HARIAN GLOBAL; MEDAN; BLOG BERITA
Suratkabar terbitan Medan, Harian Global, dalam edisi Sabtu hari ini menulis berkembangnya isu pemecatan sejumlah kader Partai Golkar Medan bila tidak mendukung calon Gubernur Sumut dari partai tersebut, yaitu Ali Umri.
Hardi Mulyono, salah seorang kader Golkar yang juga anggota DPRD Medan meminta kepada DPD Partai Golkar Medan agar jangan pilih kasih dalam menerapkan kebijakan partai. ”Jangan karena persoalan suka atau tidak suka, lantas diberikan sanksi kepada kader Golkar,” katanya. Ketua Komisi A DPRD Medan itu mengharapkan, jangan karena kedekatannya dengan Syamsul Arifin, lantas dirinya dianggap tidak mendukung Cagubsu dari Golkar. ”Itu keliru,” kata Hardi.
Blog Berita: Syamsul Arifin adalah calon Gubernur Sumut yang menjadi salah satu saingan Ali Umri.
Hardi juga mempertanyakan tolok ukur seorang kader Golkar dianggap tidak loyal. ”Apakah hanya gara-gara gambar Cagubsu lain ditempel di mobil yang kita naiki lantas dibilang membangkang,” katanya. Dia khawatir ada pihak-pihak tertentu yang ingin memecah belah suara Golkar.
Sumber di DPD Golkar Medan menyebutkan, ada tiga nama yang disebut-sebut sedang dibidik untuk diberikan sanksi tegas. Yakni Hardi Mulyono, Muchrid Nasution, dan Syahril Tambuse. [susilo/global/blogberita.net]

Artikel ini boleh dikutip HANYA JIKA disebutkan sumbernya www.blogberita.net DAN dibuat tautan-balik. Supaya tidak ketinggalan artikel terbaru, langgani RSS Feed, gratis!



















seharusnya ini tak boleh terjadi di kubu DPD golkar sendiri, karna ini sangat membuat reputasi golkar terancam hanya gara2 bila tidak mendukung cagub/cawagub. karna tidak mencerminkan demokrasi yang sebenarnya dan seakan2 ada interfnsi yang mendalam bagi kader2 golkar tersebut. karna dampaknya sangat banyak bisa menjatuhkan imej cagub/cawagub seakan2 dpd partai golkar arogansi hanya memikirkan pratmatis dan oportunis tidak memikirkan hatinurani seseorang kader.
Sudah nggak zamannya lagi kasi sanksi-sanksi seperti ini. Biarlah orang memilih sesuai dengan hati nuraninya. Pilihan DPP belum tentu mencerminkan aspirasi dari ‘akar-rumput’!