Seri tips menulis; Blog Berita; Jarar Siahaan
Bila ditempatkan secara tepat, tanda baca koma dan titik bisa memberi kesan lebih kuat pada kalimat. Aku sendiri, dengan sengaja, sering melanggar aturan baku pemakaian koma.
Ada penulis — baik wartawan, bloger, penulis pidato, maupun pengarang fiksi — yang tidak terlalu menghiraukan pemakaian koma, dan dianggap hanya berfungsi supaya orang tidak sesak napas membaca kalimat-kalimat panjang — sehingga perlu dijedakan dengan koma. Mereka meletakkan koma pada sembarang tempat, yang penting kalimat menjadi tidak menyesakkan seperti lirik lagu rap yang non-stop. Itulah fungsi utama koma, memang.
Tapi bila kita mau memberi perhatian pada si koma, lalu sedikit kreatif, ia bisa dimanfaatkan supaya lebih “terasa”. Salah satu cara yang kerap kuterapkan adalah dengan meletakkan koma “tidak pada tempat seharusnya” dan menghilangkan koma “dari tempat seharusnya”. Oh ya, benar, ajaran yang aneh.
Lihatlah dua contoh di bawah ini, yaitu pemakaian koma secara baku yang sering dianjurkan dalam buku-buku bahasa di bangku sekolah, dan pemakaian koma secara “suka-sukaku”.
1. Menurutnya, ayam dulu, baru telur. [BENAR, versi baku.]
Menurutnya ayam dulu, baru telur. [BENAR juga, versi Jarar.]
2. Yang mana, sih, yang benar, telor atau telur. [BENAR, versi baku.]
Yang mana sih yang benar: telor atau telur. [BENAR juga, versi Jarar.]
Penempatan koma seperti pada versi baku juga kupakai. Pemilihan dari kedua versi tersebut kusesuaikan dengan kondisi, dengan efek yang kuharapkan. Dalam kasus kalimat lebih rumit, pemakaian koma itu tetap bisa diakali supaya memberi rasa tertentu pada tulisan.
Terkadang orang bingung mana yang benar dari kedua kalimat ini:
Pada tahun 1945, Bung Karno membacakan teks proklamasi.
Pada tahun 1945 Bung Karno membacakan teks proklamasi.
Bagiku keduanya benar, walaupun yang pertama adalah versi baku.
Kemudian lihat contoh berikut:
Bagiku, kedua kalimat itu benar. [BENAR, versi baku.]
Bagiku kedua kalimat itu benar. [BENAR juga menurut versiku.]
Satu contoh kasus “malpraktek” koma yang sering kutemukan baik di Internet maupun suratkabar ialah bahwa koma wajib dituliskan sebelum kata “karena”, seperti ini:
Ari memutuskan Ira, karena dia tidak lagi mencintainya. [SALAH]
Seharusnya yang benar adalah:
Ari memutuskan Ira karena dia tidak lagi mencintainya. [BENAR]
Ari memutuskan Ira, karena itu Ira bersedih. [BENAR]
Kekeliruan lain semisal:
Blog Berita, yang ditulis dari Balige, Kabupaten Tobasa itu, dibaca 50 ribu kali setiap bulan. [SALAH]
Blog Berita, yang ditulis dari Balige, Kabupaten Tobasa, itu dibaca 50 ribu kali setiap bulan. [BENAR]
Sekarang soal tanda titik. Jamaknya sebuah kalimat lengkap terdiri dari subjek, predikat, dan objek atau keterangan; dan di akhir unsur kalimat lengkap itulah diletakkan satu tanda titik. Namun ada kalanya tanda titik ditempatkan bukan pada sebuah kalimat lengkap. Kuambil contoh dari artikel Blog Berita kemarin, yaitu satu alinea pendek sepanjang tiga baris dengan enam titik [kalimat]:
Rumah panggung tua. Sendiri. Dikelilingi pohon-pohon besar menjulang tinggi. Gelap. Tidak ada lampu jalan, tak ada lampu teras. Ada kuburan di sebelah rumah itu.
Alinea di atas punya kesan lebih kuat. Efeknya kurang terasa bila kutulis dalam kalimat-kalimat yang lebih panjang seperti ini:
Rumahnya adalah sebuah rumah panggung yang sudah tua. Rumah itu tersendiri, dikelilingi pohon-pohon besar yang menjulang tinggi. Suasananya sangat gelap, karena tidak ada lampu jalan maupun lampu teras. Apalagi terdapat kuburan di sebelah rumah itu.
Banyak titik lebih baik ketimbang sedikit
Tentu saja ini bukan aturan dari Pusat Bahasa. Juga bukan rumus dari sastrawan atawa dosen bahasa. Itu adalah resep pribadiku, jadi mungkin tidak cocok buatmu.
Aku lebih suka membaca sebuah alinea 10 baris dengan lima tanda titik daripada alinea 10 baris dengan dua titik. Maksudku, sebuah alinea 10 baris yang terdiri dari lima kalimat adalah lebih baik ketimbang hanya dua kalimat.
Semakin pendek sebuah kalimat, semakin bagus. Tentu tidak bagus pula bila semua kalimat dibuat pendek-pendek. Harus ada variasi antara kalimat pendek dan kalimat panjang. Tapi aku sendiri punya pegangan: kalimat panjang tidak boleh mendominasi. Babat kalimat panjang, jangan biarkan berkuasa dalam tulisanmu.
Kalimat panjang adalah favorit pejabat Indonesia. Lihatlah naskah-naskah pidato pejabat, terutama pejabat daerah; satu kalimat bisa terdiri dari lebih 70 kata atau sekitar delapan baris ketikan. Aku bisa memahami mengapa itu terjadi; karena pejabat doyan memasukkan jargon dan retorika dalam pidatonya.
Kalau engkau seorang bloger, mahasiswa, atau wartawan, menulislah bukan dengan gaya pidato pejabat. Pakailah koma dan titik secara jeli, dan rasakan khasiatnya.
Sekian saja dulu tips menulis kali ini. Titik. [blogberita.net]

Artikel ini boleh dikutip HANYA JIKA disebutkan sumbernya www.blogberita.net DAN dibuat tautan-balik. Supaya tidak ketinggalan artikel terbaru, langgani RSS Feed, gratis!


















