Kemarin malam Blog Berita kembali menyerahkan uang bagi keluarga miskin di Balige.
donasi romasta sibuea; blog berita; jarar siahaan
Lindung Simanjuntak [47 tahun] baru saja kembali dari pekerjaannya sebagai kuli bangunan saat Blog Berita tiba di rumahnya selepas magrib Rabu kemarin. Ia tinggal di sebuah rumah panggung yang tiang dan papannya sudah tua, di Desa Hutabulu, Kecamatan Balige, Kabupaten Tobasa, Sumut.
Rumah itu terpisah dari keramaian rumah warga lainnya; berdiri sendiri dikelilingi pohon-pohon besar dan semak, yang dicapai melewati jalan setapak. Beberapa meter sebelum rumah itu, saat melintasi jalan setapak, aku dan dua teman, Rikardo Simamora dan Joni Simanjuntak, melihat dua kuburan: satu kuburan yang disemen dan satu lagi cuma kuburan tanah. Kuburan itu persis berada di sisi jalan yang kami lalui. Kemudian kami tahu bahwa kuburan tanah itu dihuni oleh almarhum isteri Lindung, yang baru meninggal satu tahun lalu.
Rumah panggung tua. Sendiri. Dikelilingi pohon-pohon besar menjulang tinggi. Gelap. Tidak ada lampu jalan, tak ada lampu teras. Ada kuburan di sebelah rumah itu.
“Sejak isteriku meninggal, aku sendirilah yang bekerja,” kata Lindung Simanjuntak, yang diupah harian sebagai kuli bangunan. Semasa hidup, isterinya bekerja sebagai buruh tani. Penghasilan mereka berdua cukup membiayai kebutuhan sederhana mereka saban hari: biaya dapur dan pendidikan anak-anak. Namun sekarang Lindung sendirilah yang bekerja, dengan gaji Rp50 ribu per hari kerja.
Uang segitu praktis tidak cukup. Maka anaknya yang laki-laki memilih berhenti sekolah tahun lalu, tak lama setelah sang isteri meninggal. “Biarlah adik dan kakak saja yang sekolah,” katanya pada Lindung. Lalu dia pun sesekali ikut bekerja sebagai kuli bangunan bila ada yang mengajak. Seharusnya dia SMA sekarang. Tinggallah Julio, si anak bungsu, dan kakak perempuannya yang bersekolah di Soposurung, Balige.
“Cita-citamu apa?” tanya Rikardo pada Julio.
“Sopir,” jawabnya spontan, sambil menundukkan kepala.
“Sopir juga bagus. Belajarlah yang rajin, biar bisa jadi sopir menteri atau sopir presiden,” kataku.
Julio bercerita, guru kelasnya pernah bertanya pada dia dan seluruh kawannya apa cita-cita mereka. Dia menjawab sopir, sementara kawan-kawannya ingin jadi anggota TNI, dokter, dll. “Cuma aku sendiri yang ingin jadi sopir,” katanya pada kami.
Ayahnya, Lindung, tersenyum. “Baru sekarang aku tahu apa cita-citanya.”
Setiap pagi Lindung mengeluarkan ongkos Rp10 ribu bagi Julio dan kakaknya. Ongkos angkutan ke sekolah Rp1.500 sekali jalan. Sisanya, Rp2 ribu, sebagai jajan. Uang sekolah si kakak yang SMK swasta Rp73 ribu per bulan. Sedangkan Julio tak perlu membayar uang sekolah di SMP Negeri.
Kebutuhan pokok lainnya yang harus ditanggung Lindung adalah makan. Tiap minggu pengeluarannya Rp60 ribu untuk belanja ikan-sayur. Tiap bulan belanja beras dua kaleng Rp180 ribu.
Untuk semua kebutuhan yang sangat sederhana itu, menurutnya, upahnya yang cuma Rp50 ribu per hari tidak cukup. “Karena itulah, sejak isteriku meninggal, kami sengaja kurangi lampu di rumah ini, supaya pembayaran listrik tidak terlalu mahal,” kata Lindung.
Memang dalam rumah itu cuma ada dua titik lampu, di ruang tamu dan kamar tidur, masing-masing 20 watt. Di dapur tak ada lampu. Juga tidak ada tivi atau radio. Maka tiap bulan dia cuma membayar rekening listrik rata-rata Rp10 ribu. “Paling tinggi pernah Rp15 ribu.”
Bila berangkat kerja ke bangunan di pagi hari, dari rumah dia membawa nasi dan lauk yang dibungkus dalam plastik sebagai makan siangnya.
Setelah kuberikan uang Rp400 ribu dalam amplop terbuka, Lindung Simanjuntak mengucapkan terima kasih.
“Aku cuma menyampaikan. Uang ini adalah bantuan, tanda kasih, dari pembaca Blog Berita, namanya Romasta Sibuea, tinggal di Batam. Aku sendiri tidak mengenalnya, tapi dia memercayai aku untuk menyalurkan uang ini. Dan kita berdua pun tidak pernah saling kenal,” kataku menjelaskan.
Seperti biasanya saat menyerahkan donasi pembaca Blog Berita, aku juga menerangkan, uang yang kusampaikan tidak ada sangkut-pautnya dengan partai politik, pilkada gubernur, atau dengan Pemkab Tobasa. [blogberita.net]

