Dalam beberapa kesempatan Blog Berita sering melihat guru SMP dan SMA di Balige tidak terbiasa memakai komputer. Umumnya mereka hanya tahu mengetik dengan memakai program MS Word, tapi itupun hanya sebatas menulis dan menyimpan file; sedangkan untuk memformat seperti membuat tabel, umumnya mereka tidak paham. Memakai program lain seperti Office Excel pun tidak bisa. Email? Browsing web? Mendengar istilah ini pun banyak guru yang belum pernah.
DIKNAS TOBASA BERI INTERNET GRATIS; BLOG BERITA; JARAR SIAHAAN
Pejabat Dinas Pendidikan Kabupaten Toba Samosir mengakuinya. “Saya akui itu. Bukan hanya guru, PNS lain pun banyak yang tidak fasih menggunakan komputer. Apalagi Internet, pada umumnya mereka tidak pernah kenal apa itu Internet,” kata Manuntun Sagala [foto di sebelah], Ketua Pengelola Data Pokok Kependidikan Diknas Tobasa, yang diwawancarai Blog Berita tadi siang di ruang kerjanya di Soposurung, Balige.
Weblog ini juga mempertanyakan soal fasilitas Internet gratis yang dikelola Sagala. Sejak akhir 2006 Diknas Tobasa mendapat bandwidth Internet yang dibiayai Departemen Pendidikan Nasional. Menurutnya, pihak Diknas cuma memakai, sementara pembiayaan Internet adalah kerja-sama Departemen dengan Telkom di Jakarta.
Satu ruangan khusus Internet terdapat di kantor Diknas Tobasa. Dari sinilah data-data kependidikan Tobasa dikirim via Internet ke Jakarta; tidak lagi dengan cara manual berupa cetakan pada kertas seperti selama ini. “Seluruh kantor Diknas di Indonesia mendapat jaringan Internet ini, dan inilah yang kita pakai mengirim data-data siswa dan guru ke pusat. Namanya Jardiknas, Jejaring Pendidikan Nasional,” kata Manuntun Sagala sembari membuka web Jardiknas dimaksud.
Selain dipakai untuk kebutuhan Diknas Tobasa, jaringan Internet ini juga dibagi ke beberapa SMP, SMK, dan SMA di Balige lewat antena. Dari Diknas, katanya, bandwidth Internet dikirim ke SMK Negeri 2 Balige sebagai pengelola teknis, dan SMK-lah yang kemudian membaginya ke sekolah-sekolah. “Gratis, sekolah tidak perlu membayar,” kata Sagala.
Namun fasilitas Internet ini tidak dimanfaatkan dengan maksimal oleh sekolah. Hanya satu-dua sekolah yang mengajarkan muridnya soal teknologi Internet. “Jadi bisa dibilang mubazir,” katanya.
Dia menerangkan, hal tersebut terjadi karena hampir semua sekolah di Tobasa belum memiliki staf khusus yang menangani Internet. Jadi kalaupun diberikan akses Internet gratis, sekolah tidak mampu memanfaatkannya dengan baik. “Umumnya kami PNS dan guru tidak bisa mengoperasikan Internet. Jangankan Internet, memakai komputer pun masih banyak yang tidak paham,” kata Manuntun Sagala.
Ketidak-tahuan guru perihal Internet pernah didengar oleh weblog ini dari seorang pelajar SMA negeri di Balige, dan ini sesuatu yang menggelitik. Gurunya suatu ketika menyuruh siswa untuk belajar memakai Internet dengan membuat email pribadi berbasis web, seperti di Yahoo! atau GMail.
“Kalian pergilah ke warnet, belajar bikin email masing-masing. Nanti saya bisa cek dari sekolah apakah benar kalian sudah punya email atau belum, karena saya bisa mengetahui password-nya,” kata si guru seperti dituturkan siswa tersebut. Kalau yang begini namanya guru “kepintaran”. [blogberita.net]

Artikel ini boleh dikutip HANYA JIKA disebutkan sumbernya www.blogberita.net DAN dibuat tautan-balik. Supaya tidak ketinggalan artikel terbaru, langgani RSS Feed, gratis!


















