Bupati Samosir akan digugat
Karena menyetujui hutan Tele dijadikan lahan kebun bunga oleh pengusaha Korea Selatan. Nilai proyeknya US$ 9,2 juta.
SUHUNAN SITUMORANG, JAKARTA; JARAR SIAHAAN, BALIGE; BLOG BERITA
Bupati Samosir, Ir Mangindar Simbolon, disesalkan karena dinilai telah menjual tanah hak ulayat warga di Tele, Kabupaten Samosir, Sumut. Suhunan Situmorang [foto], putra Samosir yang bekerja sebagai advokat di Jakarta, dalam emailnya kepada Blog Berita belum lama ini mengatakan bahwa Batara Situmorang, salah satu pewaris hak ulayat, sudah mengadukan masalah ini pada sejumlah pejabat Jakarta.
“Mereka sudah menyurati Bupati, beberapa menteri, dan tengah mengumpulkan beberapa dokumen sebagai modal untuk tindakan hukum bilamana Bupati tidak menghentikan [proyek itu],” tulis Suhunan.
Tahun 2007 sejumlah suratkabar terbitan Medan memberitakan, investor Korea Selatan telah datang ke Samosir dan bertemu dengan Bupati dan anggota DPRD setempat. Investor tersebut disetujui oleh Pemkab Samosir untuk mengerjakan proyek mereka senilai US$ 9,2 juta di sana, yaitu berupa pembangunan kebun bunga di areal hutan Tele dengan luas sekitar 2.000 Ha.
Menurut investor, kebun bunga di Samosir ini nantinya akan menjadi kebun bunga terbesar di dunia, setelah kebun sejenis di negara Cina dengan luas 1.200 Ha. Bupati Samosir, Mangindar Simbolon, yang bekas Kepala Dinas Kehutanan di Kabupaten Toba Samosir, mendukung proyek Korsel ini dengan alasan untuk meningkatkan kunjungan wisata ke daerahnya.
Pada 6 Februari 2008 Suhunan bersama musisi Viky Sianipar, Bismark Sianipar, Charlie Sianipar, Ganda Simanjuntak, dan Laurent — seorang Perancis — berkunjung ke Samosir untuk mempersiapkan sebuah aktivitas penghijauan. Di sebuah warung makan di Pangururan, ibukota Kabupaten Samosir, mereka mendengar keluhan warga soal proyek kebun bunga tersebut. Lahan hutan yang akan dibabat menjadi kebun bunga adalah termasuk hak ulayat warga Tele, yang banyak merupakan keluarga dekat sastrawan Sitor Situmorang. Warga di sana sudah mengajukan protes.
Suhunan mengatakan, “Kita tahu persis, hutan-hutan yang mengitari danau yang indah itu sudah terancam, dan ekosistem di sekitarnya sudah rusak sejak perusahaan pulp di Sosor Ladang, Porsea, beroperasi sejak tahun 90-an, ditambah tindakan para pencuri kayu.”
“Masa depan danau kebanggaan kita itu, asal-mula para leluhur manusia Batak itu, akan semakin hancur bila hutan-hutan yang mengitarinya dihabisi. Tegakah kita membiarkan danau, perbukitan, hutan, dan alam itu dirusak oleh pihak-pihak yang hanya bertujuan meraup keuntungan bagi diri mereka?” kata Suhunan. [blogberita.net]
Koneksi Internetmu lambat? Tak sempat tiap hari membaca web? Ini solusinya. ©Diizinkan mengutip artikel Blog Berita ini dengan syarat membuat tautan-balik.
Kirim artikel ini ke teman
• Donasi • Hubungi Blog Berita

Horas abang. Ai bohado Toba na sae on, Sae nama on. Marpungu ma jo hamu sude attong na di Huta. Babat ma Bupati i, ah kejam doi bah.
[reply to this comment]
Secara positif, keputusan yg diambil oleh bupati samosir, Ir Mangindar Simbolon, mungkin adalah sebuah langkah yang bagus juga demi memajukan danau toba sebagai daerah pariwisata. Dan mungkin sebuah gebrakan dan sebuah cara untuk mengajak investor mau melirik danau toba sebagai tempat yg terbaik untuk menanamkan modalnya untuk pengembangkan danau toba tentunya, bukan untuk merusak.
Tapi perlu kita cari tau juga tujuan dari bapak bupati melakukan kesepakatan tersebut. karena dari info di atas ada tanah warga, hak ulayat (hak ulayat itu apa ya?? maaf gak ngerti), yang diambil dan sampai harus mengorbankan areal hutan pula, secara.. saat ini kita sangat memerlukannya. program penghijauanpun sedang galak-galaknya dilakukan oleh banyak pihak, apalagi setelah baca cerita nya lae viky sianipar (http://tongginghill.com/2008/01/28/please-help-me-opung/) bah lam mabiar ma hape iba mambayangkon i. Sebuah keputusan yg perlu dipertimbangkan…
Sebagai saran aja sih, programnya mungkin bisa dilakuin di pulau kecil yg dekat pulau samosir aja. yah mungkin dampak perusakan hutan cukup kecillah. dan nantinya itu bisa jadi sarana wisata juga..
[reply to this comment]
Horas,
Kalau kita pikir di mana perasaan bupati kalau nanti pohon-pohon itu di tebang. Selama ini kita sudah merasakan dampak negatif dari kerusakan alam yang disebabkan penebangan hutan oleh Indorayon. Saat ini juga seluruh penjuru dunia meneriakkan Global Warning. Kenapa harus ditambauh lagi kerusakan di muka bumi ini ? Mungkin niat bupati memang murni untuk menarik investor asing menanam modalnya di Samosir demi perkembangan pariwisata. Tapi kenapa tidak membenahi danau toba dulu yang selama ini sudah tercemar dan kurang menarik. Aku dukung gerakan kawan-kawan yang akan mengadakan penanaman pohon demi penghijauan hutan di Tele. Semoga kemelut ini bisa diseslesaikan tanpa ada ketegangan yang akan merugikan pihak manapun.
[reply to this comment]
Horas….
Bah unang gentar tulang.pertahankan hutan tele terus.
[reply to this comment]
Mari kita gunakan matematika sederhana:
Investasi US$ 9,2juta = Rp. 92.000.000.000
Luas hutan yang dipakai 2.000ha = 20.000.000 m2
Nilai investasi atas tanah =Rp. 4.600/m2
Ini jelas bukan investasi yang bisa diharapkan untuk membangun Samosir.
[reply to this comment]
Sekarang… Tanggal 3 bulan 3 Tepat Jam 3, Toba Dream Conservation Program melaksanakan penaman pohon seluas 2 HA di Simanindo, Samosir - Sumatra Utara.
Suatu langkah yang miris meskipun tetap dilakukan demi lestarinya hutan di sekitar Danau Toba.
Bukan lagi patah tumbuh hilang berganti namun tanam 2 HA babat 2000 HA.. Menyedihkan..
[reply to this comment]
Fenomena desentralisasi yang kebabblasan..
Alih-alih meningkatkan PAD, banyak pejabat2 daerah yang mengambil kebijakan yang menguntungkan pihak tertentu dan pribadi dengan menyalahgunakan wewenang yang dipercayakan masyarakat kepadanya.
Tentu saja Bupati sebagai pimpinan tertinggi di Samosir harus bertanggungjawab terhadap kebijakan yang diambilnya. Apabila kebijakan tersebut berkahir ke putusan pidana peradilan maka bupati yang bersangkutan dapat diberhentikan.
Menggadaikan kepentingan masyarakat, mengancam kelangsungan ekositem alam yang sudah beribu tahun umurnya di pinggiran danau toba, termasuk mencipatakan kondisi yang membahayakan lingkungan sekitar menurut saya sebagai orang awam adalah tindakan yang merugikan yang dapat berujung pada proses hukum.
Pertanyaannya, apakah Pemerintah Pusat tidak memperhatikan masalah ini? Apalagi kalau itu akan menjadi Kebun Bunga terbesar di dunia, saya kira ada udang di balik batu ini.
Saya pribadi bukan tinggal di daerah tele maupun sekitarnya, namun sebagai orang Batak, sudah cukuplah kita dibodoh2i, diadu domba oleh kepentingan sesaat orang-orang tertentu. Mari kita dukung pelestarian danau toba, jauhkan dari tangan-tangan usil yang tak bertanggungjawab.
Saya mendukung gugatan yang disampaikan ke Bupati Toba Samosir, perlu diperjelas dan lebih transparan kompensasi dari investasi asing yang ‘hanya’ US$ 9,2 juta itu, dibandingkan dengan dampak yang diakibatkannya.
Horas
[reply to this comment]
Mana pak hotang ??
katanya bulan 12 tahun 2007 akan down lawan itu..
[reply to this comment]
Ngomong-ngomong, sudah pernah dilakukan AMDAL belum proyek 9,2 juta dollar ini? Kalo belum, apa dasar dari Bupati memberikan lampu hijau bagi si investor Korea? Jangan-jangan ada udang di balik babi panggang neh … Agak perlu juga mungkin orang KPK datang singgah dulu untuk ‘berdarmawisata’ ke Tele
[reply to this comment]
Bahh percumanya Bupati itu mantan Kepala Dinas Kehutanan Toba Samosir… masa’ tidak tau manfaat hutan Tele utk Danau Toba. Hutan Tele itu sbg penahan air. Pakai otak donk Bupati Samosir!! jgn bikin malu halak kita.
[reply to this comment]
I really do not agree with this project! Kalau pun Bapak Bupati menyetujui dengan alasan meningkatkan pariwisata dan menjaring orang datang lebih banyak ke Samosir, mustinya tidak harus mengorbankan lahan seluas itu. Samosir itu basically sudah menarik, kenapa musti korbanin ribuan hektar hutan? Pak Bupati ini latar belakangnya kehutanan, tp kok bisa setuju dengan proyek ini?? Apakah sudah mempertimbangkan efeknya?
Kenapa bukan yang sudah ada aja diperbaiki dan di maksimalkan untuk menjaring wisatawan?
Kalau ada yang bisa kita lakukan untuk menghentikan proyek ini,ayo dong. Do Something !!
[reply to this comment]
salam buat semuannya…
buat vicky maju terus, usahamu sungguh berharga di mata masyarakat samosir dan sekitarnya. klo untuk bupati ini menurut saya ada udang di balik batu, bisa juga hanya menguntungkan dirinya sendiri tanpa memikirkan orang sekitar, apa harus orang KPK turun kesana, cuman us$ 9.2 sudah tertarik, benahi yang sudah ada dong , eh ini malah merusak, Pak bupati pikir panjanglah tanah kelahiranmu jadi apa nantinya…
buat seluruh orang batak sedunia tolak danau toba jadi kebun bunga………dong, thanks
[reply to this comment]
Horas………….,
Seperti yg kita ketahui perubahan akan selalu membawa dampak positif dan negatif. sebagai seorang pemimpin harus berani mengambil sikap sekalipun itu beresiko asalkan untuk memajukan Kabupaten Samosir. Saya sebagai anak Samosir mendukung pembangunan agar masyarakat Samosir memperoleh kemajuan Ekonomi, Informasi dan Tehnologi di hari yang akan datang. Yang patut kita awasi adalah jangan sampai kebijakan yang di keluarkan oleh pejabat Kabupaten Samosir semata2 untuk keuntungan kelompok tertentu, misal, kayu yang di tebang kemana ? apakah masuk APBD atau untuk pejabat tertentu? ini yang harus kita usut.
Mauliate.
[reply to this comment]