Sate si Buyung di Balige, khas lezatnya

Posted by Jarar Siahaan on Feb 11th, 2008 and filed under Feature. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. Both comments and pings are currently closed.

Mulai kakekku, bapakku, aku, hingga anakku, sudah empat generasi dalam keluargaku yang berlangganan sate lontong Si Buyung di Balige.

bumbu dari padang diracik lagi; blog berita; jarar siahaan

Bila disebut sate Padang, benak orang sangat mungkin akan langsung tertuju pada salah satu kata ini: kuah kacang, kuah tepung, daging sapi, pedas, atau Mak Syukur.

Mak Syukur adalah ikon sate Padang, yang kampungnya di Padang Panjang. Bagi warga Jakarta, sate ala Mak Syukur bisa dinikmati antara lain di Pasar Raya Blok M. Ciri khasnya adalah kuah tepung berwarna kekuningan.

gibran makan lontong

ANAKKU GIBRAN

Di Balige, ibukota Kabupaten Toba Samosir, Sumut, penjual sate Padang yang pertama adalah Si Buyung — begitulah julukan yang diberikan oleh warga Balige padanya, dan hingga kini orang menyebut usahanya sebagai “Sate Si Buyung”. Dia memang orang Sumatera Barat, pernah tinggal di Kota Siantar semasa remaja. Pada awal tahun 70-an, saat masih lajang, dia mengikuti orangtuanya berjualan sate di Balige, dan sampai sekarang menggeluti usahanya itu bersama anak-isteri.

Kini di Balige ada beberapa penjual sate Padang, tapi sate Si Buyung tetap tak terkalahkan. Rasa satenya, terutama kuahnya, tidak berubah lezatnya sejak dulu. Hampir 40 tahun cita-rasa itu dipertahankannya; membuat pelanggannya sulit untuk “berpindah ke lain hati”, termasuk aku sendiri.

Aku mulai gemar jajan sate Buyung sejak SD, di awal 1980-an. Pertama sekali aku mengenal sate ini dari ayahku. Kakekku, semasa hidupnya, juga suka sate Buyung. Kini anakku Gibran pun mulai doyan sate Buyung. Bila tidak bangun kesiangan, aku selalu diajak Gibran untuk sarapan sate lontong Buyung.

Dulu, semasa SD, setiap hari Jumat aku wajib singgah menyantap sate Buyung sebelum masuk ke bioskop untuk menonton film. Kala itu seporsi sate plus lontong kubeli seharga Rp500; sekarang Rp5 ribu per porsi — angka rupiah yang “berbeda tapi senilai”.

Untuk bisa membeli sate dan menonton film, aku harus mencuri uang dari laci warung kopi orangtuaku. Aku punya “ritual” wajib setiap Jumat: Sepulang sekolah langsung menggerayangi laci tempat uang untuk mencuri Rp5 ribu sampai Rp10 ribu; mengajak satu-dua kawan karib untuk jajan sate Buyung; lalu menonton di bioskop Madju atau Antara [tiket waktu itu Rp600] setelah terlebih dulu membeli dua batang rokok Gudang Garam Filter dan permen Hacks [pertama aku merokok kelas 2 atau kelas 3 SD]; dan kalau uang curianku masih tersisa, aku bermain biliard atau kartu domino bersama kawan-kawan sebayaku, dengan taruhan uang.

Itulah dulu ke situ — terjemahan langsung dari cakap Batak “Ima jolo tu si” — dan sekarang kembali ke sate Buyung.

Menurut banyak pelanggan yang sering kudengar selama ini, kelebihan sate Buyung adalah pada kuah dan satenya, dan aku setuju dengan pendapat itu. Ada dua jenis kuah yang bisa dipilih: kuah kacang dan kuah tepung. Umumnya orang menyukai campuran kedua jenis kuah tersebut, aku pun begitu. Kuah tepungnya tidak kuning seperti kuah sate Padang yang jamak di kota-kota lain, tapi cenderung cokelat; dan rasanya lebih menggigit di lidah, tapi tidak pedas. Kuah kacangnya pun tidak semanis kuah sate di tempat lain.

Cemmana aku harus menjelaskannya…. Yang terang, belum pernah aku merasakan kuah sekhas milik Buyung. Di Medan, Padang, Palembang, Ternate, dan Jakarta, aku sering mencicipi sate Padang, tapi tidak sekalipun aku menemukan rasa kuah yang sama dengan buatan Si Buyung.

Pak Buyung pernah berkata padaku, bumbu yang diapakai membuat kuah dipesan khusus dari Padang, Sumatera Barat. Biasanya dia ke sana sekali enam bulan untuk membeli bumbu khusus itu. Lalu apa yang membuat kuahnya berbeda dari kuah sate Padang lainnya, adalah karena bumbu tersebut ditambah lagi dengan bumbu racikan sendiri di Balige. Untuk resep ini, dia tidak merinci.

Kalau biasanya sate Padang terbuat dari daging sapi, maka sate Buyung memakai daging kerbau. Di Balige memang sangat sulit menemukan daging sapi. Satu porsi jualan Pak Buyung terdiri dari lima tusuk sate plus lontong. Potongan satenya relatif lebih kecil dibandingkan sate Padang yang pernah kubeli di kota-kota lain, tapi jangan salah, rasa dagingnya sungguh lezat. Menurut seorang keponakan Buyung yang menemaninya berjualan, irisan daging kerbau itu direbus terlebih dulu dan kemudian ditumis memakai bumbu khusus, barulah ditusukkan ke lidi untuk dibakar.

Beberapa pelanggan setia, termasuk aku sendiri, meminta agar sate dipanggang agak lama. “Bikin kering, ya,” begitu istilahnya. Minyak khusus “dioleskan” pada sate ketika masih di atas arang.

Daging sate yang sering kutemukan di tempat lain adalah daging yang tidak ditumis seperti milik Buyung. Mungkin hanya direbus, atau bahkan tidak sama sekali. Perhatikanlah daging sate di warung-warung langgananmu, mungkin kebanyakan adalah “daging mentah berwarna putih”. Inilah yang membuat rasa sate Buyung berbeda: Karena ditumis lebih dulu dengan racikan bumbu spesial.

Semua cita-rasa itu, mulai kuah hingga daging sate, senantiasa dipertahankan oleh Pak Buyung selama puluhan tahun. “Sama terus rasanya seperti dulu,” kata seorang perantau yang mudik ke Balige pada Tahun Baru lalu.

Harga satu porsi sate Buyung cuma Rp5 ribu, sudah termasuk lontong. Ini lebih murah daripada sate Padang sejenis di kota-kota besar. Saban hari Buyung berjualan hanya beberapa jam. Pagi hari di depan rumahnya, dekat lapangan bola Sisingamangaraja; dan sore hari di depan Balairung, pasar tradisional yang berada persis di pusat Kota Balige. Sate dan lontong Buyung selalu habis dalam tempo singkat.

Singgahlah di Balige, kota tinggalku yang kecil ini. Ingat waktunya: Hanya pukul 6.30 pagi sampai 9 pagi, dan pukul 4 sore hingga 7 malam. Lewat dari waktu itu, kemungkinan besar engkau akan kecewa, karena gerobak dorong Pak Buyung sudah kosong-melompong.

Sate Buyung di Balige berbeda lezatnya. Ini bukan sate Padang yang biasa. Sungguh. [blogberita.net]

Foto: Anakku, Gibran, menyantap lontong Buyung sebagai sarapan pagi.

tafbutton blue16 Sate si Buyung di Balige, khas lezatnya

Artikel ini boleh dikutip HANYA JIKA disebutkan sumbernya www.blogberita.net DAN dibuat tautan-balik. Supaya tidak ketinggalan artikel terbaru, langgani RSS Feed, gratis!

Masukkan email Anda untuk BERLANGGANAN GRATIS:

Setelah diklik, ikuti petunjuk dari FeedBurner, cek email Anda.

Jumlah pelanggan Blog Berita via RSS & email Cara tampilkan fotomu pada komentar. Jumlah Pembaca KLIK DI SINI

Comments are closed

Advertisement

Arsip sejak Maret 2007

Gratis RSS-Email-Twitter

Klik Play-Tonton Video

Log in / BLOG BERITA mengizinkan konten web ini dikutip dengan syarat menyebutkan sumbernya www.blogberita.net dan membuat tautan-balik. Pengelola Blog Berita wartawan freelance Jarar Siahaan tidak bertanggung jawab atas komentar dan artikel tulisan pembaca. Balige Kabupaten Toba Samosir Provinsi Sumatera Utara Indonesia. Berita terbaru Artikel menarik Video unik terbaik.