Karena diberi sepedamotor dinas, tambahan penghasilan berupa insentif, dan diangkat jadi PNS.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Toba Samosir, FLP Sitorus, mengatakan hal itu kepada Blog Berita siang tadi di Balige, didampingi Kaseksi Kepegawaian Salonta Sitorus. Menurut FLP, tidak sedikit bidan desa [bindes] di Tobasa yang berasal dari luar daerah, seperti Medan, Pematangsiantar, dan Sidikalang.
Ditanya weblog ini apa yang membuat mereka tertarik bertugas di Tobasa, Kadis FLP mengatakan, “Intinya karena Pemkab memperhatikan mereka.” Antara lain karena para bindes mendapat insentif selain gaji dan tunjangan, serta diberi sepedamotor dinas. Juga sudah sebagian besar desa dibangun polindes, sehingga bindes tidak lagi harus menumpang atau ngontrak di rumah warga seperti selama ini. Obat-obatan juga lancar dipasok dari Dinas ke polindes. Tahun lalu Dinas Kesehatan pun memperjuangkan banyak bindes untuk diangkat jadi CPNS, dan berhasil diterima.
Perhatian Pemkab Tobasa itulah yang membuat banyak bidan dari luar tertarik melamar ke daerah ini. “Bahkan ada bidan di kecamatan terpencil, seperti di Nassau dan Borbor, yang mengajukan perpanjangan tugasnya di sana sampai dua kali, karena mereka merasa betah,” kata FLP Sitorus.
Menurut Salonta Sitorus, saat ini jumlah bindes di Tobasa hampir 300 orang. Pada tahun 2006 telah dibangun polindes baru sebanyak 34 unit dan pada 2007 dibangun lagi 31 unit. [blogberita.net]
Foto: FLP Sitorus [berdiri] bersama abang becak peserta Askes Tobamas. [Foto oleh Jarar Siahaan/Blog Berita]
Baca artikel lain:
- Blog Berita terpilih jadi ‘Click of the week’ Maverick Indonesia
- Wartawan CNN jadi bloger-solo jurnalis
- 22 sumber uang bagi bloger
- Web Pemkab Tobasa tidak menarik
- Empat media menulis tentang Blog Berita

Artikel ini boleh dikutip HANYA JIKA disebutkan sumbernya www.blogberita.net DAN dibuat tautan-balik. Supaya tidak ketinggalan artikel terbaru, langgani RSS Feed, gratis!



















Saran kepada Pak Jarar. Mohon kolom konsultasi kesehatan/masalah kesehatan masyarakat digalakkan. Banyak penulis di IDI Tobasa. Kebetulan mereka sudah pintar-pintar dan berkarya (kali terakhir saya dengar dan check, mereka juga tahan kritik dan senang dikritik dan juga senang mengkritik). He he he he he
FLP Sitorus (Ompu Birong)
Hitam tahan sinar matahari, tahan kritik dan tahan lopas, sanggup senang dan tahan menderita.
BLOG BERITA: terima kasih saran Pak FLP, akan kuusahakan menulis lebih sering isu-isu kesehatan, dan sebenarnya sudah sedang kulakukan. soal orang kesehatan yang tahan kritik, apalagi yang namanya “ompu birong”, dari zaman orde baru aku sudah tahu.
@ FLP Sitorus
Hitam-hitam ubi rebus, biarpun hitam banyak yang cari
Hitam2 opung Siorus, biarpun hitam intelek sekali
sok tahu kau lae……..
Ah, kalo soal ngomong op birong satu ini memang ga ada tandingannya, tapi nyatanya?
Bidan2 yang mau masuk ke Tobasa, sebaiknya berpikir ulang dulu kalau gak mau sport jantung tiap hari karena “sistem manajemen berbasis ondam-ondam” yang diterapkan kawan kita satu ini.
Soal sarana kesehatan? dimana2 juga sekarang kan memang lagi difokuskan pemerintah, jadi kebetulan aja pas zamannya op birong ini ada pembenahan, jadi seolah2 dia yang berjasa, padahal???
nah itu dia salahmu ito, di tobasa ini mesti digunakan sistem ondam2, buktinya selama beliau menjabat dinkes tobasa, sektor kesehatan jadi unggul di tobasa.
Sarana/prasarana, fasilitas dan akomodasi sudah lengkap, tinggal kita menunggu kemampuan/SDM mereka dilapangan dalam melayani Masyarakat serta monitoring dan evaluasi dari instansi terkait.
Wah, kalau yang begini ceritanya baru kita bangga dengan pemerintah Toabasa. Tapi jangan hanya Bindesnya aja yang diperhatikan, tapi lebih kepada masyarakat yang masih kurang mampu untuk mendapatkan pelayanan kesehatan karena terbentur masalah keuangan. Tapi dengan adanya Polindes, semoga semua golongan masyarakat hingga ke desa terpencil di Tobasa dapat berobat dan terciptalah masyarakat yang sehat….
Horas