Putar lagu saja, jangan banyak cakap
Warga Toba Samosir belum memanfaatkan saluran interaktif di radio untuk menyampaikan pendapat.
“Lagu apa, say? Oke, ntar diputerin ya,” kata Bagas, menjelang pukul 6.30 sore tadi, lalu dia membacakan info zodiak yang kemudian disusul suara bening Celine Dion melantunkan tembang My heart will go on.
wawancara dengan kru karisma fm; blog berita; jarar siahaan
Cowok periang itu, Bagas Prayitno, belum lama bergabung di radio Karisma Swararia 99.90 FM, Balige, sebagai penyiar. Kutipan tadi dia ucapkan saat mengudara, menjawab telepon on-air dari seorang pendengar Karisma yang meminta diputarkan sebuah lagu.
Live request, atawa minta lagu, masih merupakan acara yang paling digemari warga. Suara pendengar via telepon seperti berikut ini, contohnya, selalu muncul saban hari:
“Kak Ria, minta lagu dong. Samperin ya….”
“Lae Simbolon, putar hamu ma jolo lagu on ate, laos hupasahat ma lagu on tu keluarga di Samosir [Lae Simbolon, tolong putarkan lagu ini, dan kukirimkan untuk keluarga di Samosir].”
Ibarat lirik lagu Gombloh di tahun 1980-an, “Di radio, aku dengar lagu kesayanganmu…,” begitulah konsumen radio di Kabupaten Tobasa. Mereka masih melihat radio hanya sebagai media hiburan, yang fungsinya memutarkan lagu sepanjang hari.
“Secara umum pendengar di sini, kalau acara interaktif, tahunya minta lagu aja. Untuk berdiskusi menyampaikan opini, belum,” kata Koko Siagian, staf radio Karisma FM yang sehari-hari bertugas di bagian pemasaran iklan, yang ditemui Blog Berita sore tadi. Ragam acara radio ini, termasuk permintaan lagu, “Disesuaikan dengan pangsa pasar iklan.”
Sepanjang hari, mulai pukul 6 pagi hingga 11 malam, program minta lagu digelar beberapa sesi. Telepon di studio tak henti-henti berdering. “Bahkan ada fans yang berganti-ganti nama sampai 10 kali hanya untuk meminta lagu-lagu kesukaannya,” kata Koko tersenyum.
Tidak seperti radio-radio FM di Medan atau Jakarta, biasanya penyiar Karisma hanya menyebutkan judul lagu dan nama penyanyinya tanpa menyelipkan informasi terbaru yang berkaitan dengan lagu atau si penyanyi. Bukan tak dicoba, juga bukan karena penyiar Karisma ketinggalan berita. Dulu mereka pernah bikin acara info seputar musik, tapi pendengar protes. “Yang penting bagi mereka, lagu aja diputar terus,” kata Koko.
Karisma pertama mengudara pada 1988 lewat kanal AM, dan sejak 2002 berubah ke jalur FM. Penyiarnya sudah silih-berganti. Tapi masih ada dua penyiar lama yang bertahan: Panahatan Siahaan, dengan nama udara Boy, dan Hendrik Simbolon — keduanya sudah berkeluarga. Empat penyiar lainnya adalah Edwin Hutagaol, Ria Manalu, Nancy Hutagalung, dan Bagas Prayitno.
Suara lajang-lajang ganteng dan cantik ini sudah akrab di kuping warga Tobasa, terutama kaum remaja. Edwin digemari banyak cewek karena cara ngomongnya sangat intim dan lepas. Ria, yang kecil mungil, bersuara manja dan tidak pelit tertawa. Nancy jago membawakan acara wanita, dan tahun lalu programnya, Varia Wanita, mendapat penghargaan dari Gubernur Sumut. Bagas, si pendatang baru, punya kans bagus untuk jadi idola. Sementara Hendrik identik dengan acara lagu Batak, Jou-jou Tano Batak, yang diudarakan pagi dan malam. Dan suara Boy yang berat sudah menjadi semacam ikon Karisma, yang juga sering terdengar pada jingle Karisma dan iklan.
Penyiar menikah dengan fans
Penyiar radio di kota-kota besar sering mengatakan, lebih banyak sukanya bekerja sebagai penyiar ketimbang dukanya, dan itu diiyakan oleh keenam kru Karisma. Banyak kawan baru, banyak fans, itu yang terutama. Bebas mengekspresikan diri lewat cuap-cuap, itu yang kedua.
Edwin Hutagaol, yang sudah delapan tahun bekerja di Karisma, di waktu luangnya juga bekerja sebagai aktivis lembaga HIV/AIDS di Rumah Sakit HKBP Balige. Ia pun kerap diundang menjadi MC terutama pada hajatan bersifat hiburan.
Suka terbesar sebagai penyiar dialami Boy: Dia menikah dengan seorang perempuan cantik nan baik hati, yang usianya jauh lebih muda, karena dipertemukan oleh radio — sang isteri adalah fansnya sejak masih di bangku sekolah. “He-he-he…,” kata Boy.
Dukanya? “Paling kalau ada telepon mencaci-maki,” kata Hendrik, itu pun dulu, ketika telepon on-air baru dibuka.
Karisma telah memiliki dua asset paling utama dalam bisnis radio: penyiar yang digemari dan teknologi FM yang memadai. Mereka hanya perlu memanfaatkannya lebih maksimal, juga tak boleh berleha-leha dan berpuas diri dengan gaya radio jadul alias zaman dulu.
Lagu dan hiburan memang merupakan program utama radio di masa-masa awal, yang versi FM-nya ditemukan oleh Edwin Howard Armstrong. Tapi peradaban dan kebutuhan manusia telah menuntut radio bukan lagi sebatas jawaban atas permintaan, “Putar lagu yang ini, dong.” Kini radio harus juga menjadi alat berbagi informasi. Lihatlah misalnya Kiss FM, “Prambors”-nya Medan; selama puluhan tahun hanya menyiarkan musik, tapi sejak masa reformasi mau tak mau menyisakan waktu siarnya untuk program berita dan informasi.
Radio, menurutku, takkan pernah mati ditimpa kecanggihan teknologi informasi semacam web Internet maupun siaran tivi satelit. Radio masih akan terus diminati karena sifatnya yang murah, mudah diakses, dan personal. Sebuah kanal radio hanya akan ditinggalkan pendengarnya dikarenakan dua hal: Ada radio lain yang lebih bermutu dan mampu menyesuaikan diri dengan zaman, atau si pendengar menjual pesawat radionya ke tukang loak karena rusak. [blogberita.net]
Koneksi Internetmu lambat? Tak sempat tiap hari membaca web? Ini solusinya. ©Diizinkan mengutip artikel Blog Berita ini dengan syarat membuat tautan-balik.
Kirim artikel ini ke teman
• Donasi • Hubungi Blog Berita
