Di depan hakim, seorang terdakwa korupsi, pejabat Dinas Pendidikan Kabupaten Toba Samosir, menyebut ada jaksa dan wartawan yang memeras dirinya.
BALIGE; BLOG BERITA; JARAR SIAHAAN
Si terdakwa, NP, mengungkapkan hal itu dalam sidang pekan lalu di ruang Pengadilan Negeri Tarutung di Balige seperti diceritakan ulang oleh seorang wartawan suratkabar terbitan Medan kepada Blog Berita. “Masak dia [NP] bilang aku dikasih uang Rp3 juta,” kata si wartawan.
Dia menjelaskan, dalam sidang perkara korupsi NP, Ketua majelis hakim Saur Sitindaon bertanya kepada terdakwa ke mana sisa uang proyek yang dipimpinnya. NP menjawab, uang tersebut telah dibagikannya kepada sejumlah wartawan.
“Wartawan? Jangan tersinggung nanti wartawan, di sini banyak wartawan. Siapa?” kata hakim Sitindaon yang juga Ketua Pengadilan Negeri Tarutung.
Saat itulah NP menyebutkan dua nama wartawan. Yang satu ditudingnya menerima uang Rp3 juta, dan satu lagi meminta Rp30 juta. “Tapi saya tidak punya uang, lalu saya berikan proyek,” kata NP seperti diceritakan wartawan yang dituduh menerima Rp3 juta itu.
Selain wartawan, NP juga mengaku kepada majelis hakim bahwa ada seorang jaksa di Kejari Balige yang meminta uang darinya sebesar Rp150 juta. “Tapi tidak saya kasih, karena saya tidak punya uang,” katanya.
Sumber di Kejari Balige membantah tegas tudingan NP. “Nampak sekali dia bohong, nilai proyeknya cuma Rp90 juta, kok jaksa dituduh meminta Rp150 juta,” kata sumber, minta namanya tidak ditulis.
NP sendiri sudah ditahan sejak November 2007. Ia didakwa melakukan korupsi pada proyek keaksaraan fungsional. Berdasarkan penyidikan jaksa, proyek tersebut tidak dikerjakan sama sekali alias fiktif. Kasus korupsi NP pertama sekali ditemukan oleh sebuah LSM yang pengurusnya adalah wartawan, dan kemudian diadukan kepada Kejari Balige. [blogberita.net]

Artikel ini boleh dikutip HANYA JIKA disebutkan sumbernya www.blogberita.net DAN dibuat tautan-balik. Supaya tidak ketinggalan artikel terbaru, langgani RSS Feed, gratis!



















Mada ada orang Korupsi Ngaku….pastilah dia cari pembelaan atau alibi untuk membela diri….kalaulah amang Nasib tidak bersalah gak perlu takut….
kalaupun memang ada wartawan yang meras, salah sendiri, kok mau-maunya memberikan sejumlah uang yang diminta. sebenarnya, kalau dia pintar tak usah menyebutkan wartawannya, karena itu justru memberikan kesan bodoh pada diri sendiri. sebenarnya hakim duah tahu, vonis apa yang akan diberikan. karena ini sebenarnya menandakan kalau indikasi korupsi yang dilakukan itu ada. kenapa? karena dia takut diancam. orang yang benar adalah orang yang tidak takut dengan ancaman.
ga semua jaksa kog….
Yang haram saja susah dicari apalagi yang halal
Secara pribadi, saya percaya dengan pengakuan NP apalagi diucapkan di depan sidang.Apalagi, oknum-oknum jaksa yang menangani kasus-kasus berbau korupsi biasanya memanfaatkan kelemahan terdakwa untuk menangguk keuntungan pribadi. Oknum wartawan juga kadang ikut bemain dengan oknum jaksa untuk mandapatkan uang yang lebih besar.
Apa sebenarnya yg terjadi, hanya Tuhan-lah yg tau. Namum yg perlu kita cermati dan sadari,bahwa nilai-nilai luhur bangsa ini sudah semakin hilang .Semua pihak hanya memikirkan diri sendiri, dan memanfaatkan keadaan untuk memperoleh keuntungan . Memilih seseorang bukan lagi berdasarkan kemampuan dan latarbelakangnya, mengakibatkan kesalahan-kesalahan yg akan merugikan. Bgmn kita harus mencermati ini dan bgmn kita menemukan nilai-nilai luhur bangsa yg semakin hilang tsb ?