Operasi Sayang; nyawa melayang.
3 tewas, 4 luka parah; blog berita; jarar siahaan

Siang tadi tiga pelajar laki-laki SMK Negeri 1 Balige, Kabupaten Toba Samosir, ditemukan tewas dalam jurang 30 meter di kawasan Soposurung, hanya beberapa ratus meter dari sekolah mereka. Siswa-siswa malang itu melompat ke dalam jurang karena dikejar-kejar petugas Satuan Polisi Pamong Praja [Satpol PP] Pemkab Tobasa yang tengah melakukan Operasi Sayang, razia terhadap siswa yang membolos.
Ketiga pelajar yang meninggal itu adalah Deson P Manurung, Chandri Siahaan, dan Ronni Sianipar. Mereka ditemukan sudah tak bernyawa ketika aparat polisi, TNI, dan Satpol PP mengangkat jasad mereka dari dalam jurang pada sore hari tadi. Sementara empat rekan mereka yang juga ikut melompat ke jurang ditemukan selamat, dengan luka-luka parah.
Ketujuh korban langsung dibawa ke kamar mayat Rumah Sakit HKBP Balige. Terlihat dua lubang menembus pipi kanan dan tepi bibir Deson Manurung, selain kepalanya bocor. Lubang yang sama juga ada di wajah Ronni Sianipar. Kepala dan jidat Chandri Siahaan pun terluka. “Dugaan kuat karena terbentur pada batu,” kata seorang dokter.
Mereka ditemukan mengenakan seragam sekolah. Warga yang berkerumun di RS menyebutkan Chandri Siahaan punya saudara kembar yang juga satu sekolah dengannya di SMK Negeri 1 Balige, namanya Chandra. Jasad Chandri sendiri terlihat memakai kemeja sekolah dengan papan nama tertulis Chandra. “Menurut yang mengenal, korban ini adalah Chandri, tapi dia memakai baju Chandra,” kata seorang polisi.
Menurut kabar yang beredar, ketujuh siswa SMK tersebut nekat melompat jurang karena hendak melarikan diri dari kejaran petugas Satpol PP. Namun pihak Satpol PP membantah. “Kami tidak mengejar, tapi merekalah yang langsung lari setelah melihat kami,” kata seorang Satpol PP di lokasi jurang.
Tiga dari empat saksi korban, yaitu para pelajar yang selamat, menegaskan bahwa Satpol PP memang benar mengejar mereka hingga mendekati lokasi jurang. Blog Berita langsung mewawancarai ketiganya di RS HKBP Balige sore tadi, bersamaan dengan seorang polisi yang juga mengajukan pertanyaan sama.
Romanja Sitinjak, seorang yang selamat, mengaku sempat melihat sekitar empat Satpol PP. Rekannya, Erikson Siagian dan Benni Panjaitan, mengatakan mereka berlari karena dikejar petugas. “Kami sempat menunggu [sebelum melompat ke jurang] apakah mereka datang. Karena mereka terlihat mendekat, akhirnya kami lompat,” kata Benni.
Dia menceritakan kepada Blog Berita, mereka semua memang tidak masuk kelas karena paginya telat datang ke sekolah, lalu mereka bermain bola voli di “lapangan mini”, tidak jauh dari sekolah mereka. Saat bermain voli itulah sejumlah Satpol PP datang. Mereka langsung kabur. Petugas, kata dia, terus mengejar hingga akhirnya jalan mereka buntu di bibir jurang.
“Kami tahu di situ ada jurang, tapi kami pikir tidak terlalu dalam,” ujarnya. Setelah menunggu sejenak, mereka melihat Satpol PP datang ke arah mereka. Kemudian mereka melompat satu persatu. Benni mengaku mendapat giliran terakhir melompat.
“Aku agak takut waktu mau melompat. Tapi tidak ada lagi jalan [untuk lari],” katanya. “Setelah sampai di bawah, aku dan kawan-kawan tidak sadarkan diri. Setelah sadar, kulihat dua kawanku di sebelahku. Kami saling bertanya mengapa bisa sampai di bawah, sepertinya sedang bermimpi, sempat kupukul-pukul tubuhku.”
Dia tidak tahu di mana posisi rekan-rekannya yang lain. “Waktu itu kami kira mereka jatuh dan terbawa air di bawah.”
Benni dan kedua kawannya yang selamat berteriak-teriak minta tolong. Suara mereka didengar; petugas Satpol PP membalas berteriak dari atas supaya mereka menunggu di bawah untuk ditarik dengan tali. “Tunggu, tunggu di situ,” kata petugas seperti ditirukan Benni.
Mereka pun dievakuasi satu persatu dan langsung dibawa untuk dirawat di rumah sakit. Proses penyelamatan berlangsung berjam-jam, hingga pukul 4 sore. “Karena jurangnya dalam, sekitar 30 meter,” kata Danramil Balige, Kapten Inf Pagartua Siahaan, yang ditanya Blog Berita via telepon.
Total siswa yang ditemukan dari jurang sebanyak tujuh orang. Empat ditemukan hidup, sedangkan tiga lainnya tewas di lokasi kejadian.
Keempat siswa yang selamat mengalami luka pada beberapa bagian tubuh, terutama kepala dan dada. Erikson Siagian berulang kali mengeluhkan pernapasannya sesak; dia menunjuk pada bagian perut dan dadanya. Seorang lagi kawan mereka tidak bisa diwawancarai karena masih terlalu lemah untuk bicara.
Tadi sore Kapolres Tobasa AKBP Franky Parsaoran Samosir, Bupati Monang Sitorus, Sekda Liberty Pasaribu, dan Camat Balige Budianto Tambunan datang ke rumah sakit. Menurut informasi dari kepolisian, ketiga mayat pelajar SMK Negeri 1 Balige itu akan dibawa ke Pematangsiantar untuk keperluan visum. [blogberita.net]

Artikel ini boleh dikutip HANYA JIKA disebutkan sumbernya www.blogberita.net DAN dibuat tautan-balik. Supaya tidak ketinggalan artikel terbaru, langgani RSS Feed, gratis!


















