CIA menyadap telepon Bung Karno

“Bersama dengan saya di sini ada tiga pramugari Panam yang cantik-cantik, dan mereka bersedia berpesta-pora dengan saya,” kata Soekarno pada Presiden Gamal Abdul Nasser.

Artikel bagian ke-4 dari kutipan buku Portrait of a Cold Warrior: G.P. Putnam’s Sons karya Joseph Burkholder Smith, bekas agen Central Intelligence Agency, terbitan 1976, yang juga pernah dimuat majalah Tempo pada 1988.

Desmond Fitzgerald mengatakan akan menemani saya ke pertemuan Komisi Pertimbangan Proyek — suatu badan tingkat tinggi yang meninjau dan mempertimbangan rencana-rencana yang memerlukan biaya 100.000 dolar ke atas. Proyek itu akan diperbarui berdasarkan hasil perjalanan kami, yang akan mengadakan reorganisasi kegiatan. Atas dasar langkah itu, toko buku tersebut akan segera berdiri. Fitzgerald berpesan agar saya membuat rencana dan persiapan matang, karena kemungkinan besar Allan Dulles, itu Direktur CIA, akan hadir dalam pertemuan tersebut.

Di sebuah dokumen tentang proyek toko buku yang ada dalam file, saya baca: perlunya posisi samaran yang tak resmi di Indonesia, dengan potensi operasionalnya yang memungkinkan merekrut orang di kalangan pers dan politik. Dan itu bisa dilakukan oleh anggota-anggota staf pada toko buku tersebut. Hal-hal tersebut di atas bisa dieksploatasi bukan saja untuk maksud-maksud perang psikologis, tapi juga untuk memenuhi kebutuhan intelijen akan laporan keadaan.

Lalu kami bertemu dengan komite, tapi ternyata Allen Dulles tak hadir. Rapat dipimpin oleh Asisten Khusus Richard Helm, dan pertemuannya sangat singkat. Fitzgerald mengajukan usulan kami dan Helm menjawab, “Saya kira, kami tak dapat memberi kalian masa perpanjangan satu tahun. Kami setuju untuk mengeluarkan 10.000 dolar buat biaya perjalanan berdua, tapi kami hanya akan memberi kalian waktu tiga bulan untuk menyusun sebuah rekomendasi.” Pertemuan itu berakhir, dan saya tak diminta mengatakan satu patah kata pun.

Dengan demikian, sampailah saya di Jakarta pada musim panas 1953. Dokumen-dokumen perjalanan saya menyatakan saya sebagai wakil perusahaan New York itu. Saya datang dengan menggunakan KLM lewat Amsterdam, agar tak disangka sebagai pejabat pemerintah Amerika yang harus naik pesawat Amerika. Direktur perusahaan New York itu mengadakan perjalanan terpisah, dan kami bertemu di Jakarta. Ia datang lewat Tokyo, Taipei, Saigon, Hong Kong, Bangkok, dan Singapura. Ia menjadikan itu suatu perjalanan keliling dunia dengan kembali via Eropa. Katanya, itu baik untuk penyamaran dirinya dan penyamaran operasinya sendiri. Ia bersikeras mengatakan, lebih banyak tempat yang ia singgahi akan membuatnya seolah-olah seorang wakil suatu perusahaan raksasa dengan kepentingannya yang tersebar di seluruh dunia. Dan tentu saja menyembunyikan fakta bahwa ia hanya memasok sebuah toko buku kecil di Indonesia.

Jakarta pada 1953 dicirikan oleh keadaan bahwa segala sesuatu tak berjalan baik. Aliran listrik lebih sering mati, sistem telepon buruk, makanan busuk di lemari es yang rusak, kipas angin di langit-langit copot, dan malah kelambu pun banyak lubang besarnya. Pusat kehidupan lebih banyak di sekitar kali, saluran air yang mengalir di tengah kota. Para penduduk kota sebagian besar setiap harinya bisa ditemui di sekitar kali itulah. Mereka menggunakan kali untuk mengambil air minum, mencuci pakaian, mandi, dan juga WC umum.

Ketika sudah terbiasa dengan kejutan budaya dan menceret setiap hari, barulah saya bisa mengerjakan tugas sebenarnya. Setelah tiga minggu ditemani oleh “direktur” New York dan melihat sendiri toko buku tersebut, saya menarik kesimpulan bahwa salah satu perbaikan atas proyek itu adalah dengan menghilangkan “perusahaan” di New York. Dengan demikian, kami akan dapat menekan biaya pengeluaran yang berlebih-lebihan.

Lebih dari kesimpulan di atas, saya sekarang dapat mengerti macam apa sebenarnya orang Indonesia itu. Pengertian itu saya dapatkan dari percakapan dengan seorang penulis politik yang menjadi konco usaha kami, dan juga dan orang-orang yang diperkenalkannya kepada saya. Di samping itu, tentu saja dan pengalaman saya tinggal di Jakarta untuk beberapa pekan.

Kesimpulan itu mungkin saja datang dan plklran yang merasa lebih tinggi sebagai orang Amerika. Tapi selagi berjalan di teras hotel dengan membawa handuk dan jubah mandi menuju ke satu-satunya kamar mandi di hotel itu saya berpikir bahwa Amerika tak ‘kan dapat mengkomunikasikan sistem nilainya kepada mereka. Bahkan Amerika jangan berusaha untuk itu. Mereka tak keberatan mandi dengan cara menciduk air yang ada di bak pojok kamar mandi. Kemiskinan merupakan cara hidup yang telah dipelajari oleh nenek moyang mereka, dan mereka pun mengajarkan itu ke generasi berikutnya.

Selagi saya menciduk air dingin yang merasuk ke tulang, terdengar suara gamelan — versi Indonesia alat musik xylophone — dan nyanyian terdengar dari keremangan. Mereka tak akan punya waktu buat membaca buku-buku antikomunis. Barangkali lebih baik kami memperkenalkan sistem pengaliran air kami untuk mandi dan minum. Barangkali mereka sendiri akan menemukan cara mereka sendiri untuk melemparkan ideologi asing seperti komunisme keluar negeri mereka sendiri.

Ada lagi hasil lain dari tinggal di Jakarta selama enam minggu itu. Saya memutuskan bahwa saya tak akan mau ditempatkan di sana. Dan yang lain: isi perut (gastrointestinal) saya sudah berubah.

Begitu kembali ke Washington kami menuliskan ulang proyek. Kami menghapuskan kantor New York yang demikian mahal pengoperasiannya. Untunglah, Kantor Penerangan Kedutaan Besar Amerika (USIS) melancarkan sebuah program untuk menyumbangkan buku di seluruh Asia, dan dengan demikian mengatasi masalah keuangan kami. Kami menghapuskan proyek tersebut, tapi petugas muda yang mengurus pengiriman buku di Jakarta beruntung. Ia mendapat pengalaman berharga dan berhasil memperoleh pekerjaan sah di sebuah perusahaan penerbitan di Amerika.

Ketika saya kembali, CIA sedang mencari-cari seseorang untuk ditempatkan di Singapura buat menggantikan orang yang telah selesai tugasnya sebagai kepala OPC di sana. Pengalaman yang baru saya dapat mendorong saya untuk melamar, sebelum orang-orang itu berpikir bahwa tugas sementara saya di Jakarta merupakan pertanda saya akan ditugasi secara tetap di sana. Akhirnya, disetujui saya akan ditempatkan di Singapura.

Lima granat dilemparkan membunuh Bung Karno
Ketika saya sedang terlibat dalam operasi tersebut, seseorang ternyata telah mencoba membunuh Soekarno. Pada 30 November 1957 malam, ketika ia akan meninggalkan bazar yang diselenggaraan dua anaknya, lima buah granat dilemparkan ke arah rombongannya. Ia selamat, tapi sepuluh orang tewas dan 48 anak luka parah oleh ledakan granat itu.

Kami tak tahu siapa yang melakukannya, dan berharap itu tak dilakukan oleh para kolonel separatis yang kami dukung. Untunglah, bukan mereka dalangnya, karena ternyata pelemparan granat itu dilakukan oleh golongan Islam fanatik Darul Islam. Kami tak bermaksud mencelakakan Soekarno, lantaran kami tak yakin siapa yang akan memerintah Indonesia apabila ia tiada. Yang kami inginkan hanyalah agar ia mengubah arah politiknya yang makin mlring ke kiri.

Soekarno mengeksploatasi percobaan pembunuhan itu sebagai bahan untuk menyerang Belanda. Ia menuduh Belanda berada di belakang usaha pembunuhan itu. Hanya dalam beberapa hari di bulan Desember, semua warga Belanda diusir, segala hak milik perusahaan Belanda disita, dan malah hak KLM untuk terbang ke Indonesia dicabut.

Setelah puas dengan kampanye untuk menyerang Belanda, di akhir Desember 1957 ia mengumumkan akan mengadakan perjalanan lawatan ke luar negeri, yang diberinya nama: “beristirahat dan konsultasi persahabatan”. Agen kami, Curly, melaporkan bahwa apa yang kami harap-harapkan segera akan terjadi. Ia yakin, dengan pemisahan Sumatera dan beberapa pulau lain, pemerintah pusat di bawah Soekarno akan lemah. Dan ancaman yang diajukan para kolonel akan membuat Soekarno tak berkutik dan mengikuti kemauan mereka.

Para kolonel itu sedang mempersiapkan ancaman yang akan diajukan pada Soekarno, dan untuk itu mereka bekerja sama dengan pemimpin-pemimpin Masyumi. Ketika Soekarno telah meninggalkan Jakarta, golongan pembelot akan menuntut agar perdana menteri diganti dan akan dibentuk kabinet baru di bawah Hatta dan Sultan Yogya.

Tampaknya, Soekarno tak begitu sadar akan gentingnya keadaan dan terus mempersiapkan perjalanannya yang akan berlangsung selama lima minggu. Ia akan mengunjungi Timur Tengah, Mesir, kemudian Yugoslavia, kembali lagi ke Timur Tengah, dan mampir di Syria untuk kemudian ke Pakistan dan akhirnya Jepang. Kami memerintahkan semua stasiun CIA di tempat-tempat yang dikunjunginya agar mengikuti gerak-geriknya. Para operator di stasiun itu harus berusaha mengetahui apa yang dikatakan Soekarno kepada para pemimpin negara yang dikunjunginya. Yang khusus harus diperhatikan apakah ia mengadakan kontak dengan agen-agen Soviet.

Soekarno meninggalkan Jakarta pada 6 Januari 1958, setelah mengatakan bahwa keadaan negara akan aman tenteram selama ditinggalkannya. Malah, juru bicara resmi angkatan bersenjata mengeluarkan pernyataan setia kepada presiden dan panglima tertingginya.

Para agen di setiap stasiun telah diberi perintah untuk menyadap percakapan telepon Soekarno dan rombongannya. Tapi yang berhasil melakukan itu hanyalah stasiun kami di Kairo. Laporan-laporan berupa telegram datang bertubi-tubi dari Kairo, tapi tidak ada yang penting. Namun, kami tahu bahwa Presiden Gamal Abdul Nasser, buat ukuran Soekarno, adalah seorang yang pemalu.

Begitu masuk ke kamar hotelnya, langsung saja Soekarno menelepon Nasser. Ia mengucapkan salam dengan hangat dan penuh semangat, dan serta-merta mengundang Nasser untuk datang ke kamar hotelnya. “Bersama dengan saya di sini ada tiga pramugari Panam yang cantik-cantik, dan mereka bersedia berpesta-pora dengan saya,” kata Soekarno. [bersambung/ blogberita.net]

Artikel CIA sebelumnya:

Koneksi Internetmu lambat? Tak sempat tiap hari membaca web? Ini solusinya. ©Diizinkan mengutip artikel Blog Berita ini dengan syarat membuat tautan-balik.
Kirim artikel ini ke teman Kirim artikel ini ke teman Donasi Hubungi Blog Berita

Tulis komentar pada kolom di bawah

Tampilkan artikelmu di Blog Berita: berbentuk opini, feature, berita, tips unik, atau cerpen.