Telegram gelap CIA untuk Jakarta

Atas usaha Seksi Muangthai kami berhasil mengetahui nama pejabat itu. Maka dikirimlah sebuah rencana dan dikawatkan ke Bangkok. Kami sarankan agar rumah yang ditanyakan oleh kawat palsu itu jumlahnya 200. Kami sadar, jumlah itu terlalu banyak.

Berikut ini adalah kelanjutan kisah yang dikutip BlogBerita.net dari buku Portrait of a Cold Warrior: G.P. Putnam’s Sons karya Joseph Burkholder Smith, bekas agen Central Intelligence Agency, terbitan 1976, yang juga pernah dimuat di majalah Tempo pada 1988.

cia1 Telegram gelap CIA untuk Jakarta

Di republik lain kawasan ini, Filipina, Amerika juga memainkan peranan sebagai kekuatan antikolonial. Kami telah menghadiahkan kemerdekaan kepada mereka jauh-jauh hari sebelum Perang Dunia II berakhir. Tapi negara baru ini juga sedang dirundung kemalangan. Yang utama tentu saja kenyataan bahwa pertempuran-pertempuran di negeri ini menjelang akhir Perang Dunia II sedemikian hebatnya. Jepang sepertinya tak ingin menyisakan sedikit pun wilayah itu ketika meninggalkannya. Dengan demikian, kerusakan-kerusakan akibat pertempuran diperhebat dengan kesengajaan Jepang untuk meludaskan apa saja.

Kota Manila hampir rata dengan tanah. Ditambah lagi ketidakbecusan para pemimpin yang mengalami kesukaran dalam menangani urusan-urusan administratif. Secara umum, keadaan di keenam negara wilayah itu mengalami kekacauan administratif, lantaran para pemimpin baru tak berpengalaman.

Problem utama yang dihadapi oleh pemerintah-pemerintah baru itu sama: mereka menghadapi ancaman kaum komunis yang tengah melancarkan perang gerilya. Dan itu semua membuat kami juga prihatin. Demikianlah yang saya baca dalam file-file tentang negeri-negeri tersebut.

Pada Februari 1948, Uni Soviet mensponsori pertemuan partai-partai komunis seluruh Asia di Kalkuta. Partai Komunis Australia juga turut hadir. Konperensi tersebut dipublikasikan dalam media massa kaum komunis. Pertemuan itu menyerukan agar “semua kekuatan antiimperialis bersatu untuk menentang penindasan imperialis dan kaum reaksioner di setiap negeri”. Menurut laporan itu, semua kekacauan dan kesukaran yang terjadi di Burma, Malaya, Filipina, dan Indonesia bersumber pada konperensi tersebut. Secara singkat, keadaan di dalam keenam negeri yang harus saya perhatikan itu tak begitu baik. Mereka bisa diumpamakan sebagai anak-anak di negeri miskin yang terancam oleh angka kematian tinggi. Dan, sebagaimana halnya dengan anak-anak semacam itu, mereka tak mendapat perawatan dan perhatian.

Tak lama kemudian, baru saya sadar bahwa saya ditinggalkan saja dengan anak-anak tiri itu. FE/3 Cabang Asia Tenggara tak mendapat perhatian cukup dari kepala divisi kami. Ia lebih banyak memperhatikan Cabang 1 (Jepang dan Korea) dan Cabang 2 (Cina). Baik tenaga maupun waktu sangat dikonsentrasikan pada kedua wilayah itu. Ke sanalah operasi-operasi terbesar dipelototkan. Memang benar, di kedua wilayah itulah drama perang dan revolusi sedang terjadi. Para pemimpin divisi itu sangat menginginkan agar peranan mereka punya dampak yang besar terhadap kedua wilayah itu.

Paul Linebarger adalah konsultan kami untuk masalah-masalah perang urat saraf di Asia Tenggara. Ia kerap memberikan kami seminar-seminar tentang perkembangan poleksosbud wilayah itu. Sering pula ia menasihatkan tentang langkah-langkah apa yang perlu kami ambil untuk mempengaruhi keadaan di sana.

Dalam salah satu seminarnya, Paul mendorong saya untuk mengusulkan pada Seksi Indonesia agar melancarkan sebuah operasi gelap terhadap negara itu. Itu dilaksanakan ketika ada info bahwa Indonesia dan Uni Soviet akan segera membuka hubungan diplomatik. Sebagai akibat operasi kami itu, pembukaan formal hubungan tersebut tertunda enam bulan.

Unsur-unsur Islam konservatif di Indonesia, kami tahu mendesak pemerintah agar mempertimbangkan kembali keputusan itu dan memperhatikan berapa orang Rusia yang akan tinggal di Jakarta atas dasar persetujuan dwipihak tersebut. Rencana operasi kemudian disusun oleh ahli perang urat saraf senior dan diperlihatkan kepada semua anggota Biro Klandestin agar meniadl suatu gerakan yang mulus.

Saya ingat betul, Uni Soviet memiliki kedutaan yang besar di Bangkok. Saya juga ingat bahwa OPC punya seorang agen kawakan Bob North di Bangkok, yang bekerja dengan topeng produser film. Saya yakin, ia akan senang membantu kami. Info yang didapat dari teman-teman yang bekerja untuk Seksi Indonesia mengatakan bahwa Jakarta mengalami kekurangan perumahan. Dan, pada kenyataannya, keadaan itu telah menyebabkan pos Jakarta tak begitu menarik buat agen-agen kami untuk ditempatkan di sana.

Dari keterangan-keterangan itu, saya menyarankan agar pos Bangkok mengatur supaya mengirim kawat palsu ke Jakarta. Kawat itu dibuat seolah-olah berasal dari petugas administratif Kedubes Soviet di Bangkok yang ditujukan kepada seorang pejabat Indonesia di Kementerian Luar Negeri. Isinya merupakan suatu permintaan agar petugas itu sudi mengatur untuk memperoleh perumahan buat staf Kedubes Soviet yang jumlahnya sangat besar.

Kebetulan Seksi Indonesia tahu nama petugas Indonesia itu. Jadi, yang kami perlukan sekarang hanyalah nama pejabat Kedubes Soviet di Bangkok. Tapi itu juga beres. Atas usaha Seksi Muangthai kami berhasil mengetahui nama pejabat itu.

Maka, dikirimlah sebuah rencana dan dikawatkan ke pos Bangkok kami. Kami sarankan agar rumah yang ditanyakan oleh kawat palsu itu jumlahnya 200. Kami sadar, jumlah itu terlalu banyak. Tapi kami juga tahu bahwa orang Indonesia sudah biasa melayani permintaan orang asing, paling tidak orang Amerika, yang meminta dan ingin melihat lebih dari satu rumah. Dengan demikian, walaupun jumlah itu terlampau besar, itulah yang kami inginkan. Kami yakin, jumlah itu tidak akan meleset dalam perhitungan kami orang-orang Indonesia akan mempercayainya.

Kami juga mendesak Bangkok agar tak ada pesan lain. Makin pendek kawatnya, makin besar kemungkinan untuk dipercaya. Pengumuman pemerintah Indonesia kemudian — mengenai segera dibukanya sebuah kedutaan Soviet — membawa kami pada kesimpulan tak perlu mengatakan apa-apa lagi. Pertimbangan lain, pada waktu itu Kedubes Soviet di Bangkok merupakan yang paling besar di Asia Tenggara. Dengan demikian, kami berkesimpulan bahwa pemerintah Indonesia akan berpendapat: logis saja kalau permintaan informasi administratif semacam itu datang dari Bangkok, tidak dari Moskow. Pada hemat kami, besar kemungkinan Indonesia akan berpikir, Moskow telah mendelegasikan persoalan itu kepada Bangkok. Karena Bangkok begitu dekat dengan Jakarta, dan karena besarnya Kedubes Soviet di sana, masuk akal kalau ia memiliki anggota staf yang mengurusi tetek bengek semacam itu.

Asumsi kami ternyata jitu. Pejabat Indonesia yang menerima telegram itu begitu kesal dan kaget. Ia menunjukkan itu kepada para pejabat lain, termasuk ke kalangan Islam konservatif yang saya terangkan di atas. [bersambung/ blogberita.net]

Artikel sebelumnya:

Koneksi Internetmu lambat? Tak sempat tiap hari membaca web? Ini solusinya. ©Diizinkan mengutip artikel Blog Berita ini dengan syarat membuat tautan-balik.
Kirim artikel ini ke teman Kirim artikel ini ke teman Donasi Hubungi Blog Berita

One Response to “Telegram gelap CIA untuk Jakarta”

  1. ternyata tidak begitu “tolol” ya CIA

    [reply to this comment]

Tulis komentar pada kolom di bawah

Tampilkan artikelmu di Blog Berita: berbentuk opini, feature, berita, tips unik, atau cerpen.