Mereka mengucap Laillahailallah Isarukhallah. ”Ini sahadat Kristiani, artinya tiada Tuhan selain Allah, Isa adalah roh Allah.”
kebaktian tiap sabtu; tempo; blog berita; jarar siahaan
Majalah Tempo edisi terbaru pekan ini menulis sebuah liputan tentang gereja Jemaat Allah Global Indonesia [JAGI] di Semarang, satu aliran Kristen Tauhid atau Kristen Unitarian. Ini adalah gereja yang memiliki satu perbedaan mendasar dibandingkan gereja Kristen yang umum, yaitu tidak mengakui ajaran Trinitas — Allah Bapa, Allah Putra, dan Roh Kudus.
”Bagi kami, Allah hanya satu, yakni yang disebut Yahweh atau Bapa yang di surga. Bukan satu yang terdiri dari tiga, atau tiga yang menyatu ke dalam satu,” kata Aryanto Nugroho, pendeta di gereja JAGI Semarang.
”Yesus juga kami anggap sebagai Anak Allah, bukan Allah Anak. Dinamakan Anak Allah karena Allah berkuasa atas Yesus,” katanya.
Ciri lain pengikut aliran ini adalah kebaktian bukan pada hari Minggu tapi Sabtu, dan adanya doktrin Laillahailallah Isarukhallah. ”Ini sahadat Kristiani, artinya tiada Tuhan selain Allah, Isa adalah roh Allah,” kata Stefanus Maulana Budi, seorang penganut Unitarian asal Solo. Bagi mereka, Yesus bukan Tuhan dalam pengertian God, tapi Tuhan dalam pengertian lord.
Menurut Tempo, aliran Unitarian sudah ada sejak awal penyebaran agama Kristen, tapi kelompok Trinitas-lah yang lebih berkembang di dunia. Bimas Kristen Departemen Agama RI mensahkan keberadaan Kristen Tauhid pada tahun 2000. Untuk membaca berita selengkapnya, silakan beli majalah Tempo.
Aliran Kristen lain yang sepaham dengan Kristen Tauhid, yang menganggap Yesus hanya utusan Tuhan, adalah Saksi Yehuwa. Di Tanah Batak, termasuk di Balige, mereka sering muncul untuk menyebarkan ajarannya. Orang Batak menyebut mereka dengan istilah Saksi Jahoba.
Mereka selalu memegang Alkitab di tangan, dan berjalan sendiri-sendiri, tidak bersama temannya. Tidak mengendarai mobil, melainkan hanya berjalan kaki. Mereka tidak memakai alas kaki apapun.
Selama ini warga Protestan di Tanah Batak, yang merupakan kelompok mayoritas, selalu berusaha menolak kedatangan mereka ke kampung-kampung. Rezim Soeharto juga sempat melarang Saksi Yehuwa. Barulah setelah Gus Dur, tokoh muslim pembela kebebasan beragama, menjadi presiden, Saksi Yehuwa diakui kembali oleh pemerintah.
Bagaimana reaksi Persatuan Gereja Indonesia [PGI] terhadap aliran-aliran yang tidak mengakui Trinitas ini? “Kami bukan badan fatwa, jadi tidak bisa mengatakan itu sesat,” kata Sekretaris Umum PGI, Richard Daulay, seperti dikutip Tempo.
Jawaban yang tepat. Tidak seperti kelompok-kelompok Islam di Tanah Air yang gencar menekan, menghalangi, bahkan melakukan kekerasan terhadap penganut Ahmadiyah, karena mereka tidak mengakui Muhammad sebagai nabi terakhir — belakangan pengurus Ahmadiyah di Indonesia mengakui Muhammad sebagai nabi terakhir setelah segala intimidasi dan tekanan tersebut. [blogberita.net]

