu dan tidak lagi mengirim uang untuk keperluan hidup di kampung. Praktis Siti-lah yang bertanggung jawab atas kelima anaknya.

Anaknya yang paling besar, laki-laki, tidak lagi bersekolah dan memilih bekerja sebagai kuli bangunan di kabupaten lain. Cuma Nia, anak kedua, yang bersekolah, sedangkan tiga adiknya masih usia balita.

Setelah menerima bantuan uang Rp500 ribu dari pembaca Blog Berita, Siti berkata, dia akan memakai uang tersebut untuk beternak itik. Dia akan membeli 15 ekor itik dewasa, yang harganya Rp25 ribu per ekor. Itik-itik itu akan diurus oleh anak-anaknya; diberi makan keong mas yang dicari dari persawahan, dan dibuatkan kandang di kolong gubuk mereka.

“Nantinya dalam sehari itik-itik itu bisa menghasilkan delapan telur, dijual Rp900 per butir,” kata Siti.

Nenek 71 tahun cuma bisa makan bubur bayi
Keluarga lain yang menerima donasi Rp500 ribu dari pembaca weblog ini ialah Basaria Sianipar [71 tahun], nenek miskin dan sakit-sakitan di Desa Parsuratan, Kecamatan Balige, Kabupaten Tobasa.

Sudah satu bulan dia hanya terbaring di tempat tidur, tidak bisa berjalan. Fisiknya sangat lemah, tubuhnya jauh lebih kurus dibandingkan yang terlihat pada fotonya dua bulan sebelumnya. Menurut dokter, dia terkena penyakit mag.

Dia sempat opname di Rumah Sakit HKBP Balige. Dengan bermodalkan kartu Askes Tobamas, dia hanya perlu membayar obat-obatan seharga Rp350 ribu selama opname. Namun setibanya di rumah, penyakitnya kambuh.

neneksianiparterbaringsakit Blog Berita kembali serahkan donasiKini Basaria tinggal serumah bersama anaknya, Lambok Simanjuntak. Suaminya sudah lama meninggal, pada tahun 1970. Ada sepetak sawah kecil sebagai sumber penghidupan mereka. Lambok sendiri pernah bekerja sebagai supir angkutan pedesaan, tapi sudah berhenti sejak mobil tersebut dijual oleh pemiliknya.

Lambok-lah yang merawat Basaria sehari-hari. Mulai mengelap tubuh ibunya, membersihkan kotorannya bila berak di tempat tidur, dan menyuapinya makan. Namun Basaria tidak bisa lagi memakan bubur beras. Dia cuma bisa menelan bubur bayi — kue balita yang dicampur dengan air — itu pun hanya dua-tiga sendok. Minum susu pun tidak bisa. Karena itulah tubuhnya semakin kurus dan lemah.

Aku berpesan pada Lambok agar uang dari pembaca weblog-ku dipakai terutama untuk keperluan Basaria. “Mungkin bisa dibelikan susu bubuk, tapi jangan susu encer, untuk dicampur pada kue bayi tersebut,” kataku.

Baik Siti maupun Lambok sangat berterima kasih pada kedua donatur Blog Berita, Dian Sidauruk dan R***. Mereka mengirimkan salam dan doa bagi keluarga donatur.

Aku pribadi juga ingin mengucapkan terima kasih pada Dian di Bali dan R*** di Jakarta. Uang yang kalian berikan mungkin kecil nilainya bagi orang lain, tapi sangat berarti bagi keluarga Udin Simanjuntak, Siti Rahayu Hutapea, dan Basaria Sianipar.

Semoga di tahun yang baru ini semakin banyak manusia yang hidupnya bergelimang CINTA. [Jarar Siahaan/blogberita.net]

Koneksi Internetmu lambat? Tak sempat tiap hari membaca web? Ini solusinya. ©Diizinkan mengutip artikel Blog Berita ini dengan syarat membuat tautan-balik.
Kirim artikel ini ke teman Kirim artikel ini ke teman Donasi Hubungi Blog Berita

Comments are closed.