Batak arsitek masjid Istiqlal cuma tamat STM
Dia sahabat Bung Karno. Dia seorang Batak-nasrani. Dialah perancang masjid Istiqlal yang megah itu. Dia ngotot bikin Istiqlal dengan bahan-bahan mahal dari luar negeri supaya bisa ditempati seribu tahun.
MAJALAH TEMPO; BLOG BERITA; BALIGE
Artikel ini dikutip Blog Berita dari majalah Tempo pada salah satu edisinya tahun 2007.
Presiden Soekarno pernah ingin berkunjung ke rumah Friedrich Silaban, namun dicegah si empunya. ”Rumah saya gubuk,” begitulah kurang lebih Silaban beralasan. Pada saat itu, rumah miliknya di Jalan Gedong Sawah II/19, Bogor, memang masih sangat sederhana. ”Seorang maestro kok tinggal di gubuk. Apa kata dunia!” begitulah Soekarno menimpali.
Soekarno akhirnya memang berkunjung ke rumah Silaban tak lama setelah rampung pada 1958. Sang Presiden pun manggut-manggut. Dia tampak senang mengamati dan menikmati rumah sahabatnya itu. ”Dia sampai beberapa jam ngobrol dengan Bapak,” kata Panogu Silaban, anak Friedrich Silaban.
Sebagai arsitek, dalam setiap karyanya, Friedrich benar-benar memperhitungkan arah datangnya cahaya matahari, angin dan hujan. ”Karena, menurut dia, hujan itu merusak bangunan, maka gedung harus diberi ”topi”,” kata Yuswadi, seorang arsitek. Atap menjadi bagian yang sangat penting pada setiap karyanya. Silaban punya prinsip menggunakan materi yang kuat. Tulang-tulang rumah tidak hanya ditopang konstruksi beton, tapi juga baja yang biasa digunakan pada konstruksi pabrik sebagai tulang, penyambung, dan penopang bangunan. Tangga terbuat dari perpaduan baja dan kayu. Silaban ingin rumahnya bisa ditempati hingga 1.000 tahun.
Agar bagian dalam bangunan tetap dingin, cahaya matahari tidak boleh langsung menerobos, tapi angin harus tetap bebas mengalir. Seperti yang diterapkan di rumahnya, supaya cahaya tidak langsung masuk ke dalam rumah, dia membuat teritis-teritis lebar. Angin bebas mengalir lewat bukaan ventilasi yang berderet di bagian muka dan belakang rumah. Dialah yang mulai mempopulerkan kerawang beton cor, yang mampu menahan cahaya, tapi meloloskan angin.
Setiap kali Soekarno bertandang ke Istana Bogor, Silaban selalu diundang untuk sekadar sarapan bersama atau menonton film. Suatu ketika Bung Karno berniat menunjukkan calon lokasi stadion olahraga. Bertiga: Bung Karno, Silaban, dan pilot helikopter Letnan Kolonel Sumarsono, terbang berkeliling Jakarta. Saat melintas di kawasan Dukuh Atas, Soekarno mengatakan di situlah bakal dibangun stadion olahraga. Silaban tidak setuju dengan ide Bung Karno.
Menurut dia, pembangunan kawasan olahraga di Dukuh Atas bakal membuat Jalan Sudirman macet total. Dia juga meramalkan, masalah banjir tidak akan teratasi. Tanpa ragu dia mengutarakan ketidaksetujuannya kepada Bung Karno. ”Kalau Presiden mempertahankan lokasi Dukuh Atas itu, saya khawatir kelak anak-anak Guntur (putra Presiden Soekarno) akan nyeletuk: Kok kakek kami bodoh amat membuat kompleks stadion begitu,” kata Panogu mengutip ayahnya.
Ternyata Bung Karno tidak tersinggung. ”Ya, Presiden Soekarno yang salah dan Silaban benar.” Menurut Panogu, sikap Bung Karno itulah—suka pada orang jujur dan terbuka—salah satu yang dikagumi ayahnya. Terbukti kemudian, Soekarno mengikuti saran Silaban membangun kawasan olahraga di Senayan.
Masjid Istiqlal, masjid yang kini berdiri gagah di tengah Kota Jakarta, merupakan anak batin Silaban paling istimewa. Banyak sebabnya. Selain karena dia mendapat pengalaman baru: seorang nasrani merancang masjid, Silaban juga butuh waktu yang teramat panjang yang menguras seluruh pikiran dan tenaganya.
Hasil rancangan sudah siap sejak 1954. Tapi persiapan pembangunan molor hingga bertahun-tahun. Sepuluh tahun berselang, baru terjadi peletakan batu pertama. Hampir saja terjadi bencana. Gambar asli masjid sempat hilang. Untung masih ada kopinya. Empat belas tahun kemudian, pada 22 Februari 1978, Soeharto meresmikan masjid yang bernama Istiqlal atau Merdeka ini.
Ide pembangunan masjid berawal dari penyerahan kedaulatan dari Belanda pada 1949. Ketika itu Menteri Agama K.H. Wahid Hasyim mengusulkan membangun sebuah masjid bernapaskan semangat kemerdekaan. Tidak hanya berfungsi sebagai rumah ibadah tapi juga simbol negeri yang merdeka. Jadi, lokasinya harus terletak di tengah kota, di Taman Wilhelmina, tak jauh dari Lapangan Banteng.
Soekarno mendukung gagasan tersebut. Untuk menjalankan rencana itu dibentuklah Yayasan Masjid Istiqlal yang diketuai Anwar Cokroaminoto. Desain terbaik dicari dari lomba desain yang dibuka pada 1954. Tim juri terdiri dari Prof Ir Rooseno, Ir H. Djuanda, Prof Ir Suwardi, Hamka, H. Abubakar Aceh, dan Oemar Husein Amin. Ketuanya adalah Soekarno, yang juga seorang arsitek.
Setahun kemudian, didapatkan hasil. Dari 30 peserta, dewan juri memutuskan lima finalis, yakni Friedrich Silaban dengan tema ”Ketuhanan”, R. Oetoyo mengusung ”Istighfar”, Hans Groenewegen bertajuk ”Salam”, lima mahasiswa ITB bertema ”Ilham”, dan tiga mahasiswa ITB lainnya mengusung sandi ”Khatulistiwa”.
Silaban sendiri terkejut akan kemenangannya. Pada saat itu terjadi pergulatan batin yang keras. Pantaskah seorang Kristen ikut dalam perlombaan mendesain masjid. ”Saya berdoa saja, memohon petunjuk,” katanya seperti dikutip di Tempo ketika itu. Silaban pun menggondol hadiah Rp 25.000, jumlah yang tergolong besar ketika itu, namun habis untuk potong kerbau memenuhi permintaan teman-temannya.
Juri menganggap desain Silaban yang menerapkan prinsip minimalis menjadi salah satu unsur yang istimewa. Penataan ruang yang terbuka di kiri-kanan bangunan utama dengan tiang-tiang lebar, memudahkan sirkulasi udara dan penerangan alami, membuat desain Silaban sangat cocok untuk masjid yang berdaya tampung besar.
Ukuran Istiqlal memang serba ”berlebih”. ”Istiqlal adalah masjid dengan konsep grande,” kata Han Awal, seorang arsitek senior. Total luas lantainya 7,2 hektare atau sekitar tujuh kali luas lapangan sepak bola, luas atapnya 2,1 hektare. Kubah utamanya berdiameter 45 meter dengan berat 86 ton disangga 12 tiang setinggi 26 meter dengan garis tengah 2,6 meter. Tinggi menaranya 66,66 meter—melambangkan jumlah ayat dalam kitab suci Al-Quran. Istiqlal mampu menampung 100 ribu jemaah.
Silaban menolak menggunakan kayu dan tetap pada pilihan memakai stainless steel, baja tak berkarat. ”Ini bukan kegenitan, tapi saya sudah janji kepada rakyat bahwa bangunan ini akan tahan seribu tahun,” katanya ketika itu. Alhasil, biayanya menjadi besar.
Karya-karya Friedrich Silaban
* Gedung Sekolah Pertanian Menengah Pertama, 1951
* Kantor Dinas Perikanan Bogor, 1951
* Rumah Dinas Walikota Bogor, 1952
* Gerbang Taman Makam Pahlawan Kalibata, 1953
* Masjid Istiqlal, 1955
* Monumen Nasional, 1954-1960 (tidak terbangun)
* Rumah Pribadi Friderich Silaban, 1958
* Bank Indonesia, Jalan Thamrin, Jakarta, 1958
* Gedung BLLD, Bank Indonesia, Jalan Kebon Sirih, Jakarta, 1960
* Gedung BNI 1946, Jakarta, 1960
* Menara Bung Karno, Jakarta, 1960-1965 (tidak terbangun)
* Gedung BNI 1946, Medan, 1962
* Markas TNI Angkatan Udara, Jakarta, 1962
* Gedung Pola, Jakarta, 1962
* Monumen Pembebasan Irian Barat, Jakarta, 1963
* Rumah A Lie Hong, Bogor, 1968
* Gedung Universitas Nommensen, Medan, 1982
Begitu banyak gedung karya Silaban yang menjadi legenda. Namanya mewangi. Di manakah dia kuliah ilmu arsitektur? Lelaki tamatan sekolah dasar di Desa Narumonda ini, tulis Tempo, ternyata cuma mengenyam pendidikan tertingginya di sebuah STM di Jakarta; tak pernah sama sekali menjadi mahasiswa arsitektur!
“Aku seorang arsitek, tapi bukan arsitek yang biasa,” tulis Silaban kepada seorang pejabat Perserikatan Bangsa-Bangsa pada 1968 saat menawarkan jasanya. Hebat, menantang dengan penuh percaya diri. [www.blogberita.net]
Koneksi Internetmu lambat? Tak sempat tiap hari membaca web? Ini solusinya. ©Diizinkan mengutip artikel Blog Berita ini dengan syarat membuat tautan-balik.
Kirim artikel ini ke teman
• Donasi • Hubungi Blog Berita

Salah satu putra Batak yang sangat dibanggakan. Waktu kecil, bapak memberitahuku kalau yang menjadi arsitek mesjid Istiqlal adalah orang Batak bermarga Silaban. Dari saat itu lahir rasa banggaku terhadap kesuksesan halak hita yang melahirkan karya-karya luar biasa. Tak perlu gelar yang luar biasa tinggi untuk menghasilkan sebuah prestasi yang penting kemauan, semangat dan harapan.
[reply to this comment]
horas. Salut buat Silaban yang satu ini. Tapi ada info lain Keluarga Silaban ini berasal dari Desa Bonan Dolok Kecamatan Sijamapolang ,Kabupaten Humbang Hasundutan (sama dengan asal Bapakku). Rumah yang menunjukkan tempat asal mereka sekarang tidak terurus dan memang hanya sebuah gubuk!
[reply to this comment]
Friedrich Silaban memang hebat, bahasa sekarang
beliau adalah BATAK KEREN
@ JJ
HORAS Lae,
Sai lam tumajuna ma Partungkoan on ate
(Artinya Tetap Semangat)
[reply to this comment]
Blog Berita reply on 16 March 2008:
mauliate, lae, terima kasih.
[reply to this comment]
Hebat betul silaban ini ya? jadi terinspirasi aku untuk memiliki semangat seperti yang dimiliki silaban ini. Karena menurut aku semangat silaban inilah yang membuatnya mampu berkarya tanpa harus berlebihan merendahkan diri karena pendidikan cuma sebatas STM. Berarti kita semua dapat berkarya dan memberikan yang terbaik untuk negera ini, untuk Bangsa kita, Bahkan minimal untuk keluarga kita sendiri.
Singkatnya kita pasti bisa melakukan sesuatu yang bermanfaat. apapun dan dalam bentuk apapun dan sekecil apapun?? sekali lagi setidaknya untuk diri kita sendiri.
(Chat hingga berjam-jam kira2 pelu gak ya??)
He..he…
Horas!!!
[reply to this comment]
COngratulation!!bwat silaban.karya-karyamu untuk indonesia patut diancungi jempol.walaupun cuma luls STM,kamu sangat profesional.Aq sangat iri sama kamu.AQ Menjadi terinspirasi untuk memiliki jiwa kepribadian seperti kamu.Mudah-mudahan aja aq dapat mencontoh jasa-jasa kamu kepada bangsa indonesia kita yang tercinta.CAYOOOOO UNTUK SILABAN DAN BANGSA KITA……………….
[reply to this comment]
Dimana saya dapat membeli buku berjudul “rumah silaban” mohon informasinya.
terima kasih
[reply to this comment]
FPI TAIK SETAN…MATILAH KALIAN
FPI TAIK SETAN, MATEX XAN
FPI JANCOK
[reply to this comment]