Kelirumology kemaluan
DIAN SIDAURUK; BALI; BLOG BERITA
Kelirumology. Adalah Jaya Suprana yang ‘melukis’ kata ini. Saya tidak tahu asal muasal mengapa ‘si jamu jago’ ini sampai tiba pada stadium kelirumology. Tetapi kiranya asal muasal itu tak pelu kita pusingkan sebab sebenarnya kata berbingkai ini telah memberi kita pengertian yang tidak keliru yakni: sesuatu yang keliru.
Sudah lama kita berada pada era atau musim kekeliruan dan musim ini masih berjalan melenggang terus menari-nari di sekitar kita. Menurut penerawangan saya tak seorangpun di antara kita bahkan pakar sekalipun yang dapat memprediksi kapan era ini digantikan oleh era lain, misalnya digantikan oleh era pasology, tepatology, cocoklogy atau betulology.
Setelah saya menghitung energi yang saya punyai, nampaknya, saya tak cukup mampu membahas hal ikhwal beginian maka lebih baik saya lewatkan sajalah. Walau saya berkali-kali berikhtiar melewatkannya tetapi selalu tak bisa. Ada saja yang mengelitik menggaruk-garuk perasaan saya. Apakah itu?
Suatu pagi sebelum matahari memanggang bumi, sambil duduk minum kopi, saya membaca surat kabar M, surat kabar lokal Kaltim. Kata surat kabar itu: “Kelompencapir tersebut dihadiri oleh ibu Hj. Ranggadewi, mantan istri gubernur”. Membaca kalimat ini saya terbahak-bahak. Ini kelirumology. Saya memperbaikinya di dalam hati: ‘…istri mantan gubernur’.
Sore hari sebelum matahari menyusup ke jantung bumi saya duduk-duduk termenung sendiri, tanpa kopi. Menu sore ini adalah secangkir teh. Di sela tarikan setengah syur asap kretek GGF saya, seseorang datang mengantarkan sertifikat tanah. Setelah berbasa-basi dan UR saya selipkan ke kantongnya, segera dia pergi sambil tersenyum-senyum. Di luar map yang berisi sertifikat itu saya membaca: “Surat Ijin Mendirikan Bangun-bangunan”.
Hari ini saya sudah dua kali tertawa oleh kelirumology. Kata orang tertawa itu bikin sehat dan awet muda. Betul, hari itu saya merasa sangat sehat dan merasa sepuluh tahun lebih muda dari usia asli dan merasa top ceer. Di dalam hati saya perbaiki rangkaian kata-kata itu: ‘…Surat Ijin Mendirikan Bangunan-bangunan’.
Malam tiba dan bulan bersenandung meninabobokan saya. Angin semilir menggiring saya terlelap di pelukan keharuman lipatan-lipatan kulit, hangat sekali, amboi, janganlah cepat berlalu. Aku mau seribu kali lagi.
Pagi sebelum matahari menghardik ujung rumput kopi hangat suam-suam kuku telah menungguku. Glek, seteguk. Assoy manis nian tapi tak semanis sensasi lipatan kulit yang menyelimutiku tadi malam. Surat kabar M bertengger lagi di tanganku.
Kubaca: “Dicari karyawan. Pria. Pendidikan minimal SLA. Sehat jasmani dan rohani. Berkemaluan keras”.
Saya kontan terpekik: “Wow, akhirnya datang juga, akulah yang dimaksudkan oleh iklan ini”. Kuteliti dan kutimbang-timbang jiwa ragaku. “Pasti. Ini bukan kelirumology tetapi pastilology”. Kusimak diriku lagi dan kupatikan: “Satu-satunya makhluk yang memenuhi kriteria itu adalah diriku”.
Sambil memanjakan suasana siulku melambung ke angkasa dan aku merasa telah berada di sana, sebab menurutku, ‘tidak saja keras tapi juga kuat’. Mari kawan, lihatlah, apakah mungkin kata yang ‘satu’ itu kelirumology? [blogberita.net]
Catatan dari kontributor:
KOMABA = Kota Madya Balikpapan
UR = Uang rokok
- Dian Sidauruk adalah pembaca sekaligus kontributor Blog Berita di Pulau Bali.
Kirim artikel ini ke teman
• Donasi • Hubungi Blog Berita

Kesalahan dalam pengetikan ternyata membawa bencana juga…ya begitulah Bahasa Indonesia!
[reply to this comment]
keliru saat mbaca blog ini. Andai iklan itu benerologi, kiranya bentuk interview seperti apa, karena parameter keras belum jelasologi

[reply to this comment]
salah tulis, jadi parah nantinya…
sebaiknya hal-hal sepele seperti ini tidak boleh diabaikan… karena akan mengakibatkan efek yang tak terduga..
[reply to this comment]
Horas laeku….
He…he…heh..
Ketawa-ketawa sendiri aku bah… (sambil takut2 ngetiknya, mana tau ntar lae perbaiki sendiri dalam hati.kan malu awak??)
Tapi semoga saja gak ada yang salah… bah..
segitu aja lah dulu sebelumnya ( kuteliti sekali lagi komentarku ini, setelah klick Kirim ternyata ada yang salah, “kuperbaiki dalam hati”.)
Horaslah…
[reply to this comment]
Satu lagi keliru eh pasti eh bener eh salah …pokoknya logis lah yaitu headline koran ibukota…”telah terjadi perkosaan dengan kekerasan”…wuah kalau nggak keras nggak memperkosa aja kan nggak bisa … apalagi mau memperkosa…ini kelirumologi atau malah betulologi…
[reply to this comment]